logo2

ugm-logo

Blog

BMKG: Lombok Memang Rawan Gempa

KOMPAS.com - Secara tektonik, Lombok merupakan kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara 2 pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrusting).

"Sesar naik ini jalurnya memanjang dari laut Bali ke timur hingga Laut Flores. Sehingga tidak heran jika Lombok memang rawan gempa karena jalur Sesar naik Flores ini sangat dekat dengan Pulau Lombok," ujar Daryono Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG melalui siaran resminya.

Ia melanjutkan, jika kita memerhatikan peta aktivitas kegempaan atau seismisitas Pulau Lombok, tampak seluruh Pulau Lombok memiliki banyak sebaran titik episenter. Ini artinya, ada banyak aktivitas gempa di wilayah tersebut.

Meskipun kedalaman hiposenternya dan magnitudonya bervariasi, namun tampak jelas wilayah lombok adalah wilayah aktif gempa yang bersumber dari subduksi lempeng, Sesar Naik Flores dan sesar lokal di Pulau Lombok dan sekitarnya. Dari sebaran seismitas ini pun cukup menjadi dasar untuk mengatakan bahwa Lombok memang rawan gempa. Catatan sejarah menunjukkan bahwa Pulau Lombok sudah sering terjadi gempa merusak, yaitu:

(1) Gempa dan tsunami Labuantereng, Lombok 25 Juli 1856,

(2) Gempa Lombok 10 April 1978 M=6,7 (banyak rumah rusak)

(3) Gempa Lombok 21 Mei 1979 M=5,7 (banyak rumah rusak)

(4) Gempa Lombok 20 Oktober 1979 M=6,0 (banyak rumah rusak)

(5) Gempa Lombok 30 Mei 1979 M= 6,1 (banyak rumah rusak dan 37 orang meninggal)

(6) Gempa Lombok 1 Januari 2000 M= 6,1 (2.000 rumah rusak)

(7) Gempa Lombok 22 Juni 2013 M=5,4 (banyak rumah rusak)

Gambaran catatan sejarah gempa tersebut kiranya cukup untuk menilai bahwa Lombok memang rawan gempa. Terkait gempa susulan, Daryono memastikan gempa susulan yang terjadi kekuatannya tidak akan sebesar gempa utamanya. "Frekuensi gempa susulan lombok makin jarang dan kekuatannya semakin mengecil. Dari trend gempa susulan, mengindikasikan sangat kecil kemungkinan akan terjadi gempa yang kekuatannya lebih besar dari gempa utamanya," tegas Daryono dihubungi Kompas.com, Senin (30/7/2018).

Kondisi alam semacam ini merupakan sesuatu yang harus diterima, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik.

"Jalan keluarnya, kita harus terus meningkatkan kapasitas dalam memahami ilmu gempa bumi, cara selamat menghadapi gempa dan bagaimana memitigasi gempa bumi, agar kita selamat dan dapat hidup harmoni dengan alam," ujarnya.

sumber: Kompas.com

Gempa Susulan Masih Goncang Lombok Pagi Ini

Jakarta - Gempa bumi berkekuatan 3,3 Skala Richter mengguncang kembali Lombok pukul 04.36 Wita, Rabu (1/8/2018). Lindu tersebut berpusat di darat, 16 kilometer tenggara Kabupaten Lombok Tengah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir pusat gempa berada di kedalaman 11 kilometer.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto mengatakan, berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik," kata Agus.

Guncangan gempa bumi juga dirasakan di Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara, dan Kecamatan Belanting di Kabupaten Lombok Timur dengan skala intensitas I Skala Intensitas Gempa (SIG) BMKG, atau II Modified Mercalli Intensity (MMI).

Hingga pukul 06.30 Wita, tidak ada laporan dampak kerusakan yang timbul akibat gempa bumi tersebut.

"Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Agus seperti dilansir Antara.

sumber: liputan6.com

Gempa Lombok, 333 Pendaki Rinjani Terjebak di Danau Segara Anak

LOMBOK, KOMPAS.com - Hingga pukul 15.00 wita ada 333 pendaki Gunung Rinjani yang masih terjebak di atas. Mereka tidak bisa turun karena jalan turun tertutup longsor akibat gempa bermagnitudo 6,4 yang mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa Minggu (29/7/2018) pagi.

"Kita minta mereka ambil posisi yang aman saja dulu karena jalan tertutup oleh longsor," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu, seperti dikutip Kantor Berita Antara.

TNGR, kata dia, telah berkoordinasi dengan Basarnas Mataram, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan TNI/Polri guna melakukan evakuasi. Hingga saat ini, Balai TNGR telah menerjunkan tiga personel untuk melakukan penjajakan evakuasi. Sebagai antisipasi, seluruh jalur pendakian ditutup untuk sementara waktu sejak pagi hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil mengingat aspek keselamatan para pendaki. Sudiyono menyebutkan, satu pendaki WNI dilaporkan meninggal dunia.Namun, ia belum mengetahui identitas lengkap korban meninggal.

"Posisi korban masih di atas sedang kita pikirkan upaya evakuasinya," ungkapnya. Terjebak di Segara Anak Uspi, salah seorang porter menceritakan, saat gempa terjadi ada sekitar 1.000-an pendaki di atas. Mereka berada di sekitar Segara Anak. Baca juga: 133 Gempa Susulan Guncang Lombok, Masyarakat Diminta Waspada

"Ada ratusan yang masih belum bisa keluar. Karena saat kami di atas ada 1.000-an pendaki masih berada di atas Gunung Rinjani," tutur Uspi yang berhasil turun pada Minggu sore. Menurut Uspi, jalur pintu Senaru di Kabupaten Lombok Utara dan pintu Sembalun di Kabupaten Lombok Timur sudah tidak bisa dilewati karena tertutup material longsor dan bongkahan batu.

"Sudah enggak bisa lewat, kalau dari danau," ujarnya. Gempa di tengah pendakian Ia mengungkapkan, saat terjadi gempa, dirinya bersama para pendaki lainnya sedang menuju puncak Rinjani. Namun, menjelang puncak mereka dikejutkan dengan getaran hebat, sehingga seluruh pendaki menjadi panik dan langsung memutuskan kembali dengan buru-buru turun ke bawah.

"Getarannya besar sekali di atas, semua pendaki juga lagi tiarap, enggak ada yang berani berdiri, bahkan sejumlah pendaki bule-bule sampai ikut teriak-teriak Allahu akbar saat di atas minta keselamatan," tutur Uspi.

Ia mengaku bersyukur bisa tiba dengan selamat bersama pendaki asal Thailand yang jumlahnya enam orang hingga jalur pintu masuk Bawak Nao Desa Sembalun. "Alhamdulilah, kami bisa selamat sampai di bawah," katanya.

sumber:kompas.com

Gempa Lombok: Setidaknya 14 orang meninggal dunia, 162 orang luka-luka, 1.000 lebih rumah rusak

https://pbs.twimg.com/media/DjQ8wDcVsAARsrE.jpg

Gempa kuat yang mengguncang Lombok Nusa Tenggara Barat) dan Bali pada Minggu (29/07) menyebabkan setidaknya 14 orang meninggal dunia, lebih dari 160 lainnya luka-luka, kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Lima di antara korban meninggal dunia dilaporkan adalah anak-anak.

Gempa berkekuatan 6,4 SR tersebut juga menyebabkan lebih dari 1.000 rumah rusak. Hingga Minggu sore waktu setempat dirasakan setidaknya 133 gempa susulan, kata Sutopo.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut hingga sekitar pukul 9.20 WITA, gempa susulan terjadi hingga 66 kali.

"Sepuluh orang meninggal di Lombok Timur, empat lainnya di Lombok Utara," kata Sutop dalam keterangan pada Minggu malam.

Di antara korban meninggal terdapat seorang warga negara Malaysia.

Korban dilaporkan tengah berada di kamar kecil ketika bangunan tempat ia berada ambruk.

"Masyarakat di Lombok Timur dan Kota Mataram merasakan gempa dengan guncangan keras selama 10 detik," kata Sutopo.

Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI pada Kementerian Luar Negeri, mengaku merasakan gempa kuat di kawasan Senggigi, Lombok.

Ia berada di daerah wisata itu saat gempa terjadi.

"Sangat terasa karena berdekatan dengan Lombok Utara. Para turis berhamburan keluar dari hotel karena takut," kata Iqbal kepada BBC News Indonesia.

Iqbal mengatakan, tidak terdapat bangunan hancur di sekitar Senggigi. Ia melihat sebagian turis kembali beraktivitas, sementara sejumlah wisatawan lainnya telah masuk ke hotel.

"Saat ini sedang peak season (musim puncak liburan). Semua hotel sepertinya penuh," kata Iqbal.

Adapun, gempa yang diduga akibat akivitas Sesar Naik Flores itu juga menyebabkan longsor di Gunung Rinjani.

Jalur pendakian gunung itu kini ditutup untuk umum.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat Bali dan NTB tetap mewaspadai potensi gempa susulan.

Menurutnya, kekuatan gempa yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan tidak akan sebesar gempa pada Minggu pagi.

Menurut catatan, sejumlah gempa bumi juga pernah melanda Bali dan NTB pada tahun 2017.

Maret 2017, gempa yang terjadi di kawasan itu tercatat berkekuatan 6,4 SR sementara pada Agustus 2017 sebesar 5,1 SR.

Indonesia berada di kawasan rentan aktivitas seismik yang biasa disebut Pacific Ring of Fire.

Gempa dahsyat di bawah laut berkekuatan 9,3 SR pada Desember 2004 memicu tsunami menewaskan 220.000 orang, 168.000 di antaranya di Indonesia.

Kebakaran di Yunani Tewaskan 74 Orang

Kebakaran hutan di kota Rafina, dekat Athena, Yunani, pada Senin (23/7/2018). (AFP/Angelos Tzortzinis)

KOMPAS.com - Kebakaran hutan melanda wilayah Yunani di kawasan Rafina, Pikermi, Mati, Neo Voutzas, Kinetta dan sekitar wilayah utara Ibu Kota Athena, sebelah timur Attica. Bencana ini terjadi sejak Senin (23/7/2018), dan tercatat telah menelan 74 korban jiwa.

Tak hanya itu, ada 164 orang dewasa dan 23 anak-anak yang mengalami luka parah akibat kejadian ini. Titik api utama berasal dari Kineta, area Penteli dan Kallitechnoupolis.

Terkait bencana tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Yunani Ferry Adamhar dan pejabat KBRI Athena Fungsi Konsuler FX Widiyarso mendatangi lokasi kejadian pada Selasa (24/7/2018) waktu setempat. Dalam siaran pers yang diterima Kompas.com siang ini, disebutkan, pejabat KBRI mendatangi lokasi bencana untuk memastikan keberadaan warga Negara Indonesia yang turut menjadi korban.

Sejalan dengan itu, KBRI Athena sudah mengeluarkan imbauan kepada WNI di Athena untuk berhati-hati dan menjauh dari lokasi kebakaran hutan. Berdasarkan data KBRI Athena, jumlah WNI yang ada di Yunani mencapai 1.300 orang. Disebutkan, KBRI Athena membuka hotline 24 jam terkait tindak lanjut atas musibah ini, di nomor +306946460015 (telepon, Whatsaap, dan SMS).

sumber: https://internasional.kompas.com