logo2

ugm-logo

Blog

Bencana dan upaya mengurangi risikonya

Jakarta (ANTARA) - Bencana, sesuatu yang sulit ditolak karena bisa terjadi kapan saja. Namun, sejumlah jenis bencana bisa diupayakan untuk dicegah, seperti kebakaran.

Selain itu, ada juga potensi bencana yang bisa dideteksi dengan menggunakan teknologi, seperti banjir dan tanah longsor. Tapi, ada pula bencana yang sulit diprediksi seperti gunung meletus (erupsi) dan gempa bumi.

Gempa bumi atau gempa tektonik sulit diprediksi terjadinya, meskipun kemajuan teknologi sudah bisa mendeteksi potensinya. Tetapi tetap sulit memprediksi kapan pastinya akan terjadi.

Memasuki musim hujan, sejumlah daerah sudah saling mengingatkan kepada masyarakat di wilayahnya agar waspada pada potensi banjir dan longsor.

Bencana kebakaran hutan dan lahan, juga kebakaran di wilayah pemukim, sesungguhnya bisa dicegah dengan selalu mengingatkan warga agar tidak abai atau selalu waspada.

Sementara banjir dan longsor kadang sulit menghindarinya karena daya dukung alam yang rusak dan pemerintah daerah serta masyarakat yang alpa untuk merestorasinya.

Banjir dan longsor acap terulang dan terkadang sampai menelan korban jiwa, harta dan benda serta rusaknya fasilitas umum.

Korban, bukan terdampak

Di ruang publik, kerugian yang ditimbulkan acap diperhalus dengan menggunakan istilah "dampak". Eufimisme itu secara psikis mungkin untuk mengurangi beban bagi korban bencana atau menyenangi pihak terkait bahwa tidak ada korban, tetapi hanya pihak yang terdampak.

Pada kondisi tertentu, bencana tidak dapat dihindari, terlebih banyak anggota masyarakat yang tinggal di lokasi bencana atau di daerah potensi bencana, seperti di daerah aliran sungai, di lereng dan punggung gunung, di atas tanah bergerak atau tak menyadari bahwa mereka tinggal di atas tanah labil atau likuefaksi.

Ahli Geologi, Dr.Eng.Imam Achmad Sadisun dari Kelompok Keahlian Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB menjelaskan fenomena likuefaksi secara sederhana dapat diartikan sebagai perubahan material yang padat (solid), dalam hal ini berupa endapan sedimen atau tanah sedimen, yang akibat kejadian gempa, material tersebut seakan berubah karakternya seperti cairan (liquid).

Sebenarnya, likuefaksi hanya bisa terjadi pada tanah yang jenuh air (saturated). Air tersebut terdapat di antara pori-pori tanah dan membentuk apa yang seringkali dikenal sebagai tekanan air pori. Tanah yang berpotensi likuifaksi umumnya tersusun atas material yang didominasi oleh ukuran pasir.

Peristiwa likuefaksi yang fenomenal terjadi di Petobo, di Kecamatan Palu Selatan, Sulawesi Tengah, setelah gempa pada Jumat (28/9/2018) yang berkekuatan 7,4 padanskala Richter.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB saat itu  Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers  mengatakan sedikitnya 744 rumah di Petobo, Kecamatan Palu Selatan, tenggelam dalam lumpur.

Dalam kasus ini (likuefaksi) upaya mitigasi (mengurangi risiko bencana) sulit dilakukan, terlebih jika warga tidak paham bahwa mereka bermukim atau beraktivitas di atas tanah cair (liquid).

Letusan Lewotobi

Sementara pada kasus letusan (erupsi) Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, 4 November 2024, yang menelan korban jiwa sembilan, kemudian dikabarkan menjadi 10 jiwa, itu di luar perkiraan banyak pihak.

Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gunung tersebut erupsi pada Senin (4/11) pagi pukul 02.48 Wita dengan melontarkan pasir dan batu yang menjangkau pemukiman warga.

Sebelumnya sudah berulang dikabarkan kondisi Gunung Lewotobi dan semua pihak terkait, terutama warga diminta waspada dan selalu memantau peringatan dari lembaga yang berwenang.

Apa yang terjadi pada Gunung Lewotobi mengingatkan pada letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, khususnya di Desa (Kalurahan) Argomulyo, Kecamatan Caringin, Sleman, DIY, pada 26 Oktober hingga 5 November 2010.

Letusan Gunung Merapi pada 2010 itu mengakibatkan sekitar 3.000 rumah tersapu awan panas, lebih dari 3.000 ekor ternak mati, 398 jiwa meninggal dunia, dan lebih dari 800 orang kehilangan usahanya dan  menyebabkan lumpuhnya perekonomian.

Warga Desa Argomulyo itu semula merasa aman karena jarak desa mereka dari puncak Merapi sekitar 15 kilometer.

Namun, pada malam naas itu, awan panas diikuti dengan hujan pasir dan batu dimuntahkan Merapi melebihi jarak aman yang semula ditetapkan 15 km dari puncaknya.

Mayat bergelimpangan. Mereka yang selamat mengalami luka bakar. Bangunan dan fasilitas hancur.

Dalam kondisi demikian, yang dapat memberi pertolongan pertama adalah masyarakat sendiri karena akses jalan dan akses komunikasi terputus, sebagaimana juga pernah terjadi pada ketika tsunami melanda Aceh.

Berharap pada Destana

Menyadari hal tersebut, Pemerintah membentuk Desa Tangguh Bencana dengan tujuan warga desa yang harus menolong sesama setelah kejadian bencana, baru kemudian pertolongan dari luar datang setelah akses terbuka.

Supriyono (61), relawan Destana Argomulyo yang sehari-hari petani, membenarkannya. Diakuinya, dahulu sebelum erupsi Merapi 2010, mereka warga desa hanyalah penonton.

Awal-awal erupsi, mereka justru mendekati Merapi ingin menyaksikan fenomena alam yang berbahaya, tetapi menarik perhatian.

Mereka mengabaikan peringatan yang disampaikan BMKG, juga tokoh spiritual Mbah Maridjan, hingga awan panas menggulung desa mereka.

Namun, kini, mereka adalah salah satu Desa Tangguh Bencana (Destana) terbaik saat ini. Tidak sekadar memiliki peralatan sederhana, seperti parang, sekop, cangkul, tetapi mereka dilengkapi dengan akses komunikasi yang bisa digunakan meski listrik mati.

Digambarkannya, sebegitu tingginya pengabdian relawan Destana Argomulyo sehingga warga meminta mereka menangani semua kasus bencana.

Kini penanganan bencana melebar, jika terjadi kecelakaan, hajatan, orang hilang, bahkan jika butuh darah PMI, warga meminta mereka yang menangani.

Pemerintah kini sudah membentuk ratusan Destana. Membentuk Destana itu mudah, tetapi menjadikannya tangguh tidak mudah.

Destana menurut BNPB, merupakan desa/kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak yang merugikan.

Destana memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.

Relawan sejati

Destana Argomulyo acap menerima tamu dari berbagai provinsi, kabupaten, bahkan dari mancanegara, seperti dari Singapura atau Australia. Sebagian besar yang tidak ada pada mereka adalah sikap relawan sejati, yakni rela bekerja, berjuang menanggulangi, mengurangi risiko bencana dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan apa-apa.

Partono, relawan Destana Argomulyo lainnya yang kehilangan tiga anggota keluarganya, relawan tidak mengharapkan pengakuan dari orang lain, cukup dari Gusti Allah. Relawan harus siap bekerja 24 jam tanpa digaji atau imbalan apapun.

Etos seperti ini yang tidak dimiliki banyak orang yang mengaku relawan, kata Supriyono. Dia diundang banyak pihak untuk mengedukasi relawan, tetapi ketika dipaparkan tentang sikap yang harus dimiliki, banyak yang mengatakan kondisi itu sedikit orang yang bisa.

Terlepas dari itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah merilis ajakan agar semua pihak di seluruh Indonesia bersiap menghadapi potensi curah hujan Januari - Desember 2025, yang sudah mulai pada November tahun ini.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati  mengatakan bahwa secara umum sepanjang tahun 2025 kondisi hujan lebih bersahabat.

Intensitas curah hujan berkisar antara 1.000 – 5.000 mm per tahun di sebagian besar wilayah Indonesia. Iklim tahun 2025 ini dianggap para ahli klimatologi dan geofisika BMKG sebagai kesempatan strategis bagi sentra pangan untuk meningkatkan produktivitas tanaman, guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Meski demikian, Dwikorita tetap mengingatkan semua pemangku kepentingan dan masyarakat  melakukan upaya dini mencegah bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi selama periode musim hujan tersebut.

Meski cuaca lebih bersahabat, kewaspadaan tetap harus ditingkat karena di bawah langit, semua kemungkinan bisa terjadi.

Bencana di Kota Cimahi, 131 Rumah Rusak

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mencatat ada 131 unit rumah yang tersebar di sejumlah kelurahan rusak diterjang hujan deras disertai angin kencang pada Sabtu (10/11).

Selain kerusakan rumah kategori ringan, sedang hingga berat, cuaca ekstrem juga menyebabkan 27 pohon di sejumlah titik tumbang menutup akses jalan, fasilitas umum hingga tempat ibadah.

"Rusak ringan ada 109 rumah pada bagian atap. Kemudian rusak sedang 13 rumah karena atap, plafon dan sebagian dindingnya rusak. Lalu kategori berat ada 9 rumah, dengan atap, plafon, dinding dan struktur bangunan rusak," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fitriandy Kurniawan, Minggu (10/11).

Saking banyaknya kejadian, ia mengaku, petugas BPBD sampai saat ini masih menyisir pohon yang tumbang untuk dilakukan pembersihan, termasuk juga yang berada di jalan-jalan utama Cimahi.

"Pascadievakuasi, lalu lintas kembali lancar. Untuk yang lainnya, petugas masih menyisir pohon-pohon yang tumbang di akses jalan lingkungan," bebernya.

Bencana tersebut mengundang keprihatinan Pj Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin yang langsung meninjau beberapa titik terdampak. Pihaknya mendapat laporan bahwa telah terjadi tiga bencana yakni di Kota dan Kabupaten Cirebon dan Kota Cimahi. Namun yang terparah di Cimahi.

Didampingi Pj Wali Kota Cimahi, Dicky Saromi, Bey meninjau SDN Baros Mandiri 4 yang roboh pada bagian benteng karena tertimpa pohon. Setelah itu, mereka ke gudang logistik KPU untuk melihat surat suara yang rusak.

"KPU sudah melakukan penanganan secara prosedural, sudah dikeringkan (surat suara). Dari 2.000-an surat suara, tinggal 194 yang menurut KPU dan Bawaslu perlu diganti," kata Bey

Dia menyatakan, semua daerah di Jawa Barat diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometerologi pada musim hujan kali ini. Pemprov Jabar sendiri telah menetapkan status siaga darurat bencana Hidrometeorologi.

"Kita minta semua daerah waspada, termasuk masyarakatnya. Status Siaga Darurat sudah kita terapkan dari Oktober 2024 sampai April 2025," ujarnya.

Sementara Pj Wali Kota Cimahi, Dicky Saromi mengaku, pihaknya telah menerjunkan instansi terkait untuk mengevakuasi pohon tumbang, termasuk memberikan bantuan bagi korban terdampak.

Terkait kebocoran gudang logistik KPU, Dicky menyatakan, kejadian itu diluar prediksi meski seluruh logistik pilkada serta surat suara di dalamnya sudah disimpan dengan rapi dan aman. Setelah diinventarisasi, hanya sedikit yang direkomendasikan untuk diganti dengan surat suara yang baru.

"Dua ribuan surat suara terkena air dan 20 kotak rusak. Tapi dari apa yang diakukan hari ini ternyata tinggal 194 yang bermasalah. Apakah layak dipakai atau tidak. Kalau tidak, kita minta penggantian," kata Dicky.

27 bencana terjadi di Cimahi akibat hujan deras & angin, enam terluka

Cimahi (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Jawa Barat, menangani 27 kejadian bencana alam pada Sabtu (9/11) sore yang terjadi akibat hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah tersebut.

Kepala Seksi Kedaruratan Logistik BPBD Kota Cimahi Rohmat mengatakan bencana tersebut didominasi oleh tumbangnya puluhan pohon yang menghalangi sejumlah jalan utama dan provinsi di Cimahi.

“Saat ini jalan-jalan utama sudah kembali normal dan bisa dilalui. Kami masih melanjutkan evakuasi di beberapa titik yang terdampak di dalam kota,” kata Rohmat kepada ANTARA di Cimahi, Minggu.

Rohmat mengatakan pihaknya menerjunkan tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya untuk mengevakuasi pohon-pohon yang tumbang hingga menutupi jalan.

Selain pohon tumbang, kata dia, BPBD Kota Cimahi masih mengidentifikasi jumlah kerusakan yang terjadi pada bangunan, seperti rumah dan sekolah.

“Untuk bangunan yang terdampak masih dalam proses asesmen, anggota kami masih di lapangan melakukan pendataan lebih lanjut,” kata dia.

Oleh karena itu pihaknya bersama semua unsur terus memantau secara ketat perkembangan situasi cuaca, terutama saat memasuki musim hujan ini.

“Ini adalah upaya gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta dukungan semua pihak. Meskipun kejadian ini cukup masif, kami berusaha optimal menggunakan semua sumber daya yang ada,” katanya.

Kedepannya, kata dia, BPBD Kota Cimahi akan melakukan langkah mitigasi, salah satunya dengan melakukan pemangkasan pohon-pohon rawan tumbang yang dikerjakan bersama dinas terkait.

“Kejadian ini menjadi pelajaran untuk lebih waspada. Kolaborasi masyarakat dan pemerintah sangat penting dalam mengurangi risiko bencana seperti ini,” ucapnya.

Rohmat menyebut sebanyak enam orang mengalami luka akibat kejadian ini dan sudah berhasil dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dan enam orang luka sudah berhasil kami tangani dengan baik,” katanya.

Banjir dan Longsor Tewaskan Ratusan Orang di Nepal

KBRN, Jakarta: Nepal menutup sekolah selama tiga hari setelah hujan deras yang memicu banjir dan longsor di seluruh wilayah. Menurut laporan pejabat setempat, Minggu (29/9/2024), banjir tersebut menewaskan 170 orang dan menyebabkan puluhan lainnya hilang.

Melansir dari Dawn, banjir ini menyebabkan aktivitas dan lalu lintas di Lembah Kathmandu terhenti selama akhir pekan. Penerbangan domestik di dalam dan luar Kathmandu mulai kembali beroperasi pada Minggu pagi setelah sebelumnya 150 penerbangan dibatalkan.

Kementerian Dalam Negeri Nepal mengonfirmasi bahwa 170 orang tewas di berbagai wilayah, sementara 42 orang masih dinyatakan hilang. Di antara korban, 35 orang tewas dalam tiga kendaraan yang tertimbun longsor di sebuah jalan raya di selatan Kathmandu.

Rekaman TV menunjukkan petugas penyelamat menggunakan peralatan sederhana untuk menggali lumpur. Mereka mengevakuasi 16 jenazah penumpang dari dua bus yang tersapu longsor di rute utama menuju Kathmandu.

Curah hujan di beberapa bagian ibu kota mencapai hingga 322,2 mm (12,7 inci). Ini menyebabkan Sungai Bagmati naik 2,2 meter (7 kaki) di atas level bahaya, menurut pakar.

Namun, pada Minggu pagi, hujan mulai mereda di beberapa tempat, menurut ahli cuaca Govinda Jha. Penduduk mulai kembali ke rumah mereka yang dipenuhi lumpur untuk menilai kerusakan akibat banjir.

Pihak berwenang melaporkan gedung-gedung universitas dan sekolah yang rusak akibat hujan memerlukan perbaikan. "Kami telah meminta pihak terkait untuk menutup sekolah di daerah yang terdampak selama tiga hari," ujar juru bicara kementerian pendidikan, Lakshmi Bhattarai.  

Hujan Lebat Picu Banjir Bandang-Longsor Tewaskan 170 Orang di Nepal

Jakarta, CNN Indonesia -- Banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan lebat menyebabkan sebanyak 170 orang tewas di Nepal hingga Minggu (29/9). Selain ratusan korban tewas, 42 orang lainnya juga masih dalam pencarian.

Seluruh wilayah di ibu kota Kathmandu terendam banjir selama akhir pekan, di mana banjir bandang terjadi daerah aliran sungai hingga menyebabkan kerusakan parah di jalan raya yang menghubungkan kota tersebut dengan seluruh Nepal.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Nepal, Rishi Ram Tiwari, mengatakan telah mengerahkan buldoser untuk membersihkan beberapa jalan raya yang tertutup puing-puing sisa banjir dan longsor.

"Lebih dari 3.000 orang telah diselamatkan," kata Rishi, dikutip AFP.Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal mengatakan data awal dari stasiun di 14 distrik mengungkapkan bahwa hujan yang terjadi dalam 24 jam terakhir sampai memecahkan rekor. Sebuah stasiun cuaca di bandara Kathmandu mencatat 240 milimeter curah hujan, tertinggi sejak 2022.

Pada Sabtu (28/9), sungai Bagmati dan banyak anak sungai yang membelah Kathmandu meluap, menggenangi rumah-rumah dan kendaraan di sekitarnya. Warga sempat berjuang melewati genangan air setinggi dada orang dewasa untuk mencapai dataran tinggi.

Lebih dari 3.000 personel keamanan dikerahkan untuk membantu upaya penyelamatan dengan helikopter dan perahu motor. Tim penyelamat juga menggunakan rakit untuk menarik korban ke tempat aman.

Hujan muson yang turun dari Juni hingga September menyebabkan ratusan orang tewas dan kehancuran di berbagai wilayah di Asia Selatan. Namun jumlah banjir dan tanah longsor yang lebih fatal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Para ahli mengatakan perubahan iklim memperburuk frekuensi dan intensitas hujan.