logo2

ugm-logo

Blog

Penanganan Bencana Harus Komprehensif

LURAH, camat, dan seluruh warga Jakarta diingatkan untuk tetap mengantisipasi adanya potensi gerakan tanah atau longsor pada saat curah hujan di atas normal selama Juli 2025. "Pada zona menengah dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji, Sabtu (12/7).

Menurut informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), beberapa wilayah di Jakarta berpotensi terjadi gerakan tanah berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dan peta prakiraan curah hujan bulanan dari BMKG.

Dia meminta camat dan lurah beserta masyarakat aktif mengecek kondisi wilayah masing-masing, terutama yang berdekatan dengan aliran sungai dan terdapat tebing atau gawir. Antisipasi lainnya yang dapat dilakukan ialah membuat beronjong dan turap mandiri, 

selengkapnya https://epaper.mediaindonesia.com/detail/a-12349

Pemkot Palu dan Pemkot Iwanuma Jepang bahas kota tangguh bencana

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu dan Pemkot Iwanuma Jepang membahas proyek perumusan pengembangan kota tangguh bencana berbasis komunitas di Ibu Kota Sulawesi Tengah itu.

"Kolaborasi ini sudah lama terjalin sebagai bagian dari kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana gempa, tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu pada 28 September 2018," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palu Irmayanti Petalolo saat menerima kunjungan Wali Kota Iwanuma Junichi Sato San di Palu, Minggu.

Ia menjelaskan, salah satu agenda penting dalam kunjungan itu yakni kegiatan diseminasi terkait penyelesaian proyek perumusan komunitas tangguh di wilayah relokasi kelompok Kota Palu.

Proyek tersebut merupakan bentuk kerja sama strategis, antara Pemerintah Kota Palu dan Pemerintah Jepang dalam meningkatkan ketahanan infrastruktur maupun sosial menghadapi ancaman bencana alam.

Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan masyarakat Kota Palu, khususnya di kawasan relokasi dan menjadi langkah nyata dalam membangun kota yang lebih tangguh serta siap menghadapi potensi bencana di masa depan.

"Palu salah satu darah di Sulawesi Tengah rawan bencana, maka perencanaan pembangunan harus berbasis bencana untuk keberlanjutan kota di masa depan guna memberikan keamanan terhadap penduduknya," ujarnya.

Dijadwalkan kunjungan Pemkot Iwanuma dan rombongan berlangsung selama tiga, 13-15 Juli 2025, yang mana proyek percepatan perumusan kota tangguh bencana berbasis komunitas dapat segera diselesaikan, untuk dimanfaatkan dalam pembangunan dan pengembangan Kota Palu.

Di kesempatan itu, Pemkot Palu menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Wali Kota Iwanuma, berharap kunjungan ini dapat semakin mempererat hubungan baik yang telah terjalin antara kedua pemerintah.

"Kota Palu dan Jepang sama-sama memiliki karakter kebencanaan, maka perlu langkah konkret dalam melakukan langkah pencegahan cepat dan penangan yang tepat demi menekan ancaman korban jiwa maupun ketahanan kota dalam menghadapi risiko bencana," tutur Irmayanti.

BNPB Catat Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Daerah

KBRN, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana berdampak signifikan di Indonesia. Bencana itu terjadi dalam kurun waktu satu hari (24 jam), terhitung 12-13 Juli 2025.

"Selama periode tersebut. Tercatat sebanyak enam kejadian bencana baru," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (13/7/2025).

Laporan kejadian bencana pertama adalah kekeringan yang terjadi di Dusun Sejagir, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah tersebut kekurangan air bersih akibat musim kemarau.

"Sebanyak 36 KK atau 108 jiwa terdampak. Menyikapi bencana kekeringan, BPBD Kabupaten Purworejo mendistribusikan air sebanyak dua tangki atau sejumlah 10 ribu liter kepada warga di desa tersebut," ujarnya. 

Kejadian bencana hidrometeorologi kering juga terjadi di Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara. Lahan seluas kurang lebih 7 hektare terbakar pada Jumat (11/7). Lahan berada di Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. 

BPBD Kabupaten Toba bersama instansi terkait segera menuju ke lokasi dan memadamkan api. Api berhasil dipadamkan pada pukul 22.30 WIB.

Selain kebakaran lahan, di kabupaten lain, tepatnya di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, terjadi hujan disertai angin kencang pada Sabtu (12/7). Angin menyebabkan 46 rumah warga rusak dan 2 orang luka-luka tertimpa material bangunan yang diterjang angin.

BPBD Kabupaten Serdang Bedagai segera meninjau dan melakukan asesmen terhadap rumah yang rusak. Korban luka-luka saat ini dirawat di RSUD Sultan Sulaiman.

"Angin kencang juga terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Angin kencang menyebabkan 73 rumah rusak dengan rincian 19 rumah rusak berat, 24 rumah rusak sedang, 23 unit rumah rusak ringan, dan 7 rumah lainnya masih dalam klasifikasi kerusakan," ujarnya. 

Selain rumah, kata Aam, angin kencang juga menyebabkan beberapa sekolah, kantor, dan masjid rusak, BPBD setempat segera berkoordinasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat. Pembersihan material rumah yang rusak serta pemotongan pohon yang tumbang masih dilakukan.

Peristiwa banjir juga masih dilaporkan terjadi pada musim kemarau saat ini. Banjir merendam tiga kecamatan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kecamatan Palu Barat, Kecamatan Palu Timur, dan Kecamatan Palu Selatan.

"Banjir terjadi pascahujan deras mengguyur wilayah Kota Palu sejak Sabtu (12/7). Sebanyak 111 rumah terendam dengan ketinggian muka air yang bervariasi, saat ini banjir berangsur surut," katanya.

BNPB laporkan bencana banjir dan karhutla pada beberapa hari terakhir

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah wilayah di Indonesia kini tengah menghadapi sejumlah bencana, mulai dari banjir, angin puting beliung sampai dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam pernyataan di Jakarta, Rabu mengatakan Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah (Sulteng) mengalami banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi yang berdampak 116 Kepala Keluarga (KK) di Desa Solonsa, Kecamatan Witaponda, pada Senin (7/7).

"BPBD Kabupaten Morowali telah melakukan kaji cepat serta berkoordinasi dengan instansi terkait dalam upaya penanganan," katanya.

Masih di Sulawesi Tengah, lanjutnya, angin puting beliung disertai hujan deras menerjang wilayah Desa Bajugan dan Desa Ginunggung di Kabupaten Toli-Toli yang mengakibatkan dua warga mengalami luka-luka, 20 KK terdampak, dan dua KK harus mengungsi.

Di Desa Bajugan, kata dia, lima rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang, sedangkan di Desa Ginunggung tercatat satu rumah rusak berat, lima rumah rusak sedang, dan empat rumah rusak ringan.

Bantuan telah disalurkan untuk wilayah tersebut, lanjut Abdul Muhari, dengan BPBD setempat terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

Sementara itu di Nusa Tenggara Barat (NTB), kata dia, banjir juga melanda Kabupaten Lombok Barat akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi cukup lama pada Minggu (6/7). Banjir merendam lima desa di dua kecamatan yaitu Desa Lembuak, Sembung, dan Suranadi di Kecamatan Narmada, serta Desa Merembu dan Bajur di Kecamatan Labuapi.

Berdasarkan data yang diterima BNPB, satu warga dilaporkan meninggal dunia dan 1.753 jiwa terdampak. Sebanyak 453 rumah dilaporkan terdampak dan pendataan masih terus diperbarui oleh petugas.

"BPBD Kabupaten Lombok Barat bersama tim gabungan dan masyarakat terus melakukan upaya pembersihan sisa material banjir secara gotong royong," ucapnya.

BNPB juga menerima laporan dari Sumatera Utara (Sumut) terkait kejadian karhutla di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Padang Lawas seluas 45 hektare lahan.

Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum dengan BPBD Kabupaten Padang Lawas telah melakukan pemadaman dan evakuasi bersama masyarakat.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Karo yang menyebabkan sekitar 30 hektare lahan terbakar. BPBD Kabupaten Karo bersama petugas gabungan telah melakukan penyisiran di area rawan terbakar dan pemadaman untuk mencegah perluasan kebakaran.

"Menanggapi situasi ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama selama musim kemarau. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan cuaca dari instansi resmi guna meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Abdul Muhari.

 

 

Pemulihan Pasca Banjir Butuh Waktu Lama dan Biaya Besar

Lombok (ekbisntb.com) – Banjir bandang yang menerjang Kota Mataram pada, Minggu 6 Juli 2025 pekan kemarin mengakibatkan puluhan rumah serta infrastruktur lainnya rusak. Proses pemulihan pasca banjir membutuhkan waktu lama serta biaya cukup besar.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram, Ahmad Muzaki dikonfirmasi pada, Rabu 9 Juli 2025 menjelaskan, proses pemulihan atau recovery pasca bencana alam memiliki tahapan dari penetapan tanggap darurat menjadi rehab-rekon. Pemulihan tergantung dari tingkat kerusakan serta ketersediaan anggaran.

Khusus di Kota Mataram pola pembiayaan atau penanganan menggunakan dana hibah, karena dalam kondisi kedaruratan. “Jadi kondisi darurat beli hari ini kemudian terus berlanjut karena dibutuhkan masyarakat,” terangnya.

Proses pemulihan pasca bencana diakui, membutuhkan waktu lama terutama perbaikan infrastruktur seperti rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas umum lainnya. Muzaki memprediksi pemulihan bisa mencapai enam hingga dua belas bulan. Berbeda halnya sifatnya kedaruratan seperti penyediaan makanan, pembersihan sampah akibat banjir, dan lainnya sebagai harus segera diselesaikan. “Jadi kalau sifatnya emergency harus segera seperti penyediaan makanan. Pokoknya mengganggu kondisi masyarakat harus segera,” jelasnya.

Sekretaris Daerah Kota Mataram H. Lalu Alwan Basri menambahkan, pihaknya telah mengecek lokasi terdampak banjir di sejumlah wilayah di Kota Mataram Mataram. Proses pembersihan kawasan terdampak diperkirakan membutuhkan waktu selama 14 hari mulai 7-19 Juli. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan lingkungan terdampak tertangani. “Pak Wali terus mengajak kita rapat koordinasi untuk mengevaluasi sejauhmana penanganan di lapangan,” tambahnya.

Kehadiran pemerintah menurut Alwan, sangat dibutuhkan masyarakat terutama untuk memenuhi kebutuhan pasca banjir. Proses recovery atau pemulihan pasca bencana diakui, membutuhkan waktu panjang. Perbaikan jembatan, jalan, tanggul, dan rumah membutuhkan perencanaan dan biaya untuk pembangunan infrastruktur. “Bagaimana sampah dan barang-barang yang bisa diamankan dan diperbaiki. Recovery keseluruhan butuh panjang seperti jembatan, jalan, dan rumah,” tambahnya.

Selama proses pemulihan lanjutnya, organisasi perangkat daerah diminta saling bahu membahu membantu masyarakat yang terkena dampak bencana. Pembersihan kawasan sebelumnya dibagi menjadi lima zona diperkecil menjadi tiga zona. Tujuannya agar penanganan lebih maksimal.

Warga Terdampak Bertambah

Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram bahwa jumlah warga yang terdampak banjir terus bertambah. Tercatat korban terdampak mencapai 8.517 kepala keluarga atau 33.214 jiwa. Satu orang meninggal dunia, 6 orang luka-luka, dan 740 warga mengungsi.

Adapun kerusakan diantaranya, 34 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak ringan, dan 39 unit rumah rusak sedang. Sementara, 2 unit bangunan sekolah juga terendam. Dampak lainnya yakni, 3 perkantoran terendam, 3 jembatan rusak berat, talud rusak sepanjang 25 meter, 2 jalan rusak, 8 unit kendaraan roda tiga, dan 2 unit kendaraan roda dua hanyut terseret banjir. (cem)