logo2

ugm-logo

Blog

Gempa Bumi Bermagnitudo 4.0 Guncang Ternate, Maluku Utara

Tribratanews.polri.go.id - Informasi gempa bumi hari ini, kali ini gempa mengguncang di wilayah Ternate, Maluku Utara, hari ini, Selasa (21/4/26), BMKG menyebut, gempa ini guncang barat laut, Ternate, Maluku Utara.

Dalam rilis BMKG, gempa tersebut memiliki kekuatan magnitude 4.0. BMKG menginformasikan bahwa waktu terjadinya gempa sekitar pukul 10:30:43WIB.

Lokasi gempa ini berada di 1.20 Lintang Utara (LU) 126.37 Bujur Timur (BT). BMKG sebut pusat gempa 120 km di barat laut, Ternate, Maluku Utara.

Gempa bumi ini terjadi di kedalaman 31 Km.

"#Gempa Mag:4.0, 21-Apr-2026 10:30:43 WIB, Lok:1.20LU, 126.37BT (120 km BaratLaut TERNATE-MALUT), Kedlmn:31 Km #BMKG, Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG, dilansir dari akun X BMKG

Inovasi Peredam Gempa Cerdas BRIN Percepat Pemulihan Pascabencana

Tangerang Selatan - Humas BRIN. Di tengah tingginya risiko gempa bumi di Indonesia, kebutuhan akan teknologi bangunan yang adaptif dan tangguh menjadi semakin krusial.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi peredam (damper) gempa cerdas berbasis shape memory steel. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan ketahanan struktur sekaligus mempercepat pemulihan pascagempa.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Efendi, mengatakan gempa bumi merupakan bencana yang sulit diprediksi dan dapat menimbulkan kerusakan serius pada bangunan serta dampak sosial-ekonomi yang luas.

“Gempa bisa terjadi tanpa peringatan dan berdampak pada kerusakan permanen struktur. Hal ini sering kali membutuhkan biaya perbaikan besar dan waktu pemulihan yang tidak singkat,” katanya, saat diwawancara Tim Humas BRIN, Selasa (28/4).

Selama ini, penggunaan damper gempa konvensional memang telah membantu meredam energi getaran. Namun, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan karena mengandalkan deformasi plastis yang bersifat permanen. Akibatnya, performa damper menurun setelah digunakan dan memerlukan penggantian.

selengkapnya https://brin.go.id/news/127873/inovasi-peredam-gempa-cerdas-brin-percepat-pemulihan-pascabencana

Tak Sekadar Panas, Ini Dampak El Nino Godzilla di Jakarta dan Sekitarnya

KOMPAS.com - Fenomena El Nino “Godzilla” diprediksi berpotensi memengaruhi cuaca Indonesia, termasuk Jakarta dan wilayah sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, pada April-Oktober 2026. Dampak dari El Nino Godzilla ini beragam, terutama berupa penurunan curah hujan, suhu lebih panas, hingga risiko gangguan kesehatan.

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), istilah “Godzilla” bukanlah kategori ilmiah resmi dalam klimatologi. Secara ilmiah, El Nino hanya dibagi menjadi lemah, moderat, dan kuat. Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas, seperti yang pernah terjadi pada 2015. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh ilmuwan Bill Patzert untuk menggambarkan anomali El Nino ekstrem.

Di Indonesia, konsep ini kemudian dikaitkan dengan kombinasi El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi memperparah kondisi kering.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/13/12203781/tak-sekadar-panas-ini-dampak-el-nino-godzilla-di-jakarta-dan-sekitarnya.

El Nino “Godzilla”: Fenomena Iklim Ekstrem yang Bikin Kemarau Makin Ganas

Fenomena El Nino “Godzilla” belakangan ramai dibicarakan, terutama karena diprediksi bakal berdampak besar ke Indonesia. Meski namanya terdengar seperti monster film, istilah ini sebenarnya merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang bisa memicu perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang. Para ahli menyebut, fenomena ini bukan hal baru, tapi levelnya jauh lebih intens dibanding El Nino biasa.

Secara sederhana, El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator. Ketika suhu ini meningkat drastis, pola angin dan pembentukan awan berubah, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan. Akibatnya, musim kemarau bisa datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya.

Lalu, kenapa disebut “Godzilla”? Nama ini ternyata bukan istilah ilmiah resmi, melainkan julukan populer yang diberikan ilmuwan NASA pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang “super kuat dan destruktif”. Analogi ini diambil dari karakter monster raksasa Godzilla yang identik dengan kekuatan besar dan dampak masif. Jadi, bukan jenis baru, tapi cara mudah menggambarkan betapa ekstremnya fenomena ini.

Dampaknya sendiri tidak main-main. El Nino “Godzilla” bisa menyebabkan kekeringan panjang, krisis air bersih, penurunan hasil pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, sektor pangan juga ikut terancam karena produksi bisa menurun akibat minimnya air. Dalam beberapa kasus sebelumnya seperti tahun 1997 dan 2015, dampaknya terasa luas secara global, termasuk di Indonesia.

Untuk menghadapinya, berbagai langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini. Mulai dari pengelolaan air yang lebih efisien, adaptasi pertanian terhadap cuaca kering, pencegahan kebakaran hutan, hingga pemanfaatan teknologi iklim. Selain itu, pemerintah dan masyarakat juga didorong untuk meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin parah.

Singkatnya, El Nino “Godzilla” bukan sekadar istilah viral, tapi sinyal serius bahwa perubahan iklim bisa datang dengan skala besar. Dengan memahami fenomenanya, diharapkan semua pihak bisa lebih siap menghadapi dampaknya—bukan panik, tapi juga tidak meremehkan.

Zona Megathrust di RI Berubah, Ahli Jepang Tunjuk Lokasi Bahaya

Jakarta, CNBC Indonesia - Zona Megathrust di Indonesia mengalami perubahan menjadi 14 titik. Hal ini tertera dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. 
Peta terbaru itu menunjukkan potensi bahaya yang lebih tinggi ketimbang yang dirilis pada 2017 silam. Terlihat kontur bahaya makin rapat di sejumlah wilayah.

Penambahan zona Megathrust di Indonesia ini turut menjadi sorotan ahli Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan zona Nankai Trough, salah satu kawasan Megathrust paling aktif di dunia.

selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260428142659-37-730587/zona-megathrust-di-ri-berubah-ahli-jepang-tunjuk-lokasi-bahaya