logo2

ugm-logo

Blog

Ombak Laut Selatan Capai 6 Meter, Nelayan Diimbau Tak Melaut

Ombak Laut Selatan Capai 6 Meter, Nelayan Diimbau Tak Melaut

Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang di laut selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali tinggi setelah sempat mengalami penurunan. Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meterologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, ombak di pantai selatan di wilayah Jateng dan DIY sempat mencapai enam meter pada akhir pekan lalu.

"Tinggi gelombang maksimum pada akhir pekan kemarin turun menjadi empat meter namun masih tergolong berbahaya," kata Teguh di Cilacap, Jateng, Senin (23/7) dikutip Antara.

Akan tetapi, katanya, berdasarkan pantauan citra satelit cuaca, gelombang di laut selatan pada Senin ini diprakirakan kembali mengalami peningkatan, terutama di wilayah Samudera Hindia selatan Jateng-DIY.


Tinggi gelombang di wilayah Samudera Hindia wilayah selatan Jateng berpotensi mencapai 4 sampai 6 meter, sedangkan di perairan selatan Jateng-DIY berkisar 2,5 hingga 4 meter.

Bahkan, tinggi gelombang di wilayah Samudra Hindia selatan Jateng-DIY pada Selasa (24/7) hingga Rabu (25/7) diperkirakan mencapai lebih dari enam meter.

Teguh menjelaskan kenaikan tinggi gelombang tersebut dipengaruhi peningkatan kecepatan angin yang bertiup di atas permukaan laut selatan Jateng-DIY yang diprakirakan mencapai 15-30 knot dan cenderung searah dari timur hingga tenggara akibat perbedaan tekanan udara signifikan antara belahan bumi selatan dan utara.

Saat ini di belahan bumi selatan, yakni di Australia bagian tenggara terdapat pusat tekanan tinggi yang mencapai 1.023 milibar, sedangkan di belahan bumi utara terdapat pusat tekanan rendah yang mencapai 998 milibar dan berlokasi di perairan sebelah timur Taiwan.

Ia mengatakan pusat tekanan rendah di perairan timur Taiwan sebelumnya merupakan badai Ampil yang muncul di Samudera Pasifik timur laut Filipina dan memicu gelombang setinggi enam meter di laut selatan Jateng-DIY pada 21 Juli 2018.

Ia mengatakan kekuatan badai tersebut telah melemah dan menjadi tekanan rendah serta posisinya bergeser ke perairan timur Taiwan.

Kekuatan badai Son-Tinh di sekitar perairan selatan Vietnam dan turut memicu terjadinya gelombang tinggi di laut selatan Jateng-DIY pada 21 Juli, kata dia, telah melemah dan menjadi pusat tekanan rendah yang berkekuatan 998 milibar.

"Interaksi antara pusat tekanan tinggi di belahan bumi selatan dan pusat tekanan rendah di belahan bumi utara itu memicu terjadinya angin kencang sehingga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di laut selatan Jateng-DIY," katanya.

Terkait dengan itu, Teguh mengimbau semua pihak yang melakukan aktivitas di laut untuk memperhatikan risiko angin kencang dan gelombang tinggi demi keselamatan. Imbauan khusus diperuntukkan bagi nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil agar mewaspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan gelombang tinggi.

"Jika memungkinkan, nelayan diimbau untuk tidak melaut terlebih dahulu karena gelombang tinggi sangat berbahaya," katanya.

Selain itu, kata dia, operator tongkang agar mewaspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.

Kapal feri mewaspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, sedangkan kapal ukuran besar, seperti kapal kargo, diimbau mewaspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas empat meter.

Ombak Laut Selatan 6 Meter, Nelayan Diimbau Tidak Melaut

SAR Sukabumi Siaga

Di tempat lain, Anggota Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, juga mewaspadai gelombang tinggi laut selatan Sukabumi akibat cuaca buruk yang dipengaruhi kecepatan angin mencapai 30 km per jam.

"Prakiraan cuaca yang kami terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ketinggian gelombang di perairan laut Sukabumi dua hingga empat meter, bahkan di luar Teluk Palabuhanratu gelombang bisa saja lebih tinggi," kata Ketua FKSD Kabupaten Sukabumi Okih Fajri di Sukabumi, Senin.

Pihaknya juga sudah mengimbau kepada nelayan, apalagi yang menggunakan kapal kecil atau tradisional, lebih baik tidak melaut karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan laut.

Menurut Okih, walau kondisi gelombang tinggi, tetapi saat ini di periaran Palabuhanratu sedang musim ikan lisong dan tongkol sehingga banyak nelayan yang diprediksi akan tetap melaut.

Meski begitu, pihaknya meyakini nelayan yang mencari ikan di laut sudah mempunyai perhitungan yang matang. Selain itu, setiap nelayan pun diwajibkan menggunakan life jacket atau pelampung demi keselamatannya selama menjaring ikan di laut.

Untuk itu, FKSD Sukabumi sudah menyiagakan anggota di sejumlah lokasi pantai di Sukabumi. Mereka akan terus memonitor jika terjadi kecelakaan laut akan segera bisa ditangani.

"Kami sudah siagakan anggota untuk memantau aktivitas di laut, sehingga jika ada laporan kecelakaan laut bisa langsung ditanggulangi untuk meminimalisasikan korban," kata Okih. (osc)

Nelayan Perlu Difasilitasi Sistem Penanggulangan Bencana

Gelombang tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gelombang tnggi yang terjadi di sepanjang pesisir pantai selatan Yogyakarta dapat mengancam keselamatan nelayan. Karena itu, para nelayan perlu difasilitasi dengan sistem informasi penanggulangan bencana.  

"Pengetahuan dan pelatihan mitigasi bencana sangatlah penting sebagai pedoman untuk meminimalkan risiko bencana," kata Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto.

Ia juga mengimbau, nelayan dan masyarakat diharapkan selalu mengikuti peringatan dini yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut maupun korban jiwa.

Dari pemetaan yang ada, lanjut dia, terdapat berbagai berbagai potensi bencana,  baik angin kencang,  gelombang tinggi,  gempa bumi, tanah longsor, dan lainnya, di DIY.

"Sehingga kita harus menyiapkan masyarakat tangguh menghadapi bencana didukung peralatan atau sarana prasarana dan teknologi informasi yang baik. Tentu saja kita juga akan tingkatkan kualitas SAR yang lebih tangguh lagi," kata Eko.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Agus Sudaryatno, menegaskan sesuai Perda DIY Nomor 13/2015 tentang Penanggulangan Bencana, ada tugas dan kewenangan yang jelas agar langkah mitigasi bencana bisa efektif berlaku.

Seperti halnya saat terjadi gelombang tinggi, nelayan untuk sementara waktu diimbau agar tidak melaut. Demikian pula para wisatawan yang beraktivitas di sekitar pantai untuk waspada.

"Kepada wisatawan diimbau untuk tidak mandi di laut hingga tinggi gelombang laut kembali kondusif," kata dia.

Sementara itu Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) DIY, Biwara Yuswantana, mengatakan dengan adanya gelombang tinggi di pesisir pantai selatan Yogyakarta, pihaknya mengintensifkan SAR pantai, untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut.

"Orang-orang yang berada di pantai dikondisikan supaya tidak dekat dengan ombak yang bisa datang tiba-tiba," ujarnya.

Gempa Malang Tidak Berpotensi Tsunami

Malang - Meski getarannya cukup keras, gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) yang menggoyang Kabupaten Malang dan sekitarnya tidak berpotensi tsunami.

Kepala Badan Mitigasi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates Malang, mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi, awal gempa berkekuatan 5,8 SR yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi 5,5 SR," kata Musripan.

Episenter atau titik gempa di Malang terletak pada koordinat 09,8 Lintang Selatan (LS) dan 112,72 Bujur Timur. Atau tepatnya berlokasi di tengah laut, pada jarak 184 Km arah selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, pada kedalaman 46 Km.

Melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi berkedalaman dangkal ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia.

sumber: Liputan6.com

Hingga Jumat pagi, terjadi 38 kali gempa susulan di selatan Malang

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2018/07/20/995444/670x335/hingga-jumat-pagi-terjadi-38-kali-gempa-susulan-di-selatan-malang.jpg

Merdeka.com - Gempa susulan terus terjadi pascagempa megathrust berkekuatan 5,5 SR tadi malam yang berpusat di selatan Malang. Hingga pagi ini sudah 38 kali terjadi gempa susulan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates Malang, Musripan, menjelaskan gempa susulan terjadi setelah gempa yang dirasakan di seluruh wilayah selatan Jawa timur dan Bali semalam. Pihaknya mengaku masih menerima banyak pertanyaan dari masyarakat tentang kemungkinan gempa susulan berkekuatan besar.

"Hingga pagi ini Jumat 20 Juli 2018, pukul 08.00 WIB sudah terjadi 38 kali gempa susulan di selatan Malang," kata Musripan dalam pesannya, Jumat (20/7).

Musripan menjelaskan, aktivitas gempa tersebut tergolong masih wajar dan normal. Aktivitas gempa seperti yang terjadi di selatan Malang ini disebut sebagai Gempa Tipe I yang menurut Kiyoo Mogi, ahli gempa Jepang, yaitu tipe aktivitas gempa yang diawali dengan gempa pendahuluan (foreshocks).

Setelah itu dilanjutnya gempa utama (mainshock) dan diikuti serangkaian gempa susulan (aftershocks) yang cukup banyak.

"Gempa selatan Malang ini menjadi menarik karena mengingatkan kita dan menjadi penanda aktifnya zona megathrust di selatan Malang," katanya.

Musripan menyambahkan, menyikapi hal ini tentu langkah paling tepat adalah mengedepankan sikap waspada dengan meningkatkan kapasitas diri, memperkuat mitigasi, tanpa rasa takut dan khawatir berlebihan.

Namun demikian berdasarkan tren data gempa susulannya tampak kecenderungan kekuatannya semakin melemah dan frekuensi kejadiannya semakin jarang.

Dari 38 aktivitas gempa susulan, kekuatan gempa terkecil 3,2 SR dan terbesar 4,9 SR. Berdasarkan data tersebut sangat kecil peluang akan terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar dari gempa utamanya, di tempat tersebut.

Masyarakat tak perlu cemas, takut, dan kawatir. BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa tsb dan hasilnya segera diinformasikan kepada masyarakat.

Perlu dipahami juga, kata Musripan, bahwa semua gempa yang terjadi dengan kekuatan signifikan akan diikuti oleh aktivitas susulan. Sehingga banyaknya gempa susulan di selatan Malang ini masih dinilai wajar.

"Apalagi jika gempa yang terjadi di zona batuan 'rapuh' (brittle) maka gempa susulan yang terjadi akan lebih banyak," tegasnya.

Masyarakat harus memahami bahwa gempa susulan itu 'baik' karena menjadi sarana batuan dalam melepas semua energi yang tersimpan. Sehingga batuan akan menjadi stabil dan normal kembali. [lia]

BNPB dan Kementerian PPPA Tingkatkan Kerjasama dalam Perlindungan Anak Saat Bencana

BNPB dan Kementerian PPPA Tingkatkan Kerjasama dalam Perlindungan Anak Saat Bencana

MATRAMAN - Demi mewujudkan perlindungan terhadap anak dalam situasi bencana, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjalin kerjasama.

Kerjasama tersebut dilakukan demi melindungi anak-anak korban bencana, karena anak dianggap belum dapat menyelamatkan diri sendiri. Sehingga potensi menjadi korban saat bencana terjadi lebih besar.

"Marilah kita kerjasama membangun kesadaran mengenai pentingnya melakukan perlindungan anak dalam situasi bencana," ujar Menteri PPPA Yohana Yambise, Selasa (17/7/2018).

Selama ini, Kementerian PPPA telah melakukan beberapa hal terkait perlindungan anak pada situasi bencana.

Diantaranya, adalah menyusun progran kesiapan keluarga menghadapi bencana, sosialisasi penanganan anak korban, dan pelatihan penanganan anak korban bagi relawan.

Adapun kerjasama Kementerian PPPA dan BNPB adalah terkait perlindungan anak pada tahap mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi di daerah bencana.

Dengan adanya kerjasama dari dua pihak tersebut, diharapkan jumlah anak sebagai korban dapat berkurang, dan mereka memperoleh haknya.

"Prioritas yang dilakukan adalah, melakukan pencegahan agar tidak terjadi kekerasan terhadap anak dan memastikan setiap haknya terpenuhi. Sehingga, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara baik," ujar Yohana.

Sementara itu, Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan, bahwa terobosan baru perlu dilakukan, demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat korban bencana, termasuk anak-anak.

"Pada pertemuan ini, diharapkan dapat mensinergikan kapasitas sumber daya, untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat," ujar Willem.

sumber: http://jakarta.tribunnews.com