logo2

ugm-logo

132 KK Terdampak Banjir di Tiga Kecamatan, di Jember

Jember, 5 Maret 2026 – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Jember sejak Senin malam, 2 Maret 2026, telah surut sepenuhnya hingga Rabu, 4 Maret 2026. Banjir yang dipicu hujan intensitas ringan hingga lebat tersebut berdampak pada 132 kepala keluarga atau 453 jiwa di tiga kecamatan, yaitu Rambipuji, Kaliwates, dan Panti. Pemerintah Kabupaten Jember melalui BPBD, Damkar, Dinas Sosial, serta berbagai instansi terkait terus melakukan penanganan terpadu, mulai dari evakuasi sementara, distribusi bantuan, hingga pembersihan pascabencana.

Penyebab dan Dampak Banjir

Hujan lebat yang berlangsung dari pukul 13.30 WIB hingga 20.30 WIB pada Senin, 2 Maret 2026, menyebabkan peningkatan debit Sungai Dinoyo, Kaliputih, Badean, dan Kalijompo. Sekitar pukul 18.30 WIB, air sungai meluap ke permukiman warga dengan ketinggian genangan 40–70 cm disertai lumpur berwarna cokelat. Di Kecamatan Rambipuji, dampak terbesar terjadi di Desa Gugut (Dusun Krajan RT 03 RW 11) dengan 45 KK atau 170 jiwa terdampak, diikuti Desa Rambi Gundam dan Desa Rambipuji. Di Kecamatan Kaliwates, genangan melanda Kelurahan Jember Kidul (Kampung Ledok) sebanyak 30 KK atau 90 jiwa serta Kelurahan Kepatihan, termasuk dua rumah yang bagian belakangnya tergerus banjir. Sementara di Kecamatan Panti, luapan air sungai menggenangi rumah warga dan menutup akses jalan perkebunan di Desa Suci, disertai material tanah, kayu, ranting, dan sampah.

Dampak banjir mencakup tiga rumah rusak ringan—satu di Desa Gugut akibat tembok dapur roboh dan dua di Kelurahan Kepatihan—serta dua fasilitas umum terendam, yaitu Musholla Sabilillal Muttaqien dan PAUD Pendidikan Satrian. Kelompok rentan yang terdampak meliputi 20 balita/bayi, 22 lansia, dan satu ibu hamil.

Evakuasi dan Penanganan Darurat

Sebanyak 111 jiwa sempat mengungsi di tiga titik pengungsian di Kecamatan Rambipuji, yaitu Mushollah P. Sutari (93 jiwa), Mushollah H. Taib (12 jiwa), dan Rumah Eka di Kaliputih (6 jiwa). Seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing pada Senin malam pukul 22.00 WIB setelah kondisi dinyatakan aman.

Penanganan dilakukan secara terkoordinasi oleh BPBD Kabupaten Jember bersama Muspika, TNI/Polri, PMI, Dinas Sosial, perangkat desa, Destana, Tagana, relawan, dan warga. Distribusi logistik mencakup sembako APBD dan provinsi, tambahan gizi, matras, selimut, lauk pauk, makanan siap saji, kompor, peralatan masak, serta perlengkapan kebersihan. Destana menyalurkan 200 nasi bungkus, sementara pada Selasa, 3 Maret 2026, BPBD mendistribusikan empat unit tandon air dan PMI menyalurkan 5.000 liter air bersih bagi warga terdampak.

Sumur Bor dan Sanitasi Penyintas Bencana Sumatera Perlu Diperbanyak

Jakarta - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus menambah fasilitas sumur bor dan sanitasi mandi, cuci, kakus (MCK) di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Berdasarkan data Satgas PRR per 26 Februari, dari total 72 unit MCK yang ditargetkan dibangun di Aceh, sebanyak 54 unit telah selesai. Sementara di Sumatera Utara, dari 139 unit MCK yang direncanakan, 128 unit telah rampung dibangun. Adapun di Sumatera Barat, dari 46 unit MCK yang ditargetkan, 21 unit telah selesai dibangun.

Untuk pembangunan sumur bor, Satgas PRR mencatat progres signifikan di sejumlah wilayah. Di Aceh, dari 578 sumur bor yang direncanakan, sebanyak 369 unit telah dibangun. Di Sumatera Utara, dari 152 sumur bor yang ditargetkan, 84 unit telah selesai. Sedangkan di Sumatera Barat, dari 107 sumur bor yang direncanakan, 21 unit telah rampung dibangun.

Secara keseluruhan, pembangunan MCK telah mencapai 208 unit atau sekitar 80 persen dari total 257 unit yang ditargetkan di wilayah bencana Sumatera. Sementara pembangunan sumur bor telah mencapai 474 unit atau sekitar 56 persen dari total 836 unit yang ditargetkan.

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian mengatakan pembangunan sumur bor dan fasilitas MCK darurat terus dipercepat untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas bencana. Upaya ini dilakukan guna mencegah krisis kesehatan serta mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana di Sumatera.

Tito juga mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang telah bergotong royong membangun fasilitas air bersih dan sanitasi di berbagai titik bencana. Menurutnya, kebutuhan air bersih dan MCK menjadi hal yang sangat mendesak mengingat jaringan air dan sanitasi mengalami kerusakan akibat bencana longsor dan banjir yang melanda Sumatera pada akhir tahun lalu.

"Terima kasih banyak kepada PLN, Danantara, Kementerian ESDM ada pembuatan sumber bor dan MCK ada untuk MCK 80%, sumur bornya masih perlu banyak 56% masih baru 474, karena ini ada masalah air minum, jaringan-jaringan yang putus," kata Tito, dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3/2026).

Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dan dihadiri sejumlah menteri koordinator, antara lain Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, serta Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.

Turut hadir pula Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy dan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Sarah Sadiqa. Sementara itu, sejumlah pejabat hadir secara virtual, di antaranya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria.

Baca artikel detiknews, "Sumur Bor dan Sanitasi Penyintas Bencana Sumatera Perlu Diperbanyak" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-8378417/sumur-bor-dan-sanitasi-penyintas-bencana-sumatera-perlu-diperbanyak.

More Articles ...