logo2

ugm-logo

Blog

Trump Tetapkan Badai Irma Bencana Besar

 Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan peristiwa Badai Irma menjadi bencana besar. Badai Irma yang menerjang wilayah Florida pada Ahad (10/9) menimbulkan kerugian yang besar.

Melalui laporan Reuters, Gubernur Florida Rick Scott mengatakan, Trump menyetujui jika Badai Irma sebagai bencana besar. Penetapan itu sangat berpengaruh pada pemulihan Florida secara cepat.

Deklarasi tersebut akan memberi wewenang dana federal untuk membantu negara bagian. Dana tersebut dapat digunakan untuk membantu lembaga-lembaga lokal dan negara bagian untuk segera melakukan tanggapan dan pemulihan.

Meski Scott telah mengumumkan dukungan Trump untuk segera melakukan pemulihan terhadap bencana alam itu. Gedung Putih hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi.

Pakar Cuaca Menyebut Badai Irma 'Berpotensi Bencana'

Karibia dan Florida bagian selatan terletak dalam jalur Irma, yang menurut para pakar cuaca mungkin menjadi badai Kategori 5.

Badai Irma bergerak menuju kawasan disertai angin berkecepatan 297 kilometer per jam, angin paling kuat yang pernah dicatat untuk badai Atlantik.

Peringatan bahaya badai sudah dipasang di bagian-bagian Republik Dominika, Puerto Rico, dan Kepulauan Virgin.

Seorang pakar cuaca mengatakan kepada Associated Press kawasan yang disebut Kepulauan Leeward akan terkena dampak parah. Rangkaian pulau kecil, termasuk Antigua dan Barbuda, Montserrat, dan Guadeloupe – diperkirakan akan menjadi yang pertama merasakan dampak Irma Selasa malam atau Rabu pagi.

Pihak berwenang Puerto Rico telah menyatakan keadaan darurat dan memerintahkan evakuasi. Curah hujan sampai 50 sentimeter mungkin turun di tempat-tempat tertentu dengan gelombang pasang sampai setinggi 6 meter.

“Kami melihat Irma sebagai peristiwa yang sangat signifikan,” kata Ronald Jackson dari Badan Pengelolaan Bencana Karibia. Ia menambahkan, tidak pernah ada kerucut tropis berkembang begitu cepat menjadi badai sebelum tiba di Karibia.

Jalur persis Irma mustahil diramal, tetapi Florida tidak menunggu. Gubernur Rick Scott telah menyatakan situasi darurat, dan wisatawan telah diperintahkan untuk meninggalkan Florida Keys. [ds]

Pemerintah Diminta Pikirkan Efek Bencana Banjir

Pemerintah Diminta Pikirkan Efek Bencana Banjir

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Wakil Ketua Presedium Dewan Kehutanan Nasional, Glorio Sanen mengharapkan pemerintah melakukan langkah penanggulangan akibat bencana banjir yang tejadi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Landak.

"Tentunya penanggulangan pasca bencana secara holistik atau secara utuh. Misalnya penyakit yang disebabkan setelah bencana banjir, karena dalam undang-undang bencana itu ada tiga tahapan yang harus dilakukan," ujarnya di Ngabang pada Rabu (6/9/2017).

Menurut Glorio, sekarang ini kesannya tanggap daruratnya memang cepat. Tapi efek setelah bencana juga harus dipikirkan.

Sedangkan jika berbicara masalah pencegahan, pemerintah dalam hal ini BPBD punya catatan kenapa bencana terjadi dan punya sumber. Misalnya aliran sungai sudah tidak bagus, atau jangan-jangan daya serap air sudah lemah.

"Intinya hal-hal yang bisa dicegah, karena perbuatan atau karena kebijakan bisa dicegah. Cuma kalau murni bencana alam ya tidak bisa, misalnya hujannya deras berminggu-minggu tentu tidak bisa kita tolak banjirnya. Walau pun tata kelola baik," tuturnya.

Maka dari itu, untuk masalah pencegahan pihaknya hanya mendorong kebijakan pemerintah yang lebih ramah lingkungan.

"Intinya kita serahkan ke BPBD, dan mereka punya tim untuk melihat apa penyebab bencana itu terjadi," ungkapnya.

Dengan demikian Glorio menegaskan, masalah penanggulangan pasca bencana harus dilakukan secara holistik. Seperti di sektor pertanian yang pangan-pangan rakyat terendam atau berpotensi gagal panen. Kemudian dari aspek kesehatan, infrastruktur, pendidikan.

"Maksudnya dikerjakan secara holistik dengan melihat secara utuh peristiwa tersebut. Sebab apakah kalau air surut setelah banjir masalah itu selesai, tentu tidak. Jadi penaggulangan pasca bencana jauh lebih penting," pungkasnya.

Masalah koordinasi penanggulangan bencana belum terpecahkan

Jayapura, Jubi - Pemerintah Provinsi Papua menilai sampai hari ini masalah koordinasi dan pemanfaatan sumber daya, dalam penanggulangan bencana alam masih belum terpecahkan.

Hal tersebut ditegaskan Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua, Elia Loupatty saat workshop pengurangan risiko bencana pada lingkungan kerja, di Jayapura, Selasa (5/09/2017).

Disampaikannya pertemuan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai penanggulangan bencana alam, sangat penting dilakukan mengingat bencana bisa kapan saja terjadi dan di mana saja.

"Instansi dari pemerintah provinsi, kabupaten dan kota bisa duduk bersama membicarakan hal-hal teknis terkait dengan penanganan bencana alam di wilayah Papua," ucapnya.

Menanggapi itu, Elia Loupatty meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayahnya meningkatkan koordinasi dengan stakeholder lainnya.

"Saya sarankan kepada petugas BPBD untuk melakukan latihan seolah-olah sedang terjadi bencana dan bagaimana penanganannya, petugas BPBD pun harus siap siaga 24 jam," ucapnya.

Dia menambahkan, pemerintah provinsi Papua telah menyiapkan anggaran sebesar Rp5 miliar mendukung penanganan bencana selama 2017 untuk semua jenis bencana.

Kepala BPBD Provinsi Papua Welliam Robert Manderi mengaku, dalam penanggulangan bencana terkadang mengalami kekurangan sarana pendukung, seperti kekurangan mobil ambulans, mobil toilet, water treatment serta togar light.

"Dapat dibayangkan jika suatu daerah yang terkena bencana tak memiliki lembaga yang menanganani penanggulangan bencana. Hal inilah yang kita harap bisa menjadi perhatian pihak pemerintah kabupaten untuk bisa melaksanakan perintah UU itu," kata Welliam. (*)

Realisasikan Asuransi Bencana, Maipark Gandeng BNPB

Realisasikan Asuransi Bencana, Maipark Gandeng BNPB

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih 148,4 juta jiwa penduduk Indonesia atau 62,4% dari total penduduk Indonesia terpapar bahaya gempa bumi dan tsunami. Pengurangan risiko bencana (PRB) gempa bumi dan tsunami mutlak dilakukan demi melindungi masyarakat Indonesia.

Karenanya, Indonesia, perlu peran aktif dalam menyebarluaskan perkembangan penanggulangan bencana ini ke masyarakat dan pemangku kebijakan, seperti pemahaman ancaman dan tata kelola risiko bencana. Maka guna merealisasikan peran serta dunia usaha dalam meningkatkan pemahaman terhadap risiko bencana, kewaspadaan, kesiapsiagaan dan untuk peningkatan kesejahteraan bangsa, BNPB bekerja sama dengan PT Reasuransi MAIPARK Indonesia.

Dengan adanya nota kesepahaman ini, ke depan, pemerintah melalui BNPB dan dunia usaha seperti yang dilakukan oleh PT Reasuransi MAIPARK Indonesia akan bisa bersinergi dalam menghadapi gempa bumi dan tsunami utamanya terkait dengan industri asuransi. Direktur Utama PT Reasuransi MAIPARK Indonesia Yasril Y. Rasyid mengatakan, melalui kerja sama ini menurutnya akan bisa digunakan sebagai landasan saling mendukung melalui kegiatan kerja sama penanggulangan bencana.

Diterangkan olehnya penanggulangan bencana terdiri dari beberapa tahap, di antaranya adalah prabencana yang meliputi kegiatan yang terdiri dari pencegahan; mitigasi dan kesiapsiagaan.Tanggap darurat meliputi kegiatan kaji cepat; pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan sarana dan prasarana vital. Pasca bencana meliputi kegiatan: rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dalam pelaksanaan kegiatan kesepakan ini semua pihak, terang dia akan mengkoordinasikan pembangunan sarana dan prasarana, pertukaran data dan informasi serta peningkatan kapasitas kelembagaan. "Selain itu untuk mewujudkan kerja sama dan sinergi yang saling menguntungkan dalam rangka memberikan perlindungan melalui asuransi bencana bagi bangsa Indonesia dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," katanya dalam keterangan resminya, Rabu (30/8/2017).

Kerja sama dengan PT Reasuransi MAIPARK mendapat tangapan positif dari Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja. Sambung dia, bencana kapasitas dan kesiapsiagaan nasional dapat terwujud dengan pelibatan berbagai pihak dalam bersinergi untuk pengelolaan risiko bencana termasuk kalangan usaha termasuk di dalamnya PT Reasuransi MAIPARK Indonesia.

"Oleh karena itu, peran lembaga usaha, peran akademisi, peran media diperlukan untuk dapat memberikan solusi-solusi konkret untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh terhadap ancaman bencana, khususnya ancaman bencana gempabumi dan tsunami," ungkapnya.

Wisnu menambahkan bahwa kita bersama perlu memiliki paradigma bahwa bencana tidak perlu diratapi, serta mindset positif terhadap fenomena alam yang berakhir dengan dampak korban maupun kerusakan. Pemikiran positif sangat membantu dalam peningkatan kesadaran kehidupan masyarakat dalam living harmony with risk.

"Dengan memahami dan mengantisipasi kejadian-kejadian bahaya di masa mendatang, masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang pembangunan dapat mengurangi risiko bencana," tukasnya.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menambahkan, sangat penting kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dan kalangan dunia usaha dalam meningkatkan pemahaman terhadap risiko bencana, kewaspadaan, kesiapsiagaan dan untuk peningkatan kesejahteraan bangsa. "Bekerjasama dengan kalangan dunia usaha juga sangat diperlukan, salah satunya adalah kerjasama antara BNPB dengan PT Reasuransi MAIPARK Indonesia pada hari ini," katanya.

Ia juga menyampaikan pemahaman terhadap risiko bencana, kewaspadaan, kesiapsiagaan dan perubahan cara pandang dan perilaku secara nasional dalam menghadapi risiko bencana gempa bumi dan tsunami dari ancaman menjadi peluang untuk kesejahteraan bangsa perlu ditingkatkan. "Masukan berupa pemikiran kritis dan diskusi bersama diharapkan dapat menyempurnakan masterplan tsunami sebagai bentuk kristalisasi sinergitas pembangunan nasional dan pengelolaan risiko bencana," pungkasnya