RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Fenomena banjir besar yang terjadi pada tahun 2025 lalu di Aceh dipicu oleh anomali cuaca yang tidak biasa, termasuk meningkatnya suhu permukaan laut. Hal ini disampaikan oleh Attiya Shakila Giananti, Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Malikussaleh.
Ia menjelaskan, suhu laut di perairan Aceh saat itu mencapai lebih dari 29 hingga 30 derajat Celsius, yang menjadi “bahan bakar” terbentuknya awan badai dan siklon tropis.
Secara teori, siklon tropis jarang terjadi di wilayah ekuator seperti Aceh karena lemahnya gaya Coriolis. Namun, kondisi anomali membuat fenomena tersebut tetap bisa terjadi.
“Ini menjadi pengingat bahwa dinamika atmosfer sedang berubah dan bisa menjadi lebih destruktif dari yang selama ini kita kenal,” ujarnya.
Menurut Attiya, kejadian tersebut menjadi titik balik penting bagi BMKG untuk terus meningkatkan sistem pemantauan dan peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana.
sumber: rri.co.id

