logo2

ugm-logo

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Laut Lebong Bengkulu, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

SinPo.id -  Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Lebong, Bengkulu, pada Sabtu malam 7 Maret 2026. Getaran gempa dilaporkan berpusat di laut dengan kedalaman 47 kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan gempa tersebut terjadi pada pukul 23.58.45 WIB.

“Mag: 5.7, 07-Mar-26 23:58:45 WIB,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

BMKG mencatat pusat gempa berada pada koordinat 2,99 Lintang Selatan dan 101,63 Bujur Timur. Hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut.

BMKG juga memastikan gempa yang terjadi di wilayah perairan Lebong tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Penjelasan Magnitudo Gempa

Magnitudo merupakan ukuran untuk menentukan kekuatan gempa bumi yang dihitung dari amplitudo gelombang seismik yang direkam oleh alat seismograf. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh seismolog Amerika, Charles F. Richter dan Beno Gutenberg pada 1935 melalui skala yang dikenal sebagai Skala Richter.

Pada skala tersebut, setiap kenaikan satu tingkat magnitudo menunjukkan peningkatan kekuatan getaran hingga 10 kali lipat. Selain itu, energi yang dilepaskan gempa juga meningkat sekitar 31 kali lebih besar dari tingkat sebelumnya.

Namun dalam praktik modern, pengukuran kekuatan gempa kini lebih banyak menggunakan Skala Magnitudo Momen (Moment Magnitude Scale/Mw) yang dinilai lebih akurat dalam menghitung total energi yang dilepaskan oleh gempa bumi besar.

Banjir di PLBN Motaain, Petugas RI–Timor Leste Bersinergi Pulihkan Kawasan Perbatasan

Belu, Nusa Tenggara Timur – Aktivitas pelayanan lintas batas di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain yang dikelola oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP RI) sempat terhambat akibat banjir yang terjadi di wilayah Silawan (Indonesia) dan Batugade (Timor Leste), Minggu (8/3/2026).

Curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat dan membawa material berupa kayu, ranting, serta lumpur hingga menumpuk di bawah jembatan yang berada di kawasan perbatasan.

Tumpukan material tersebut menghambat aliran air sehingga menyebabkan luapan yang membawa endapan lumpur hingga ke area sekitar pos perbatasan.

Kondisi ini mengakibatkan sebagian jalur akses dan area pelayanan di sekitar PLBN Motaain perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum aktivitas lintas batas dapat kembali berjalan normal.

Menanggapi kondisi tersebut, petugas dari kedua negara bergerak cepat melakukan penanganan di area masing-masing. Proses pembersihan dilakukan dengan mengangkat serta memotong material kayu dan ranting yang tersangkut di bawah jembatan agar aliran air kembali lancar serta mencegah terjadinya luapan lanjutan.

Kepala PLBN Motaain, Maria Fatima Rika, menyampaikan bahwa penanganan dampak banjir dilakukan melalui koordinasi yang baik antara petugas di perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

“Material kayu dan ranting yang terbawa arus air sempat menumpuk di bawah jembatan sehingga menghambat aliran sungai dan menyebabkan luapan lumpur ke area sekitar perbatasan. Saat ini petugas dari kedua negara telah bekerja sama melakukan pembersihan agar kondisi jalur perlintasan kembali aman dan dapat digunakan oleh masyarakat,” ujar Maria.

Koordinasi antara otoritas perbatasan Indonesia dan Timor Leste terus dilakukan selama proses penanganan berlangsung sebagai bentuk kerja sama kedua negara dalam menjaga kelancaran aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan.

Sebagai pengelola kawasan perbatasan negara, BNPP terus bersinergi dengan lintas instansi serta memperkuat kerja sama antarnegara guna memastikan pelayanan lintas batas tetap berjalan aman, tertib, dan optimal bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah perbatasan.

Penulis: Yohanes M. V. Uran

sumber: https://bnpp.go.id/berita/banjir-di-plbn-motaain-petugas-ri-timor-leste-bersinergi-pulihkan-kawasan-perbatasan

More Articles ...