logo2

ugm-logo

Blog

Alat Berat Bergerak di Pidie Jaya, Korban Gempa Aceh Dilarikan ke RS

Alat Berat Bergerak di Pidie Jaya, Korban Gempa Aceh Dilarikan ke RS

Jakarta - Gempa bumi skala 6,4 SR mengguncang Aceh. Banyak korban yang berhasil dievakuasi dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

Warga Pidie Jaya bernama Supriyadin mengatakan saat ini proses evakuasi masih berlangsung. Sejumlah warga yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

"Sejak pukul 07.00 WIB petugas dan alat berat sudah berdatangan di lokasi. Alat-alat berat sudah bergerak melakukan evakuasi," kata Supiyadin saat dihubungi, Rabu (7/12/2016). Supiyadin mengirimkan foto dan informasi lewat pasangmata.com.

Supiyadin mengaku melihat sejumlah warga yang terluka dilarikan ke rumah sakit. Bahkan dia melihat sejumlah korban meninggal yang digotong oleh petugas.

"Ada sejumlah warga tertimbun, terakhir informasi sekitar 18 ya, tapi bertambah terus. Ada suami istri meninggal di salah satu rumah di Jl Lintas Medan, Banda Aceh dan yang terparah di Kecamatan Ulee Glee," kata dia.

Tim medis dari puskesmas dan rumah sakit juga sudah berada di lokasi. Supiyadin melihat banyak warga yang terluka dan banyak bangunan roboh.

"Banyak korban itu bapak-bapak yang terluka, saya sempat melihat ada satu bocah meninggal tertimbun di rumahnya. Banyak bangunan roboh itu masjid," ujarnya.

Menurut pantauan Supiyadin korban dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit terdekat di Kecamatan Ulee Glee.

"Puskesmas terdekat puskesmas dan rumah sakit umum di Ulee Glee. Gempanya ini ada di beberapa kabupaten dan kecamatan. Sampai saat ini proses evakuasi masih berlangsung.

Gempa 6,4 SR di Aceh, Begini Potret Kepanikan Warga dan Bangunan yang Rusak

Jakarta - Masyarakat berbondong-bondong menyelamatkan diri setelah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, diguncang gempa bumi 6,4 Skala Richter (SR). Sejumlah bangunan rusak bahkan roboh.

Gempa bumi 6,4 SR ini terjadi pada Rabu (6/12/2016) sekitar pukul 05.03 WIB. Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Setelah diguncang gempa bumi, masyarakat berhamburan ke luar rumah dan bangunan. Masyarakat berusaha untuk menyelamatkan diri ke lokasi-lokasi yang aman dan menuju perbukitan.

Masyarakat berusaha menyelamatkan diri.Foto: Istimewa
Masyarakat berusaha menyelamatkan diri.

Masyarakat tampak memadati jalanan di Pidie Jaya. Ada warga yang berjalan kaki, ada juga yang mengendarai motor dan mobil. Suara klakson kendaraan bersautan memecah keheningan pagi hari.

Rumah warga yang rusak akibat gempa bumi.Foto: Istimewa
Rumah warga yang rusak akibat gempa bumi.

Sementara itu, sejumlah rumah rusak parah. Tembok-tembok bagunan rumah retak bahkan ada yang roboh. Demikian juga sejumlah fasilitas umum dan sekolah rusak parah. Salah satunya, Sekolah Tinggi Agama Islam Aziziyah, Jamalanga, Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tembok bercat kuning pada bagunan ini retak-retak.

Ada juga bangunan sekolah yang rusak.Foto: Istimewa
Ada juga bangunan sekolah yang rusak.

Tidak hanya itu, masjid-masjid juga mengalami kerusakan. Ada masjid berlantai dua yang mengalami rusak parah. Sebagian bangunannya roboh.

Masjid di Aceh roboh.Foto: Istimewa
Masjid di Aceh roboh.

Meski demikian, warga tetap khusyuk menunaikan ibadah salat Subuh di masjid. Bahkan, ada puing-puing bagunan yang roboh masih berserakan di lantai masjid.

Warga khusyu menunaikan salat di masjid.Foto: Istimewa
Warga khusyu menunaikan salat di masjid.

Kota-Kota Pantai di Inggris Terancam Berisiko Dihantam Tsunami

Ilustrasi ombak raksasa. (Sumber Thinkstock)

Liputan6.com, Southampton - Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa kawasan pantai Inggris dan infrastrukturnya berada di bawah ancaman tsunami.

Suatu penelitian terkini mengungkapkan bahwa Kepulauan Inggris dulunya pernah dihantam gelombang-gelombang raksasa yang lebih tinggi dan lebih sering daripada yang diduga sebelum ini.

Salah satu tsunami bahkan mencapai ketinggian lebih dari 18 meter. Dengan demikian, mereka memperingatkan bahwa ombak-ombak seperti itu bisa melumat instalasi-instalasi seperti pembangkit listrik dan pelabuhan-pelabuhan.

Dikutip dari Daily Mail pada Senin (5/12/2016), gejala alamiah itu biasanya disebabkan oleh gempa bumi, sehingga tidak dianggap sebagai ancaman serius bagi Inggris.

Namun demikian, bukti yang ada menunjukkan bahwa longsor bawah air dapat menyebabkan miliaran ton lumpur bergeser di dasar laut sehingga menciptakan gelombang-gelombang raksasa di bawah permukaan laut, demikian menurut laporan Sunday Times.

Sekarang para peneliti mengajukan usulan pembuatan rencana-rencana tanggapan di Inggris terkait tsunami, seperti halnya rencana-rencana tanggapan lain semisal banjir.

Kelompok Landslide-Tsunami Consortium meluangkan berminggu-minggu di atas kapal penelitian untuk melakukan survei dan mengambil sampel dari dasar laut, mulai dari Skotlandia hingga pulai Svalbard milik Norwegia.

Profesor Peter Talling, ahli geologi kelautan dari Durham University yang memimpin penelitian berbiaya 2,3 juta pound sterling (Rp 39,4 miliar) ini, mengatakan di Southampton, "Menurut kami, pemerintah harus memikirkan memasukan tsunami dalam daftar National Risk Register of Civil Emergencies."

Bukti yang ada menunjukkan bahwa tsunami raksasa pernah menghantam pantai utara Inggris dan Kepulauan Shetland sekitar 8200 tahun lalu.

Ada bagian dasar laut seukuran Skotlandia yang bergeser dekat Norwegia sehingga menciptakan ombak setinggi 20 meter yang bergerak ke arah barat daya.

Pada 1580, tsunami menenggelamkan beberapa kapal di Dover setelah suatu gempa bumi yang menyebabkan longsor di Kanal Inggris. Saat itu, pada 1755, tsunami setinggi 3 meter menghantam Cornwall.

Di Kalsel, Tim Gabungan Siap Siaga untuk Bencana

BANJARMASIN - Bencana yang terjadi di Banua akhir-akhir ini, mulai menjadi perhatian serius. Tim gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, Tagana serta seluruh stakeholder terkait Senin (28/11) kemarin menggelar apel pasukan untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir.

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor mengatakan, bencana banjir yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama untuk berupaya menanggulanginya. Hal terpenting dalam penanganan bencana ialah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, aparat pemerintah. Serta seluruh pemangku kepentingan, seperti Polri dan TNI. "Seluruh tenaga harus dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini," katanya.

Ia menambahkan, banjir yang telah terjadi di beberapa kabupaten. Seperti di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungan Utara, diakibatkan oleh cuaca yang dipengaruhi oleh Lalina. "Berdasarkan pantauan BMKG Syamsudin Noor tahun ini cuaca dipengaruhi Lalina, sehingga menyebabkan beberapa potensi kerawanan bencana," tambahnya.

Untuk itu, Sahbirin mengimbau agar Basarnas dan BPBD dapat membangun sinergi dan kerjasama mempersiapkan diri. Dengan cara melakukan pengecekan perlengkapan penanggulangan banjir, serta meng-update kembali pemetaan daerah rawan banjir di wilayah Kalsel guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. "Masyarakat juga, harus selalu berhati-hati dengan kondisi cuaca seperti ini," katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 101/Antasari Kolonel Yanuar Adil mengungkapkan, meski belum ada status siaga banjir. Pihaknya telah menyiapkan 100 personil untuk membantu para korban yang diterjang bencana. "Jika diperlukan, kami juga bisa mengumpulkan satu batalyon ke lokasi bencana," ungkapnya.

Ia mengaku, sudah memerintahkan para Komandan Kodim agar memetakan wilayah-wilayah banjir. Agar dapat mengetahui daerah mana saja yang akan menjadi perhatian khusus. "Dandim juga sudah saya perintahkan agar selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat, supaya dapat mengetahui jika banjir datang," ujarnya.

Sedangkan, personel yang disiapkan Polda Kalsel dua kali lipat lebih banyak. Kapolda Kalsel Brigjen Pol Erwin Triwanto mengaku telah menyiapkan 600 personel. "Kami siapkan 600 personel dan beberapa peralatan keselamatan," pungkasnya. (ris/by/ran)

Di Kalsel, Tim Gabungan Siap Siaga untuk Bencana

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Bencana yang terjadi di Banua akhir-akhir ini, mulai menjadi perhatian serius. Tim gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, Tagana serta seluruh stakeholder terkait Senin (28/11) kemarin menggelar apel pasukan untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir.

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor mengatakan, bencana banjir yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama untuk berupaya menanggulanginya. Hal terpenting dalam penanganan bencana ialah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, aparat pemerintah. Serta seluruh pemangku kepentingan, seperti Polri dan TNI. "Seluruh tenaga harus dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini," katanya.

Ia menambahkan, banjir yang telah terjadi di beberapa kabupaten. Seperti di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungan Utara, diakibatkan oleh cuaca yang dipengaruhi oleh Lalina. "Berdasarkan pantauan BMKG Syamsudin Noor tahun ini cuaca dipengaruhi Lalina, sehingga menyebabkan beberapa potensi kerawanan bencana," tambahnya.

Untuk itu, Sahbirin mengimbau agar Basarnas dan BPBD dapat membangun sinergi dan kerjasama mempersiapkan diri. Dengan cara melakukan pengecekan perlengkapan penanggulangan banjir, serta meng-update kembali pemetaan daerah rawan banjir di wilayah Kalsel guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. "Masyarakat juga, harus selalu berhati-hati dengan kondisi cuaca seperti ini," katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 101/Antasari Kolonel Yanuar Adil mengungkapkan, meski belum ada status siaga banjir. Pihaknya telah menyiapkan 100 personil untuk membantu para korban yang diterjang bencana. "Jika diperlukan, kami juga bisa mengumpulkan satu batalyon ke lokasi bencana," ungkapnya.

Ia mengaku, sudah memerintahkan para Komandan Kodim agar memetakan wilayah-wilayah banjir. Agar dapat mengetahui daerah mana saja yang akan menjadi perhatian khusus. "Dandim juga sudah saya perintahkan agar selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat, supaya dapat mengetahui jika banjir datang," ujarnya.

Sedangkan, personel yang disiapkan Polda Kalsel dua kali lipat lebih banyak. Kapolda Kalsel Brigjen Pol Erwin Triwanto mengaku telah menyiapkan 600 personel. "Kami siapkan 600 personel dan beberapa peralatan keselamatan," pungkasnya. (ris/by/ran)