logo2

ugm-logo

Godzilla El Nino: Kekeringan dan Ancaman Krisis Pangan

Jakarta, 10 April 2026 - Fenomena Godzilla El Nino yang terjadi saat ini menyebabkan kondisi kekeringan yang tinggi dan panjang. Hingga Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7% dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei dan Juni 2026. Menurut analisa WALHI, terdapat beberapa wilayah yang mengalami kekeringan sedang, berat dan bahkan ekstrem. Wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan saat El Nino berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan.

Musdalifah, Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional WALHI menyampaikan “ketika terjadi El Nino kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen dan mengalami krisis pangan”. 

Di sisi lain, sistem pangan di Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025, menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan. 

“Paradigma pembangunan hari ini yang ekstraktif dan eksploitatif telah menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya, termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang notabenenya merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan” kata Musdalifah.

Kekeringan dan fenomena El Nino memberikan dampak serius terhadap produksi pangan di Indonesia, terutama melalui penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan. Secara historis, El Nino pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996. Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional. Sementara, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, Badan Pangan Nasional, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama komisi IV DPR RI, bahwa Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton perhari.

Ifha juga menambahkan “dalam konteks pemenuhan hak atas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya bicara soal ketersediaan, tetapi juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat khususnya kelas ekonomi ke bawah bahkan miskin dapat menjangkaunya, serta memastikan kelayakan pangan untuk dikonsumsi”

Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan bahwa hak atas pangan yang layak terwujud jika setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau dalam bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap pangan yang layak atau cara untuk pengadaannya. Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alam ataupun bencana lainnya.

Gempa 7,6 Magnitudo Guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami

Samarinda – Masyarakat di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dikejutkan oleh guncangan gempa tektonik berkekuatan besar pada Kamis (2/4/2026) pagi. Gempa bermagnitudo 7,6 yang berpusat di laut ini sempat memicu aktivasi peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan data rilis terbaru BMKG, gempa terjadi pada pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA. Episenter gempa terletak pada koordinat 1,25 LU dan 126,27 BT, tepatnya berlokasi di laut pada jarak 129 kilometer arah Tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 62 kilometer.

Guncangan terasa sangat kuat di Ternate dengan skala intensitas V-VI MMI, di mana warga melaporkan benda-benda berat bergeser dan sebagian besar penduduk berhamburan keluar rumah. Sementara di Manado, guncangan dirasakan pada skala IV-V MMI.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG mengonfirmasi bahwa instrumen deteksi sempat mencatat adanya kenaikan permukaan air laut meski dalam skala kecil. Di wilayah Halmahera Barat, tsunami setinggi 0,3 meter terdeteksi pada pukul 07.08 WITA, disusul wilayah Bitung dengan ketinggian 0,2 meter.

Hingga pukul 07.30 WITA, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) yang terus terjadi, dengan kekuatan terbesar mencapai Magnitudo 5,5.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bangunan yang terdampak guncangan. BMKG juga meminta warga untuk menjauhi bangunan yang retak dan selalu memantau informasi resmi guna menghindari hoaks terkait potensi tsunami susulan.

(Sf/Rs)

sumber https://seputarfakta.com/nasional/gempa-7-6-magnitudo-guncang-sulawesi-utara-dan-maluku-utara-bmkg-sempat-keluarkan-peringatan-tsunami-17660

More Articles ...