logo2

ugm-logo

Blog

Pemprov Maluku Utara Percepat Penanganan Dampak Bencana Alam

KBRN, Ternate: Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus memperkuat langkah-langkah penanganan dampak bencana alam banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah. Cuaca ekstrem yang melanda dalam beberapa waktu terakhir telah mengakibatkan kerusakan serius pada sejumlah ruas jalan dan jembatan di wilayah provinsi, termasuk di Kabupaten Kepulauan Sula, Halmahera Selatan, Halmahera Tengah, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan, dan kabupaten lainnya di Malut.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengungkapkan pemerintah daerah telah menerapkan dua pendekatan dalam penanggulangan bencana: pertama, penanganan langsung oleh pemerintah daerah jika anggaran tersedia dan cukup, dan kedua, koordinasi dengan pemerintah pusat jika anggaran daerah belum memadai.

“Penyelesaian dilakukan berdasarkan kewenangan, baik kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat,” ujar Sherly kepada rri.co.id, Minggu (29/6/2025).

Gubernur Sherly telah melakukan kunjungan langsung ke sejumlah titik terdampak banjir dan longsor. Selain itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, dijadwalkan tiba di Ternate pada Senin (30/6/2025). Dalam kesempatan tersebut, Gubernur akan menyampaikan sejumlah usulan strategis untuk penanganan lanjutan.

Langkah Penanganan di Lokasi Terdampak

Terpisah, Wakil Gubernur Sarbim Sehe, memaparkan sejumlah langkah penanganan yang telah dilakukan di beberapa daerah terdampak.

Kabupaten Halmahera Selatan

  • Desa Samo (Gane Barat Utara): Terdapat 4 titik longsor. Hingga 29 Juni 2025, dua titik telah berhasil ditangani menggunakan anggaran Dana Tak Terduga (DTT) Pemprov. Usulan perkuatan tebing dan saluran drainase akan diajukan melalui Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.
  • Ake Moloku: Identifikasi lokasi, gambar desain, dan RAB telah disiapkan untuk penanganan darurat.
  • Ake Sibu-Sibu (Pulau Bacan): Proses identifikasi dan perencanaan telah dilakukan, dengan rencana pembangunan jembatan rangka Bailey sepanjang 24 meter.
  • Ake Panamboang: Sudah dianggarkan melalui pergeseran anggaran tahun 2025.

Kota Ternate

  • Longsor Jalan Ngade: Penanganan akan dilakukan oleh PJN Wilayah Malut.
  • Banjir dan pengikisan tanah di wilayah selatan Ternate: Telah masuk dalam usulan Pemprov senilai Rp200 miliar melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).

Kabupaten Kepulauan Sula

  • Ruas Jalan Malbufa–Waina: Sudah dilakukan identifikasi, desain, dan RAB. Penanganan darurat menggunakan DTT Pemprov, sedangkan saluran dan tebing diusulkan ke DSP BNPB.
  • Jembatan Ake Kayola dan Ake Waihela: Telah melalui proses identifikasi teknis dan diusulkan penanganan melalui DSP BNPB.

Wagub menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen memberikan respons cepat dan efektif terhadap bencana yang terjadi. "Komitmen pemerintah daerah jelas, melakukan penanganan terhadap daerah-daerah yang saat ini mengalami musibah banjir dan longsor," kata Sarbin.

Kedatangan Kepala BNPB lanjut Wagub,  diharapkan menjadi momentum untuk menguatkan sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam menangani dampak bencana secara komprehensif dan berkelanjutan.

 

Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometrologi

KBRN,Garut : Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status tangkap darurat selama 14 hari kedepan. Selain itu, Pemkab Garut juga melakukan berbagai upaya penanggulangan bencana banjir dan longsor yang melanda.

Sekda Garut Nurdin Yana mengatakan, beberapa langkah  yang akan segera diimplementasikan, salah satunya adalah dengan memasang pompa apung (floating pump). Mekanismenya, saat hujan deras, pintu air akan ditutup untuk mencegah arus balik dari Sungai Cimanuk yang posisinya lebih tinggi, kemudian pompa apung akan bekerja membuang air kembali ke sungai Cimanuk.

"Ketika terjadi hujan maka ditutup karena pasti akan arus balik dari Cimanuk ke kita, karena Cimanuk lebih tinggi itu lebih rendah, sehingga akan masuk kita, itu kita tutup kemudian secara bersamaan kita pasang floating pump di sana untuk kemudian dipasang jadi mengambil air dari sini untuk kembali dikeluarkan ke Cimanuk," ujarnya Selasa !1/7/2025).

 Nurdin menyampaikan bahwa terdapat salah satu infrastruktur jalan yang terputus akibat bencana,  yaitu di Kampung Negla. Pihaknya saat ini, telah mengupayakan jalur alternatif untuk akses yang terputus.

"Termasuk juga sekarang di Kampung Nagrak Sukamulya itu juga penting, kemudian di Cilawu di Kampung Cipeundeuy itu juga sudah kita dilakukan (penanggulangan), jadi ada beberapa titik yang menyangkut masalah sarana prasarana khususnya jalan termasuk nanti di Margawati sudah kita lakukan," katanya.

Nurdin juga menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera menginventarisasi seluruh kerusakan dan kebutuhan penanganan di lapangan. Hal itu  guna memberikan gambaran komprehensif bagi upaya pemulihan, mengingat pihaknya akan segera memberlakukan masa tanggap darurat bencana selama dua minggu ke depan.

"Kemudian semua kegiatan yang menjadi permasalahan hari ini ini diinventarisir oleh dinas teknis sesuai fungsional masing-masing, untuk kemudian diserahkan ke Pak Kalak, dan Pak Kalak nanti yang akan mengajukan ke Pak Bupati terkait dengan skema penyelesaian atas persoalan yang muncul," lanjutnya.

Menyikapi bencana yang terus berulang, Nurdin Yana tak lupa menyampaikan imbauan penting kepada seluruh masyarakat Garut. Ia menekankan perlunya kesiapsiagaan dan partisipasi aktif dalam mitigasi bencana.

"Kita ada beberapa lembaga yang kita bentuk oleh Pak Kalak CS, baik itu Kencana (atau) Kecamatan Tangguh Bencana, termasuk di desa juga desa tangguh bencana sudah kita lakukan, bahkan ada juga kampung siaga bencana, semua sudah digerakkan mudah-mudahan ini bisa membantu mereka setidaknya mereka bisa membantu dirinya sendiri ini poin yang paling penting," ujarnya.

Nurdin Yana juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memperparah kondisi bencana. Ia juga menyoroti pentingnya penanaman kembali pohon-pohon di lingkungan sekitar.

"Yang kedua juga mereka harus empati, harus patuh, harus memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungan, sehingga mudah-mudahan dengan cara seperti itu akan secara akumulasi siap tangguh bencana, kemudian alam juga tidak memberikan dampak negatif pada penghuninya," tandasnya.

Hingga saat ini berdasarkan hasil pencatatan yang dilakukan oleh dinas terkait ada sekitar 19 kecamatan dan tersebar di 32 desa yang terdampak. Sebagian besar terdampak bencana longsor dan banjir dalam sepekan terkahir ini di Kabupaten Garut.

Antisipasi longsor susulan, BNPB dirikan pos komando bencana di Ambon

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan pendirian pos komando mitigasi bencana tanah longsor di Kota Ambon, Maluku, untuk mengantisipasi potensi bencana susulan akibat hujan berintensitas tinggi yang masih terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin, mengatakan pos komando difungsikan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat serta mengoordinasikan langkah mitigasi terhadap bencana hidrometeorologi basah.

“Pos komando juga disiagakan untuk memantau dan merespons potensi bencana lainnya akibat cuaca ekstrem,” ujarnya.

Langkah ini menyusul kejadian tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (21/6) di Kelurahan Negeri Passo dan Desa Halong, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

BNPB mengkonfirmasi longsor tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan tiga kepala keluarga terdampak langsung.

Berdasarkan laporan yang dihimpun BNPB hingga Minggu (22/6) malam, longsor disertai material pohon tumbang juga mengancam bangunan milik 32 Kepala Keluarga (KK) lainnya di lokasi permukiman terdampak.

Menurut Abdul, tim reaksi cepat BPBD Kota Ambon telah mengevakuasi warga terdampak di Negeri Passo dan Baguala, juga mendistribusikan logistik penanganan darurat, seperti terpal, sekop, gerobak, dan karung.

"Pembersihan material longsoran dan pohon tumbang telah dilakukan, dan aktivitas warga di area terdampak mulai kembali normal," kata dia.

Sejumlah wilayah lain di Kota Ambon turut dipetakan sebagai daerah rawan longsor antara lain Kelurahan Batu Meja, Batu Gajah, Waihoka, Karang Panjang, Halong, dan Negeri Soya di Kecamatan Sirimau, kemudian Kelurahan Hatalai di Kecamatan Leitimur Selatan, lalu Negeri Urimessing di Kecamatan Nusaniwe, serta Kelurahan Hunuth Durian Patah di Kecamatan Teluk Ambon.

Dalam kondisi demikian BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika hujan intensitas sedang --sangat deras mengguyur, khususnya yang bermukim di lereng perbukitan atau dekat aliran sungai.

"Masyarakat juga kami harapkan tetap mematuhi imbauan petugas yang bersiaga di wilayah rawan bencana," kata dia.

Temui Kepala BNPB RI, Gubernur Al Haris Perkuat Sinergi Mitigasi Bencana di Provinsi Jambi

Dalam upaya memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di wilayah Provinsi Jambi, Gubernur Jambi Al Haris bertemu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, Senin (23/06/25) di Kantor BNPB RI, Jakarta. 

Dalam kunjungan ini, Gubernur Al Haris melaporkan situasi bencana serta memperkuat koordinasi antarlembaga dan mendorong percepatan penguatan sistem penanggulangan bencana berbasis kolaborasi pusat-daerah. Turut mendampingi Gubernur Al Haris dalam pertemuan tersebut antara lain Danrem 042/Gapu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Kadis Kominfo, Plt Kaban Kesbangpol, Karo Adpim, Kabid Kedaruratan BPBD, dan Kaban Penghubung.

Sementara dari BNPB RI hadir sejumlah pejabat tinggi termasuk Irtama BNPB Yulianto, Deputi Penanganan Darurat Mayjen TNI Budi, Karo Perencanaan Andi Evi, Direktur Pemulihan Sosial & SDA Eni, serta Plt Kapusdalops Riswadi

“Alhamdulilah hari ini saya dengan pak Danrem, Kalak BPBD menghadap Kepala BNPB dengan jajaran untuk melaporkan situasi Karhutla dan bencana lainnya di Jambi,” jelas Gubernur Al Haris.

Lebih lanjut, Gubernur Al Haris menekankan perlunya dukungan BNPB dalam hal penyediaan sarana dan prasarana, logistik penanggulangan dan lainnya.

“Dengan menghadap Kepala BNPB RI, kita berharap support dari BNPB pusat mengatasi masalah-masalah di daerah yang sekiranya perlu dukungan. Baik dari sarana dan prasarana serta perlengkapan lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyambut baik langkah proaktif tersebut dan menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam mengurangi risiko bencana secara sistematis dan berkelanjutan.

Guru Besar UBL: Indonesia Etalase Bencana, Butuh Kolaborasi Ilmu dan Teknologi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof. Arief Wibowo dari Universitas Budi Luhur (UBL) mengatakan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan partisipasi sosial dalam menghadapi krisis dan bencana di Indonesia. 

"Indonesia bukan hanya negara rawan bencana, namun juga etalase bencana dunia," ujarnya dalam pidato ilmiahnya saat sidang terbuka Senat Universitas pengukuhan guru besar bidang ilmu Sistem Cerdas untuk Krisis dan Kebencanaan, Kamis (12/6/2025), dalam keterangan yang diterima, Senin (23/6/2025).

Prof. Arief menyoroti solusi krisis harus berakar pada kolaborasi lintas sistem dan lintas disiplin. Pendiri program studiManajemen Bencana S1 yang pertama di Indonesia pada 2022 ini telah menghasilkan berbagai inovasi strategis.

Salah satunya adalah SAR Intelligence System yang pernah membawa UBL meraih penghargaan SAR Award dari Basarnas tahun 2023.

Berbagai riset Prof. Arief sangat kuat pada terapan bidang ilmu sistem cerdas untuk situasi krisis maupun kebencanaan. Inovasi-inovasi tersebut menggabungkan teknologi informasi, data sains, dan kolaborasi keilmuan lain untuk menghasilkan sistem tanggap darurat yang adaptif dan suportif dalam operasi SAR dan kebencanaan.

“Setiap bidang ilmu dalam menjawab tantangan bencana butuh saling kolaborasi, bukan saling mendominasi,” katanya.

Prof. Arief mengajak civitas akademika di perguruan tinggi, terutama di UBL untuk menjadikan kampus sebagai kendaraan kolaborasi multidisipliner yang tangguh dan inklusif. Menurutnya, ilmu sosial, teknik, desain, komunikasi, dan ekonomi harus bersatu dalam membangun sistem yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga adil secara sosial.

Rektor UBL Prof. Agus Setyo Budi menyampaikan apresiasinya terhadap capaian Prof. Arief. Dia menegaskan komitmen UBL untuk terus mendorong pengembangan keilmuan yang kontekstual dan berdampak langsung pada masyarakat.

Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro juga hadir dalam pengukuhan ini bersama jajaran senat, dekanat, serta civitas UBL lainnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI yang pertama, Prof. Syamsul Maarif turut mengucapkan selamat atas pengukuhan ini. Demikian juga Sestama Basarnas Abdul Haris Achadi.

Pengukuhan ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi Prof. Arief sebagai guru besar termuda di UBL dalam usia 45 tahun, tetapi juga bagi UBL sebagai pelopor dalam kolaborasi multidisiplin ilmu, terutama teknologi informasi untuk kesiapsiagaan bencana dan kedaruratan.

"Bencana akan terus datang, namun jika kita berkomitmen bersatu dengan mengedepankan ilmu, teknologi, dan empati, kita bukan hanya bisa bertahan, tapi juga membentuk masa depan yang lebih tangguh dan adil," ujar Prof. Arief.