logo2

ugm-logo

Mengapa Semarang Semakin Sering Banjir? Ini Penjelasan Dosen Teknik Geologi UNDIP

Semarang (20/3) – Sebagai salah satu kota pesisir, Kota Semarang sering dilanda banjir ketika hujan tiba. Tingginya curah hujan pada beberapa waktu terakhir membuat warga banyak bertanya, apakah banjir ini disebabkan oleh hujan saja, atau ada perubahan iklim dan alam yang mengancam kehidupan manusia di baliknya?

Menurut Anis Kurniasih, S.T., M.T. dari Departemen Teknik Geologi Undip, salah satu penyebab banjir memang adalah perubahan iklim. Namun, fenomena banjir ini tidak hanya karena iklim saja. Analisis terhadap pergeseran garis pantai menunjukkan bahwa ada potensi abrasi dan akresi di pesisir yang menyebabkan permukaan air laut semakin tinggi, sehingga banjir rentan terjadi.

“Kajian yang sudah dilakukan oleh para peneliti itu sebenarnya sudah cukup banyak dan rata-rata menyebutkan bahwa penyebab banjir salah satunya adalah isu perubahan iklim…itu salah satunya bisa kita mitigasi atau bisa kita identifikasi dari pergeseran garis pantai, yang kita menyebutnya abrasi atau akresi,” ujarnya.

Dalam Kentongan RRI Pro 1 Semarang edisi Rabu, 22 Oktober 2025, Anis menjelaskan bahwa perubahan iklim memang menyebabkan pergeseran garis pantai. Akan tetapi, fenomena ini bisa berbeda-beda di tiap daerah. Kondisi alam yang ada di sekitar pantai menyebabkan potensi banjir yang muncul di tiap daerah pesisir bisa berbeda-beda satu sama lain.

“Pemicu utamanya memang perubahan iklim, tapi satu lagi faktor pengontrol secara lokal, ada kondisi di daerah masing-masing. Diantaranya misalnya sedimentasi lokal. Jadi misalnya ada satu bagian sungai yang input sedimennya cukup banyak ke arah laut, itu justru menyeimbangkan,” tambahnya.

selengkapnya: https://undip.ac.id/post/55621/mengapa-semarang-semakin-sering-banjir-ini-penjelasan-dosen-teknik-geologi-undip.html

Goncangannya lama, kepala sampai puyeng' – Kesaksian WNI saat gempa 7,7 guncang Jepang

Peringatan tsunami di pesisir Timur Laut Jepang telah diturunkan menjadi imbauan (advisory). Namun, aplikasi peringatan darurat NERV menegaskan warga tetap disarankan untuk tidak kembali ke pesisir dan menghindari perairan besar hingga imbauan resmi dicabut.

Pemerintah Jepang bahkan mengeluarkan perintah evakuasi setelah peringatan tsunami awal.

Sekitar 156.000 orang di lima prefektur diminta meninggalkan rumah mereka.

Sebelumnya, otoritas Jepang telah menurunkan status peringatan tsunami di pesisir timur laut menjadi imbauan (advisory).

Menurut Badan Meteorologi Jepang, terdapat tiga tingkatan peringatan tsunami:

  • Tsunami Advisory: tingkat paling rendah, dikeluarkan untuk gelombang di bawah 1 meter. Warga diminta segera keluar dari laut dan meninggalkan kawasan pesisir.
  • Tsunami Warning: tingkat kedua tertinggi, dikeluarkan bila diperkirakan gelombang mencapai hingga 3 meter. Warga di wilayah ini harus segera mengungsi dari pesisir dan tepi sungai menuju tempat lebih tinggi atau bangunan evakuasi.
  • Major Tsunami Warning: tingkat tertinggi, dikeluarkan bila diperkirakan gelombang lebih dari 3 meter akan menghantam berulang kali.

Meski status peringatan telah diturunkan, otoritas menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena gelombang kecil sekalipun bisa berbahaya.

Awalnya, otoritas Jepang memperingatkan kemungkinan datangnya gelombang tsunami kedua yang lebih besar setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang kawasan lepas pantai Timur Laut negara itu.

Gelombang pertama setinggi 40cm sebelumnya tercatat di Pelabuhan Miyako, Prefektur Iwate.

selengkapnya https://www.bbc.com/indonesia/articles/c4glw4wze2ko

More Articles ...