logo2

ugm-logo

Blog

Reportase Webinar Dari Konsep Ke Operasional: Membangun Sistem Manajemen Krisis Kesehatan Dari Pra Rumah Sakit Sampai Rumah Sakit

PKMK-Yogyakarta. Dalam penanganan krisis kesehatan seperti bencana atau insiden korban massal sering sekali mengalami masalah koordinasi. Sementara dalam situasi krisis keputusan harus diambil dengan cepat dan tepat di bawah tekanan yang tinggi. Ditambah lagi dengan kondisi insiden korban massal, jumlah pasien dapat melebihi kapasitas tim medis. Pengaturan tim yang terstruktur, akan membantu rumah sakit untuk menyediakan satu pusat komando yang jelas. Pada kesempatan kali ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM melaksanakan Webinar “Dari Konsep Ke Operasional: Membangun Sistem Manajemen Krisis Kesehatan Dari Pra Rumah Sakit Sampai Rumah Sakit” pada Senin (1/12/2025) yang dilaksanakan secara daring. Pelatihan ini diikuti oleh 57 peserta yang berasal dari akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan.

Kegiatan dibuka oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH selaku pembawa acara pada webinar kali ini. Vina membuka acara dengan mengajak seluruh narasumber dan peserta untuk bersama-sama menundukkan kepala dan berdoa bagi korban bencana banjir Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selanjutnya kegiatan dipandu oleh Happy R Pangaribuan, S.KM, MPH, selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan dan moderator yang menyampaikan terima kasih kepala seluruh peserta yang telah hadir dalam kegiatan kali ini. Happy juga menyampaikan pada kesempatan kali ini para peserta akan belajar manajemen krisis kesehatan secara keseluruhan mulai dari konsep hingga bisa operasional, dari pra rumah sakit hingga sampai di rumah sakit.

hdp vina

Dok. PKMK “Doa Bersama Untuk Korban Bencana Banjir Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat” oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH.

hdp happy

Dok. PKMK “Pengantar” oleh Happy R Pangaribuan, S.KM, MPH selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Ali Haedar, Sp.EM, PhD, KPEC, FAHA, FICEP mengenai “Pengaturan Pelayanan Pra Rumah Sakit dalam Manajemen Krisis Kesehatan”. Pada kesempatan kali ini dr. Haedar menjelaskan mengenai gambaran umum korban massal dengan contoh melihat insiden Tragedi Kanjuruhan pada 2022. dr. Haedar menjelaskan mengenai pengertian krisis kesehatan, mass casualty incident, dan apa yang terjadi selama insiden Kanjuruhan tersebut. Melihat kejadian tersebut, perlu dibangun suatu sistem manajemen korban massal mulai dari pra rumah sakit sampai ke rumah sakit. Disampaikan juga oleh dr. Haedar mengenai manajemen lapangan yang mengatur daerah bencana untuk memudahkan pengelolaan korban mulai dari triase hingga rujukan ke rumah sakit tingkat lanjut. Dalam penanganan krisis kesehatan terutama mass casualty incident, manajemen korban menjadi penting karena jumlah korban yang melebihi kapasitas yang tersedia. Manajemen transfer atau sistem rujukan juga menjadi bagian penting dalam penanganan krisis kesehatan untuk memastikan korban dapat dipindahkan dengan aman, cepat, dan efisien ke fasilitas kesehatan yang sesuai.

hdp ali

Dok. PKMK “Pengaturan Pelayanan Pra Rumah Sakit dalam Manajemen Krisis Kesehatan” oleh dr. Ali Haedar, Sp.EM, KPEC, FAHA, FICEP

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD mengenai “Rumah Sakit Siaga Krisis: Strategi, Struktur dan Respons Terpadu”. Pada kesempatan kali ini dr. Hendro menyampaikan bahwa rumah sakit harus tetap aman saat terjadi bencana sehingga tetap dapat berfungsi dalam melakukan pelayanan dan melakukan mitigasi untuk memperkuat fasilitas kesehatan yang ada terutama pada pelayanan primer. dr. Hendro juga menyampaikan beberapa indikator yang harus dimiliki rumah sakit untuk bisa membangun rumah sakit siaga krisis. Indikator tersebut meliputi struktural, non-struktural, serta manajemen kegawatan dan bencana yang terdapat pada Hospital Safety Index. Pengimplementasian Hospital Safety Index sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan dalam Pedoman Penyusunan Hospital Disaster Plan. Setiap rumah sakit harus memiliki dokumen Hospital Disaster Plan yang operasional guna mendukung kesiapsiagaan rumah sakit ketika terjadi bencana. Kemudian dr. Hendro menutup presentasi dengan menyampaikan bahwa PKMK UGM dapat memfasilitasi rumah sakit untuk menyusun Hospital Disaster Plan yang sesuai dengan kondisi yang dimiliki oleh rumah sakit setempat.

hdp hendro

Dok. PKMK “Rumah Sakit Siaga Krisis: Strategi, Struktur dan Respon Terpadu” oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD

Materi terakhir disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes dengan judul “Penguatan Tim Rumah Sakit dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan”. Penguatan tim rumah sakit memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM rumah sakit dalam manajemen krisis, menyusun sistem koordinasi, menjamin kontinuitas layanan, serta menjadi integrasi respons rumah sakit dengan jejaring. Selanjutnya dr. Bella menyampaikan proses penguatan tim rumah sakit harus dilakukan di segala fase, baik pra-krisis, saat krisis, dan pasca krisis kesehatan sehingga perlu dibuat adanya pengorganisasian tim manajemen krisis rumah sakit menggunakan Incident Command System untuk membagi peran bidang-bidang yang sudah ada di kegiatan sehari-hari untuk bisa diaktivasi menjadi tim manajemen krisis rumah sakit. Kemudian dr. Bella menambahkan perlu adanya keterhubungan antara pra rumah sakit dan rumah sakit ketika terjadi krisis kesehatan. Komponen penguatan tim rumah sakit yang dapat dilakukan antara lain sistem komando, pelatihan dan simulasi multidisiplin, koordinasi lintas instansi, komunikasi dan sistem informasi krisis, serta pemantauan dan evaluasi. Sehingga penguatan ke depan yang dapat dilakukan adalah jejaring lintas sektor, digitalisasi sistem peringatan dini, integrasi rumah sakit ke rumah sakit, pendekatan one health, dan pusat komando krisis kesehatan.

hdpbella
Dok. PKMK “Penguatan Tim Rumah Sakit dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan” oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Selama sesi penyampaian materi, peserta memberikan tanggapan dan pertanyaan atas materi yang telah disampaikan. Peserta tampak antusias dan aktif ketika sesi diskusi berlangsung. Banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta untuk berdiskusi bersama dengan narasumber. Sebelum kegiatan ditutup, dilakukan foto bersama peserta pelatihan.

hdp foto bersama

Dok. PKMK “Foto bersama peserta Webinar “Dari Konsep Ke Operasional: Membangun Sistem Manajemen Krisis Kesehatan Dari Pra Rumah Sakit Sampai Rumah Sakit”

Reporter: dr. Muhammad Alif Seswandhana (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Reportase

“Workshop Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan”

Balai Pelatihan Kesehatan, Daerah Istimewa Yogyakarta


hdp dinkes diy 1

Rabu, 15 Oktober 2025 | PKMK-Yogyakarta. Workshop Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan (15/10/2025), Indonesia berada pada jalur “cincin api” dengan intensitas bencana yang tinggi. Dalam dua dekade terakhir, frekuensi kejadian bencana alam dan non-alam meningkat signifikan, dan hampir setiap kejadian memiliki konsekuensi langsung terhadap sistem kesehatan masyarakat. Gangguan pelayanan, keterlambatan distribusi logistik, tekanan besar pada SDM kesehatan, serta lemahnya koordinasi antar Lembaga menjadi tantangan nyata di lapangan.

Sebagai salah 1 upaya memperkuat kapasitas daerah menghadapi ancaman tersebut secara terencana, cepat, dan terukur, bukan sekadar reaktif. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan, Rabu (15/10/2025) di Balai Pelatihan Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta dari Dinas Kesehatan Provinsi dan seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta, masing-masing sebanyak 5 orang sebagai perwakilan per wilayah, dengan metode kegiatan berupa ceramah, diskusi, dan praktik teknis.

hdp dinkes diy 2

Paparan materi pembuka disampaikan oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH (Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DIY), yang menekankan bahwa keberhasilan respons krisis kesehatan sangat bergantung pada kecepatan koordinasi dan kejelasan struktur komando. Menurut Anung, pendekatan birokratis tidak cukup tanggap untuk menghadapi situasi darurat yang berkembang cepat, sehingga peran Health Emergency Operation Center (HEOC) menjadi sangat penting. HEOC berfungsi sebagai pusat komando berbasis data yang memungkinkan pengambilan keputusan cepat, terarah, dan terkoordinasi lintas bidang. Dalam konteks DIY yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam seperti erupsi gunung berapi, keberadaan sistem HEOC yang kuat serta peran aktif kepala dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota menjadi kunci kesiapsiagaan. Narasumber menekankan bahwa penetapan status krisis harus dilakukan secara cepat dan tepat agar respons lapangan tidak tertunda, karena keterlambatan satu hari saja dapat berimplikasi besar terhadap nyawa masyarakat.

hdp dinkes diy 3

Setelah membahas aspek kebijakan dan struktur komando, alur materi mengalir ke pembahasan yang lebih teknis tentang peran sistem informasi dalam krisis kesehatan yang disampaikan oleh Happy R. Pangaribuan, SKM, MPH (PKMK FK-KMK UGM). Happy menjelaskan bahwa banyak kegagalan respons di lapangan bukan terjadi karena kekurangan sumber daya, melainkan akibat keterlambatan arus informasi yang menyebabkan keputusan strategis tidak dapat diambil tepat waktu. Ia menegaskan pentingnya peta risiko dan peta respon sebagai instrumen operasional, bukan sekadar pelengkap laporan. Prinsip early warning-early action harus menjadi dasar dalam perencanaan, sehingga deteksi dini ancaman langsung diikuti langkah nyata di lapangan.

Narasumber beranjak ke sesi selanjutnya yaitu tahap pemulihan pasca krisis dalam manajemen bencana. Pihaknya memperkenalkan pendekatan Post-Disaster Needs Assessment (PDNA) sebagai alat untuk merencanakan pemulihan yang tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan sistem kesehatan secara menyeluruh. PDNA menilai kerusakan, kapasitas, dan kebutuhan jangka pendek maupun panjang sehingga pemulihan dapat terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah. Melalui pendekatan ini, krisis kesehatan tidak hanya dipandang sebagai peristiwa darurat yang harus ditangani sesaat, tetapi sebagai momentum memperbaiki kelemahan sistem dan membangun ketangguhan jangka panjang.

hdp dinkes diy 4

Pembahasan selanjutnya bergerak ke aspek lapangan yang lebih operasional, disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes (PKMK FK-KMK UGM). Bella mengangkat dua aspek penting sekaligus yakni manajemen tanggap darurat dan perlindungan SDM kesehatan. Pihaknya menggarisbawahi bahwa fase tanggap darurat sering menjadi titik paling kritis dalam manajemen krisis. Banyak daerah mengalami kesulitan karena penetapan status darurat tidak diiringi dengan kesiapan operasional yang matang. Mobilisasi SDM, logistik, dan koordinasi lintas sektor sering kali terhambat oleh belum kuatnya struktur komando. Di sinilah Incident Command System (ICS) menjadi sangat penting untuk memastikan alur perintah jelas dan cepat. Dalam simulasi aktivasi HEOC, peserta mempraktikkan bagaimana koordinasi lintas bidang dapat berjalan lebih efektif dengan struktur komando yang seragam.

Tidak berhenti di aspek koordinasi teknis, narasumber juga menyoroti sisi yang kerap terabaikan, yaitu perlindungan tenaga kesehatan. Dalam banyak krisis, nakes berada di garis terdepan dengan risiko tinggi terhadap kelelahan ekstrem, paparan penyakit, tekanan psikologis, hingga stigma sosial. Ia menegaskan bahwa keberlangsungan layanan kesehatan sangat bergantung pada kondisi para tenaga kesehatan itu sendiri. Oleh sebab itu, penyediaan APD yang memadai, briefing keselamatan, rotasi petugas, serta dukungan psikososial menjadi elemen yang harus masuk dalam rencana kontinjensi daerah. Penguatan aspek ini bukan hanya soal melindungi individu, tetapi menjaga daya tahan sistem kesehatan agar tetap berfungsi dalam jangka panjang selama krisis.

hdp dinkes diy 5

Rangkaian materi kemudian mengalir ke isu logistik, yang disampaikan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid (PKMK FK-KMK UGM). Beliau memaparkan bahwa logistik merupakan urat nadi dari setiap respons krisis. Namun, dalam praktiknya, sering kali bantuan logistik yang datang tidak sesuai kebutuhan prioritas di lapangan. Perencanaan logistik yang kurang matang menyebabkan penumpukan bantuan di lokasi yang salah, sementara kebutuhan mendesak tidak terpenuhi. Gde menekankan pentingnya perhitungan kebutuhan logistik yang akurat, pemetaan rantai distribusi, serta koordinasi lintas sektor untuk memastikan sumber daya sampai pada sasaran dengan cepat.

hdp dinkes diy 6

Peserta kemudian dilatih melakukan kalkulasi kebutuhan logistik berbasis populasi terdampak, jenis bencana, dan durasi tanggap darurat. Latihan ini memperlihatkan bahwa keakuratan perencanaan logistik menentukan kelancaran respons operasional di lapangan. Jika ditarik ke dalam satu benang merah, seluruh sesi workshop ini membentuk satu rangkaian logis dan saling menguatkan. Kebijakan dan struktur komando yang kuat menjadi fondasi awal. Sistem informasi memastikan keputusan dapat diambil cepat dan tepat. Manajemen tanggap darurat serta perlindungan SDM menjamin respons berjalan efektif dan berkelanjutan. Sementara logistik memastikan semua upaya di lapangan memiliki dukungan nyata untuk bergerak. Fase pemulihan pasca krisis melengkapi siklus dengan memastikan perbaikan dan penguatan sistem berjalan berkelanjutan.

hdp dinkes diy 7

Dari hasil kegiatan, teridentifikasi sejumlah tantangan strategis yang perlu diperkuat di daerah. Koordinasi lintas level pada fase awal krisis masih perlu ditingkatkan. Sistem logistik perlu direncanakan lebih presisi agar bantuan sesuai kebutuhan. Perlindungan tenaga kesehatan perlu dijadikan prioritas dalam dokumen rencana kontinjensi. Terakhir, fase pemulihan harus diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan kesehatan daerah agar tidak menjadi bagian yang terlupakan. Namun demikian, DIY memiliki modal kuat berupa jejaring komunitas, kapasitas akademik, dan dukungan kelembagaan yang memungkinkan perbaikan sistem dilakukan secara progresif.

Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

Reportase

Knowledge Co-Creation Programme (KCCP) for Disaster Health Managament for ASEAN Member States

Minami Senri Hospital – JICA Kansai Center

21 Oktober – 7 November  2025


Japan International Cooperation Agency atau JICA mendukung sektor kesehatan ASEAN dalam mewujudkan tujuan strategis terkait manajemen kesehatan bencana melalui implementasi Project for Strengthening the ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management (the ARCH Project), yang merupakan bagian dari Work Programme 2016-2020 of ASEAN Health Cluster 2 on Responding to All Hazards and Emerging Threats. Proyek ini, yang dipimpin oleh Thailand melalui the Ministry of Public Health (MOPH) and National Institute for Emergency Medicine (NIEM), yang bertujuan untuk membangun mekanisme kolaborasi manajemen kesehatan bencana di kawasan ASEAN.

Proyek ARCH Fase 1, yang dilaksanakan pada periode antara Juli 2016 dan Desember 2021, telah memfasilitasi kontribusi signifikan dalam memperkuat manajemen kesehatan bencana di kawasan ini melalui pembentukan mekanisme dan perangkat koordinasi regional, pelaksanaan pelatihan peningkatan kapasitas regional, dan simulasi kolaborasi,. Proyek ini juga berkontribusi pada pengembangan ASEAN Leaders’ Declaration on Disaster Health Management (ALD-DHM) yang diadopsi pada KTT ASEAN ke-31 pada November 2017, dan perumusan Rencana Aksi atau Plan of Action (POA) untuk Implementasi ALD-DHM 2019-2025 yang diadopsi pada ASEAN Health Ministers Meeting ke-14 (AHMM) pada 2019.

 kccp jepang 2025

Caption: Alumni pelatihan KCCP-DHM for AMS (Knowledge Co-Creation Program for Disaster Health Management in ASEAN Member States) angkatan sebelumnya.

Realisasi area prioritas POA untuk ALD-DHM merupakan komitmen jangka panjang Sektor Kesehatan ASEAN, Maka proyek ARCH Fase 2 (2022-2026) diluncurkan pada Januari 2022 untuk memastikan pelaksanaan inisiatif yang berkelanjutan yang berkontribusi pada implementasi POA. Operasionalisasi POA untuk ALD-DHM dan implementasi Proyek ARCH Fase 2. Kemudian, untuk mencapai kolaborasi regional yang lebih baik, Proyek ARCH Fase 2 mencakup pelatihan Knowledge Co-Creation Program (KCCP) untuk memperkuat kapasitas nasional yang akan dilaksanakan di Jepang antara tahun 2022-2026.

Program ini bertujuan untuk membantu peserta dari negara anggota ASEAN dalam mengidentifikasi tantangan dalam manajemen kesehatan bencana, termasuk kedokteran darurat, di negara masing-masing, dan merumuskan rencana aksi untuk mengatasi tantangan tersebut melalui pembelajaran kasus dan pengalaman Jepang serta internasional lainnya dalam manajemen kesehatan bencana dan kedokteran darurat.

Facebook Page https://www.facebook.com/jica.archproject
The Phase 2 Project for Strengthening the ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management (ARCH 2) https://www.jica.go.jp/oda/project/2004724/index.html?wovn=en
ASEAN Institute for Disaster Health Management https://aidhmsecretariat.org/index.php/about/

Sasaran program ini ditujukan untuk pejabat dari lembaga pemerintah atau institusi kesehatan negara-negara anggota ASEAN yang bertanggung jawab atas sistem manajemen kesehatan bencana/kedokteran darurat; atau praktisi medis/staf non-medis yang berpengalaman dalam manajemen kesehatan bencana, kedokteran darurat; atau dosen di universitas yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam manajemen kesehatan bencana dan kedokteran darurat di negara-negara ASEAN.

Peserta berkesempatan berkunjung ke Jepang untuk mempelajari pengalaman dan pengetahuan Jepang serta internasional lainnya tentang pengembangan sistem manajemen kesehatan bencana dan kedokteran darurat, antara lain melalui kuliah, kunjungan observasi, dan latihan. Peserta juga akan merumuskan rencana aksi yang menjelaskan apa yang akan dilakukan peserta setelah kembali ke negara asal dengan memanfaatkan pengetahuan dan ide yang diperoleh melalui program ini.

 

Day-0 Pre-Deployment Process, 10 Oktober 2025

Sebelum keberangkatan, dilaksanakan pre-deployment briefing, yang mencakup tinjauan dan pemutakhiran dari AMS DHM database. Peserta KCCP 2025 diminta untuk meninjau AMS DHM database di negara masing-masing dan memperbarui isinya berkoordinasi dengan anggota PWG (project working group) dan mantan peserta KCCP (2022-2024) dari masing-masing negara untuk mengonfirmasi status implementasi dari Rencana Aksi sebelumnya.

 

kccp d0 1

Caption: Responsible Officer untuk setiap National Target POA-ALD di Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes beserta jejaring Peserta KCCP-DHM for AMS.

 

Template Presentasi Country Report (CR)/Action Plan (AR) berisi: Profil Negara, Kerangka Disaster Health Management, Rencana Aksi 2024 yang dipresentasikan oleh peserta KCCP 2024, Analisis dari penilaian kemajuan 7 target nasional (NT) yang disetujui oleh AHMM ke-14, 29 Agustus 2019 di  Siem Reap, Kamboja melalui POA/ALDDHM, antara lain:

1. Setiap Negara Anggota ASEAN memiliki setidaknya satu I-EMT yang memenuhi standar minimum I-EMT ASEAN atau WHO.
2. EMTCC telah dibentuk.
3. SOP Nasional untuk Koordinasi EMT yang menentukan protokol dalam koordinasi EMT; seperti permintaan dan penawaran bantuan, proses RDC, proses CIQ, atau otorisasi tenaga kesehatan profesional telah dikembangkan.
4. Sistem pelaporan standar untuk EMT telah dikembangkan.
5. Setiap Negara Anggota ASEAN memiliki sistem pelatihan manajemen kesehatan bencana untuk pengembangan kapasitas, manajemen pengetahuan, inisiatif penelitian dan pengembangan, bekerja sama dengan pusat pelatihan AMS lain yang ditunjuk dan dengan jaringan akademik terkait, sebagaimana mestinya.
6. Konsep manajemen kesehatan bencana telah diperkenalkan dalam pendidikan kesehatan untuk negara-negara terkait.
7. Proyek dan program rumah sakit yang aman diinisiasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons rumah sakit beserta mekanisme jaminan mutu (penilaian berkelanjutan).

Day-1, Tempat: Saiseikai Senri Hospital, Selasa - 21 Oktober 2025

Pada hari pertama dilakukan

kccp d1 1

Caption: Peserta KCCP-DHM for AMS angkatan ke-4 menerima materi di lantai 4 Minami Senri Hospital.

Materi hari pertama:

Judul Materi

Pemateri

Ringkasan dan link

JICA Briefing

JICA Staff, JICA Kansai Center

Menginformasikan do and donts yang harus diperhatikan oleh peserta, besaran allowance dan mekanisme pencairan, asuransi kesehatan selama di Jepang

Briefing (KCCP Program, Country Analytical Work, Action Plan Development)

Taro Kita, ARCH Project

Memperkenalkan tujuan dan modalities dari kegiatan serta petugas pendukung kelancaran kegiatan

Overview of Emergency Medicine System in Japan (history, system, structure)

Tatsuro Kai, Chair of Japan Advisory Committee for ARCH Project

Epidemiologi bencana kesehatan, dan semacam rencana kontingensi untuk bencana sesar Nankai

Japan's Experience in Large-Scale Disaster Response

Sejarah pembentukan DMAT, doctor car, heli doctor dan system SPGDT Jepang

Response System and  Mechanism for MCI (Mass Casualty Incident) in Japan

Penguatan system SPGDT Jepang berbasis pengalaman anjloknya kereta Fukuchiyama JR

 kccp d1 2

Caption: Kartu peserta pelatihan beserta hak dan tanggungjawabnya

 kccp d1 3

Caption: Panitia penyelenggara KCCP-DHM for AMS beserta tugas dan fungsinya, selain nama-nama di atas juga ada fasilitator dari ARCH Project yang didatangkan dari Bangkok, yaitu Ms. Chalisa Saencharoen (Fa) yang membantu di dua minggu pertama dan Ms. Nontanaree Ukkaratanalert (Angie) untuk satu minggu terakhir pelatihan.

Foto-foto hari ke-1

Drive

Day-2 di Saiseikai Senri Hospital, Rabu - 22 Oktober 2025

Materi hari kedua:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
(NT4)J-SPEED/ EMT MDSS/Application of EMTMDS in AMS
  • Tatsuhiko Kubo Public Health, Graduate School,  Hiroshima University
  • ODGEREL CHIMED-OCHIR
  • Madelina Ariani
  • Jiro Oba, DMAT Secretariat, Japan Institute for Health Security (JIHS)
Mengenalkan inisiatif pengumpulan data, baik dari sejarah, mekanisme dan hands-on penggunaan form minimum data set (MDS)
SASOP and ASEAN mechanism in Disaster Response Sithu Pe Thein, Director of Operations in The AHA Centre Mengenalkan SASOP ASEAN sejarah penanggulangan bencana di AMS
(NT7)Efforts for Disaster-Resilient Hospitals and Medical Systems (Senri Critical Care Medical Center/ Disaster Reduction Center (DRC) Suita) Yusuke Itoh, Director, Senri Critical Care Medical Center (SCCMC), Senri Saiseikai Hospital, Reduction Center (DRC), Suita Memberikan pemahaman bagaimana rumah sakit menjalankan business continuation plan (BCP) yang lebih mirip dengan HDP jika diindonesiakan

 kccp d2 1

Caption: Materi tentang MDS yang diberikan oleh Prof Tatsuhiko Kubo Public Health, Graduate School,  Hiroshima University dan para asistennya, Dr Odgerel Chimed-Ochir dan Ms Madelina Ariani, serta implementasinya di lapangan oleh Dr Jiro Oba

Foto-foto hari ke-2 Drive

 

Day-3 di Saiseikai Senri Hospital, Kamis - 23 Oktober 2025

Materi hari ketiga:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
(NT1) International Trends in Emergency Medical Teams (EMT Soichiro Kai, Hyogo Emergency Medical Center Perbedaan DMAT dengan JDR, dan bagaimana anggota JDR juga membantu operasioalisasi EMT-CC di daerah terdampak bencana
(Special Session) Incorporating Social Vulnerability Considerations into EMT Operations
Disasters and Gender Keiko Ikeda, Faculty of Global Interdisciplinary Science and Innovation, Shizuoka Univ. Sebetulnya materinya tentang kesehatan reproduksi tapi tidak menggunakan pendekatan sub-klaster kesehatan reproduksi
Disasters and people with disabilities Shigeo Tatsuki, Faculty of Social Studies, Doshisha Univ. Respon bencana yang inklusif dan memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas dan lansia serta menjelaskan epidemiologi kelompok rentan di Jepang
Disasters and Elderly People Tatsuro Kai, Chair of Japan Advisory Committee for ARCH Project

Incorporating Social Vulnerability Considerations into EMT Operations

 kccp d3 1

Caption: Group work tentang bagaimana membangun dan menentukan posisi i-EMT di lapangan, di mana pintu masuk, tenda pelayanan dan tenda untuk kebutuhan individu anggota EMT. Gde sedang menjelaskan layout EMT ke peserta dari Thailand dan Brunei Darussalam.

Foto-foto hari ke-3 Drive Foto

Day-4 di Saiseikai Senri Hospital, Jumat - 24 Oktober 2025

Materi hari keempat:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
(NT6)Introduction of Disaster Health Management Concepts in Health Education in Japan Yosuke Takada, apanese Red Cross Hiroshima College of Nursing DHM diajarkan sebanyak 31-38jam di fakultas-fakultas kesehatan di jepang denganmateri yang tidak hanya teknis klinis namun juga manajerial (CSCATTT)
(NT6) Building Trans-disciplinary Mechanism to Boost up Education, Research and Practice for Health Security Yuichi Imanaka, Department of Healthcare Economics and Quality Management, Kyoto University School of Public Health Mejelaskan pendekatan health security yang terintegasi dalam pendidikan DHM dan system masyarakat, juga diarusutamakan saat menyusun HDP
NT6 Experience Sharing from AMS Philippines
J-HELP Course
  • Yasuaki Mizushima,  Deputy Director, Osaka Keisatu Hospital Osaka International Medical Science Center
  • Arito KAJI, Director, ER Kishiwada Tokusyukai Hospital
  • Chiaki TOIDA, Altitude Emergency and Critical Care MedicaCenter, Faculty of Medicine, Shinsyu Univ.
  • Taichi Takeda, School of Medicine and Health Science, Tsukuba Univ.
  • Kohei Takahashi ER, Yokohama Municipal Citizen's Hospital
  • Tomoya HIROSE The Department of Traumatology and Acute Critical Medicine, The Univ. of Osaka
  • Taro IRISAWA, The Department of Traumatology and Acute Critical Medicine, The Univ. of Osaka

Kursus singkat Hospital Disaster Plan (HDP) Jepang yang berbasis MIMMS, bagaimana menganalisa apakah RS membutuhkan evakuasi atau tidak, apa saja langkah-langkah untuk memutuskan evakuasi

Pdoman dapat diakses di:  Unduh ->

       

kccp d4 1

Caption: Group work tentang bagaimana menentukan apakah RS perlu dievakuasi seluruhnya atau dievakuasi sebagian, siapa saja yang bertanggung jawab dalam proses evakuasi dan apa parameternya. Kelas dibagi dua dan diberikan scenario table-top exercise untuk dipecahkan bersama-sama dipandu oleh fasilitator dari RS

Foto-foto hari ke-4 Drive Foto

 

Day-5&6 di Saiseikai Senri Hospital, Sabtu & Ahad – 25 & 26 Oktober 2025

Kegiatan saat akhir pekan:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
Rekishi Kaido, Cultural & Historical Experience Rekishi Kaido Promotional Council Penjelasan tentang sejarah jepang terutama era shogun, karena akan berkunjung ke Kinkaku-ji (The Golden Pavilion), yang dibangun oleh Ashikaga Yoshimitsu pada 1397 dan berkunjung ke Kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto

kccp d5 1

Caption: Peserta KCCP mendapatkan  kesempatan untuk belajar budaya dan sejarah Jepang yang merupakan kolaborasi dari JICA dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Jepang

Foto-foto hari ke-5 Drive Foto

 

Day-7 di Saiseikai Senri Hospital, Senin - 27 Oktober 2025

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
Disaster Medical Response System in Japan- “Designated Disaster Base Hospital System, Wide-area Medical Evacuation System, Disaster Medical Assistance Team (DMAT),
  • Yuichi Koido
  • Akinori Wakai
  • Jiro Oba
  • Yoshiki Toyokuni
  • Kayoko Chishima
Bagaimana pengelolaan DMAT (yang sangat relevan dengan dashboard TCK yang dikembangkan oleh Kemenkes) dan konversinya menjadi JDR serta quality maintenance dalam payung disaster base hospital dan system SPGDT yang lebih komprehensif antar prefecture termasuk pendataan dan system informasi pasien. Kemudian dijelaskan jenis-jenis peningkatan kapasitas untuk anggota DMAT.

Emergency Medical Information

System (EMIS)”

(NT5) Training System of DMAT
NT5 Experience Sharing from AMS Myanmar, Singapore Pengalaman menerima dan mengirimkan tim saat gempa Myanmar 2023

kccp d7 1

Caption: Peserta KCCP berfoto bersama dengan para instruktur dari DMAT dan/atau JDR

Foto-foto hari ke-7 Drive Foto

Day-8 di Saiseikai Senri Hospital, Selasa - 28 Oktober 2025

Materi hari ke-delapan

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
NT7)Disaster-Resistant Hospital Junko Ikeuchi, Department of Architecture, Faculty of Science and Engineering, Setsunan University Pengealan inovasi struktur untuk membuat RS lebih aman bencana yakni dengan menambahkan penyangga segitiga pada kolom bangunan
(NT4)Health Needs Assessment (HNA) Yosuke Takada, apanese Red Cross Hiroshima College of Nursing Bagaimana penyelenggaraan RHA menggunakan form HNA yang menjadi lampiran dari SASOP dan analisis-nya
(NT5) Disaster Health Management (DHM) Training in Japan Tatsuro Kai, Chair of Japan Advisory Committee for ARCH Project Jenis-jenis pelatihan untuk tim bencana, termasuk untuk kejadian korban massal, nubika, kefarmasian dan logistic bencana. AED dan BLS sudah diajarkan di sekolah sejak dini.
(NT7)Hazard scenario setting for disaster response risk assessment method Norio Maki, Disaster Mitigation Planning for Built Environment, Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University Menghitung dampak bencana dengan rumus D=f(h,v,e), rencana kontigensi bencana di Osaka dan visualisasi ceklist BCP menggunakan perspektif kapasitas lonjakan (4S).

 kccp d8 1

Caption: Group work untuk menentukan apa yang dibawa saat melakukan RHA ke lapangan. Tim Indonesia menjawab tugas yang diberikan bekerja sama dengan tim Laos.

Foto-foto hari ke-8 Drive Foto

Day-9 di Saiseikai Senri Hospital, Rabu - 29 Oktober 2025

Materi hari ke-sembilan:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
(NT1)Psychiatric and Mental Health Care during Disaster Response in Japan, and the Disaster Psychiatric Assistance Team (DPAT) Sho Takahashi, Disaster Psychiatry, Institute of Medicine, University of Tsukuba Membangun tim DPAT-Disaster Psychiatric Assistance Team di mana tim ini juga harus melapur ke semacam HEOC saat terjadi bencana.
(NT1)Mental Health and Psychosocial Support in International Medical Relief Reo Morimitsu, Disaster Management Research Institute, Japanese Red Cross College of Nursing Membangun MHPSS di komunitas, dan skrining kesehatan jiwa tidak hanya ke pengungsi namun juga responder.
(NT1-4)ASEAN Collective Measures Taro Kita, ARCH Project Mengenalkan kembali SASOP dan pedoman terkait EMT di dalamnya. Termasuk kegiatan-kegiatan ASEAN untuk membangun kapasitas terkait DHM.
(NT3)ASEAN SASOP/ EMT SOP Taro Kita, ARCH Project
AMS Experience Sharing Malaysia, Thailand Sharing terkait pendidikan DHM
(NT5)"DHM training in ASEAN" Shuichi Ikeda, ARCH Project Konsep da nisi dari B-Course dan C-Course dan bagaimana nantinya AIDHM dapat mengakomodasi kerangka elatihan DH di AMS.
AMS Experience Sharing Brunei, Lao PDR, Vietnam Sharing terkait pendidikan DHM
AMS Experience Sharing Indonesia Sharing terkait kebijakan RS aman

 

 kccp d9 1

Caption: Peserta Indonesia dari Pusat Krisis Kesehata, dr. Wisye Mokoginta, menjelaskan terkait kebijakan RS aman bencana dan membagikan link pedoman RS aman bencana yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris yang dapatdiakses di https://s.id/IDsafehospital

Foto-foto hari ke-9 Drive Foto

 

Day-10 di Saiseikai Senri Hospital, Kamis - 30 Oktober 2025

Materi hari ke-sepuluh:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link

(NT2)International Trends in

Emergency Medical Teams (EMTCCCase Report

Yoshiki Toyokuni, DMAT Secretariat, Japan Institute for Health Security (JIHS) Pengalaman JDR dalam membantu pengelolaan EMTCC di beberapa bencana di dunia, ada delapan fase operasonal EMTCC mulai dari kesiapsiagaan, ativasi, operasi, deaktivasi dan transisi ke otoritas kesehatan setempat.

(NT3)Policy on Receiving

International Assistance in the Eveof a Major Disaster in Japan

AMS Experience Sharing Indonesia Pengalaman Indonesia mengelola iEMTCC sebagai bagian dari klaster kesehatan bersama dengan dinkes provinsi dan kemenkes
AMS Experience Sharing Thailand Pengalaman mengelola EMTCC saat RCD

(NT1)Overview of Japan Disaster

Relief (JDR) Medical Team and its Challenges

  • Yukiko Habano, Japan Disaster Relief Team (JDR)Secretariat, JICA
  • Tomoki Nakamori, Emergency & Critical Care Center, Yokohama Rosai Hospital
Komposisi tim, pengelolaan anggota, layout tenda, training program dan proses reklasifikasi iEMT JDR dan pengalaman lapangan international deployment sebagai tim kesehatan. Jadwal harian mulai dari mengeluarkan logistic, membka tenda hingga handing over pasien saat gempa Turki dan Myanmar.
AMS Experience Sharing Cambodia, Malaysia Pengalaman membentuk tim EMT

 kccp d10 1

Caption: Peserta Indonesia dari UGM, apt.Gde Yulian, menjelaskan terkait pengalaman mengelola EMT-CC saat gempa Padang 2009 dan membagikan link pedoman nasional penanggulangan krisis yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris yang dapat diakses di https://s.id/IDdhmguideline   

Foto-foto hari ke-10 Drive Foto

 

Day-11 di Saiseikai Senri Hospital, Jumat - 31 Oktober 2025

Materi hari ke-sebelas:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link

(NT2) International Trends in

Emergency Medical Teams (EMTCC

Tomoaki Natsukawa, Yodogawa Christian Hospital Pengelolaan EMTCC termasuk data dan informasi dan quality control EMT dan hubungannya dengan RDC dan OSOCC yang dibentuk oleh UNDAC

(NT2) Coordination of Disaster

Medical Response in Japan

Yusuke Itoh, Director, Senri Critical Care Medical Center (SCCMC), Senri Saiseikai Hospital, Reduction Center (DRC), Suita Jenis-jenis tim bencana yang ada di Jepang dan pengelolaan semacam TCK di level regional/ prefektur di Jepang. Pengalaman dari Gempa Noto.
Briefing/ Preparation for The Senri Medical Rally Penjelasan tentang penyelenggaraan medical rally yang akan diselengarakan pada akhir pecan di Kansai University.

 kccp d11 1

Caption: Olahraga bersama peserta pelatihan KCCP dengan residen-residen dan tenaga medis di RS Senri yang menjadi agenda rutin tiap tahun, jika tahun-tahun sebelumnya diselenggarakan pertandingan futsal, tahun ini diganti dengan indoor-tennis karena cuaca yang tidak mendukung.

Foto-foto hari ke-11 Drive Foto
Foto-foto olahraga tenis Drive Foto

Day-12,13&14 di Saiseikai Senri Hospital, Ahad – 2 November 2025

Seperti yang sudah diagendakan, akhir pekan kedua akan diisi dengan kegiatan Medical Rally yang tahun ini sudah berjalan untuk yang ke-22 kalinya, kegiatan ini terinspirasi dari kegiatan serupa yang bernama The Rallye Rejviz yang diikuti oleh dr Ohashi and dr Hayashi pada 1998 dan dr Ito dan dr Jiro tahun 2012.

Tujuan dari diadakannya medical rally secara rutin diantaranya:

  • Menyamakan standa implementasi layanan pra-faskes sesuai dengan pedoman nasional yang ada,
  • Bagi pemain: berbagi pengetahuan dan pengalaman dan memahami perawatan pra-faskes yang dilakukan di berbagai prefektur,
  • Bagi penyelenggara: memuktahirkan isu-isu terkini terkait dengan layanan pra-faskes yang diterjemahkan menjadi station (contoh tahun sebelumnya ada kasus X maka di medical rally tahun ini kasus X ini akan dijadikan inject kasus untuk dapat dievaluasi bersama penanganannya), dan
  • Selain itu, untuk membangun jejaring kerjasama antar institusi (sehingga jika suatu saat harus berkolaborasi di daerah bencana atau kejadian korban banyak tidak sungkan dan canggung).

kccp d12 1

Caption: pembagian grup, masing-masing grup enam personel yang mendapatkan inject kasus seperti di tabel bawah secara acak

Nama Station Catatan
Pasien henti nafas henti jantung di stasiun kereta Tim dibagi dua lagi, tiga orang di peron dan tiga di “dalam kereta” dan ada petugas JR/Hankyu
Myaku-myaku permainan komunikasi Menggunakan radio komunikasi untuk menggambar “Myaku”
MCI lakalantas Koordinasi dengan damkar untuk mengeluarkan korban yang terjepit di dalam mobil
Tim EMT Internasional Koordinasi EMT-CC membantu tim iEMT dari tentara Jepang
MCI anak sekolah Triase anak sekolah yang tertabrak mobil box
MCI terorisme di stadion Memberikan pertolongan kepada tim SAT yang terluka
Cerdas cermat Menjawab pertanyaan dengan boneka Myaku sebagai peraga
MCI gas sarin Kejadian korban massal membanjiri rumah sakit dengan inject kasus yag awalnya kebakaran tapi menjadi paparan nubika
GBV dan penyalahgunaan obat Kasus kesehatan jwa dan kecanduan narkoba di penampungan dinas sosial

kccp d12 2 

Caption: Upacara penutupan, kata sambutan diberikan oleh Ns Julita dari Brunei Darussalam

Foto-foto medical rally Drive Foto

 

Day-15 di Red Cross Hospital, Selasa - 4 November 2025

Materi hari ke-limabelas:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
(NT1-2) Framework of Disaster Response by International Red CrossIncl. Health ERU, Red Cross) Noriko Ikeda, International Medical Relief, Japanese Red Cross Osaka Hospital Menjelaskan perbedaan ERU dengan EMT, dan bagaimana RS lapangan JRCS dioperasikan
(NT1)Logistics Center, Japanese Red Cross Osaka Hospital

Penyimpanan barang-barang milik JRCS dan pengelolaannya menggunakan metode penyimpanan yangefektif dan inovatif sehingga memudahkan pencatatan dan mobilisasi tim lapangan.

 kccp d15 1

Caption: Foto bersama dengan petugas logistic RS Palang Merah dan dr Ali Haedar Sp.EM., KPEC., FAHA., Ph.D. yang membersamai peserta pelatihan KCCP sejak Medical Rally sebagai perwakilan Kokushikan University, Tokyo

Foto-foto hari ke-15 https://drive.google.com/drive/folders/1ftGCSnKhaK7_l89icOka-PurYdvcBKI4?usp=drive_link

Day-16 di JICA Kansai Center-Kobe , Rabu - 5 November 2025

Materi hari ke-enambelas:

Judul Materi Pemateri Ringkasan dan link
I/NTs preparation Taro Kita, ARCH Project Memberikan arahan terkait bagaimana indicator masing-masing Negara anggota ASEAN disusun, yakni dengan memperhatikan capaian national target sesuai dengan POA-ALD dan dikonsultasikan dengan anggota PWG

 kccp d16

Caption: Foto bersama dengan pegawai magang JICA yang petugas memberikan tour guide kepada peserta pelatihan KCCP berkunjung ke KOBE Earthquake Museum.

 kccp d16 1

Caption: Diorama gempa di KOBE Earthquake Museum.

Foto-foto hari ke-16 Drive Foto

Day-16&17 di JICA Kansai Center-Kobe , Jumat – 6&7 November 2025

Materi hari terakhir:

AMS Titik berat indicator dan target nasional
Brunei Darussalam Pembentuka iEMT tipe-1 dengan tiga roster, pedoman atau SOP nasional untuk EMT, EMTCC dan RS aman bencana termasuk isu nubika.
Kamboja Pedoman atau SOP nasional untuk EMT and EMTCC, adaptasi ASEAN standard reporting form, pelatihan tim survey HDP
Indonesia Verifikasi TCK EMT tipe-2, pelatihan HDP ke 192 kabupaten/kota
Laos Verifikasi iEMT tipe-1, DHM framework dijadikan dokumen negara
Malaysia Verifikasi MyEMT tipe-1 dan pengelolaan nEMT yang lebih baik dengan advokasi pedoman di tiap negara bagian
Myanmar Pedoman atau SOP nasional untuk EMT and EMTCC, pelatihan B-course dan C-course
Filipina iEMT tipe-2 Mindanao, memilki Health Emergency Response Teams (HERTs) di tiap kabupaten/kota dan propinsi, integrasi C-course ke pelatihan HERO,
Singapura Semua target sudahterpenuhi, akan focus ke pendidikan First Aid/CPR/AED modules di high school level as part of Health Education.
Thailand iEMT tipe-2, sub-EMTCC dan C-Course di tingkat provinsi
Vietnam

kccp d17 1

Caption: Foto bersama dengan Director of the Training Program Division JICA Kansai Center Mr. Hiroshi Itoyama, Mr. Taro Kita dari ARCH, dr. Yusuke Ito dari RS Senri, Prof.Tatsuro Kai dan dr. Shuichiro Kai dari JAC, Ms. Taniguchi, Ms.Nishioka dan Ms.Fujiki dari JICA.

Foto-foto hari terakhir Drive Foto
Pidato penutupan dari peserta KCCP Drive Foto

 

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Reportase

Peningkatan Kapasitas SDM Kesehatan dalam Simulasi Nasional Kesiapsiagaan menghadapi Megathrust di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2025

 

Padang, 31 Agustus – 4 September 2025

Menindaklanjuti undangan Kemenkes no. KK.02.02/A.X/3386/2025  terkait Undangan Narasumber / Fasilitator Peningkatan Kapasitas SDM Kesehatan dalam Simulasi Nasional Kesiapsiagaan menghadapi Megathrust di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2025 tertanggal 22 Agustus 2025 kepada PKMK FK-KMK UGM. PKMK menugaskan apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid sebagai narasumber untuk kegiatan tersebut, dimana tujuan dari simulasi nasional ini untuk  koordinasi lintas sektor, kesiapan fasilitas kesehatan serta respons cepat dalam penanganan korban bencana.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguji rencana kontingensi gempa dan tsunami Provinsi Sumatera Barat [ LINK ] terhadap Pedoman Nasional Krisis Kesehatan [ LINK ] dengan beberapa penekanan seperti penanganan pra-hospital dan mobilisasi dan pengorganisasian TCK-EMT oleh HEOC yang dioperasionalisasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini terbagi dalam Pembukaan, Academic Session dan TFG (Tactical Floor Game), Command Post Exercise atau gladi posko, dan Field Simulation Exercise atau gladi lapang, kegiatan ini diadakan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI bekerja sama dengan BNPB, Pusdikkes TNI dan Pemda Sumatera Barat dikomandoi oleh Budiman SKM MKes sebagai Direktur Gladi.


Hari 1

Academic Session dan Tactical Floor Game (TFG), 1 September 2025.

Sebelum simulasi bencana, diadakan academic session, yang merupakan pengarahan atau pelatihan persiapan yang dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan, dan konteks yang dibutuhkan untuk latihan. Tujuan utamanya untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana dengan memastikan peserta memahami rencana tanggap darurat, peran mereka, dan prosedur utama dalam lingkungan pendidikan yang bebas stres sebelum mempraktikkannya.

Tujuan utama dari academic session diantaranya:

  1. Membangun pondasi pengetahuan, peserta simulasi menerima penyegaran materi atau pengarahan yang mencakup konsep-konsep penting dari simulasi, seperti dasar-dasar insiden korban massal, system komando bencana, dan tinjauan rencana kontingensi.
  2. Memperjelas peran dan tanggung jawab, untuk menjelaskan secara tugas individu dan tim setiap peserta selama simulasi, memastikan semua orang mengetahui fungsi mereka dalam rantai komando.
  3. Menetapkan tujuan dan kriteria evaluasi: Penyelenggara menggunakan sesi ini untuk menentukan tujuan latihan dan menjelaskan aspek respons apa saja, terutamanya Kepmenkes Nomor 1502 Tahun 2023 dan Kepmenkes Nomor 1588 Tahun 2023, yang akan diuji implementasinya terhadap rencana kontinensi megathrust Sumatera Barat.

sumbar h1 gde

Caption: Pemateri dari Pusdikkes TNI, Mayor Muslim Leorima, S.Kep., M.Kep bersama fasilator dari PKMK FK-KMK UGM, apt. Gde Yulian, M.Epid. memberikan pengantar simulasi di sesi akademik sebelum simulasi menunjukkan kolaborasi militer dan akadeisi dalam mendukung program Kemenkes RI

Materi Sesi Akademik Pemateri
Academic Session 1 - Pengorganisasian dan Mobilisasi TCK-EMT Katimker TCK-EMT, Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI (dr Eko Medistianto, M.Epid.) LINK
Academic Session 1 - SPGDT Research Institute of Disaster Management and Emergency Medical System, Kokushikan University - Tokyo (dr. Ali Haedar, SP.Em, KPEC) LINK
Academic Session 1 - Manajemen Pelayanan Gadar dalam Krisis Kesehatan RSUD Provinsi NTB (dr.Eko Widya Nugraha, SP.Em., KPEC ) LINK
Academic Session 1 - Definisi RIG ROG TFG PKMK UGM (apt.Gde YulianYogadhita, M.Epid.,) LINK
Academic Session 1 - Teori Gladi Pusdikkes TNI AD (Mayor Muslim Leorima, S.Kep., M.Kep) LINK
Academic Session 1 - Briefing Pengendali Simulasi

Pusdiklat BNPB (Ario Akbar

Lomban, S.E., M.Ikom)

LINK

Setelah rehat makan siang, dilakukan tactical floor game (TFG), sebuah simulasi peta yang dilakukan sebelum simulasi bencana dengan menggunakan peta fisik berukuran besar untuk memvisualisasikan dan melatih rencana tanggap darurat dalam format permainan langsung. Latihan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan simulasi langsung berskala penuh dengan mendorong pemikiran strategis, koordinasi tim, dan pemecahan masalah. Metodologi TFG ini yakni peserta berkumpul di sekitar peta lantai berukuran besar atau cetak biru area simulasi bencana, dengan figur miniatur atau penanda yang mewakili personel dan sumber daya. Fasilitator memandu peserta melalui scenario yang dituangkan dalam ROG dan secara fisik menggerakkan penanda untuk mensimulasikan tindakan dan respons.

Tujuan dari TFG ini untuk memvisualisasikan rencana dengan memberikan representasi visual tiga dimensi yang konkret dari area dan rencana simulasi, membantu peserta memahami logistik, penyebaran sumber daya, dan skala operasi lebih baik daripada membaca ROG atau diskusi saja. Meningkatkan pemikiran strategis, dengan menggunakan peta fisik, peserta ditantang untuk mempertimbangkan implikasi praktis dari keputusan mereka, seperti waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan sumber daya dari satu lokasi ke lokasi lain. TFG juga dapat memperjelas peran dan tanggung jawab: Format seperti permainan memastikan semua orang mengetahui fungsi mereka dalam rantai komando dan bagaimana tindakan mereka memengaruhi upaya tim yang lebih luas sebelum gladi bersih maupun simulasi langsung diterapkan.

 sumbar h1 gde 1

Caption: Fasilitator PKMK FK-KMK UGM apt.Gde Yulian bersama fasilitator dari PK3D DKI Jakarta, RM Agung Syahputra, SKM, memfasilitasi jalannya tactical floor game.

 

 

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

 

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Reportase 

Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah

 Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Klaster Kesehatan

Yogyakarta | 28-31 Juli 2025


Yogyakarta – Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan United Stated Center for Disease Control and Prevention (US CDC) dan berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan “Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Klaster Kesehatan”. Rangkaian pelatihan ini akan dilaksanakan selama 4 hari pada 28-31 Juli 2025 bertempat di Hotel Eastparc, Yogyakarta. Peserta pelatihan kali ini adalah 30 orang yang berasal dari dinas kesehatan kabupaten, kota, dan provinsi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelatihan ini bertujuan agar para peserta mampu menyusun rancangan simulasi kejadian luar biasa (KLB)/ wabah yang berpotensi krisis kesehatan.

Hari 1

DSC08041

Pada Senin, 28 Juli 2025, pelatihan dimulai. Kegiatan dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Hendro Saputro, S.Si selaku Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Pengembangan Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi bidang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Dalam sambutannya, Hendro menyampaikan bahwa Direktorat Mutu Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes RI mendukung penuh pelatihan ini dan berharap para peserta mampu mencapai tujuan kegiatan dan membawa pulang ilmu yang dapat diimplementasikan di institusi masing-masing. Selanjutnya, perwakilan dari US CDC Indonesia, Amalya Mangiri, M.Sc.PH menyampaikan sambutannya dan membuka kegiatan. Amalya mengucapkan terima kasih kepada para peserta dan seluruh narasumber serta penulis modul dan kurikulum kegiatan.

Selanjutnya, kegiatan dipandu oleh Andriani Yulianti, MPH dengan mengajak para peserta untuk meregangkan badan, memilih ketua kelas, wakil ketua kelas, dan timekeeper. Pelatihan pun resmi dimulai dengan sesi materi yang pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes mengenai manajemen simulasi KLB/wabah yang berpotensi krisis kesehatan. Pada materi ini dijelaskan mengenai jenis-jenis simulasi, tahapan persiapan simulasi, dan tahap operasionalisasi simulasi. Materi ini menjadi salah satu materi inti pelatihan, maka diharapkan para peserta akan lebih memahami materi ini dengan menyimak pemaparan dan mengikuti proses penugasan.

Materi berikutnya adalah mengenai Kebijakan Pengendalian Penyakit Menular Berpotensi KLB/Wabah yang dipaparkan oleh Emita Ajis, SKM., MPH selaku perwakilan Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI, mulai dari kebijakan di tingkat internasional dan nasional, bagaimana alur pengendalian penyakit menular berpotensi KLB/Wabah, dan strategi yang telah diimplementasikan di tingkat nasional dan lokal. Setelah itu, perwakilan dari Pusat Krisis Kemenkes RI melanjutkan dengan Kebijakan Penanggulangan Krisis Kesehatan oleh Albert Nomeri, S.Sos yang menjelaskan secara lengkap konsep krisis kesehatan, bagaimana proses eskalasi dari KLB/wabah menjadi krisis kesehatan, serta regulasi dan kebijakan yang mengatur hal-hal tersebut. Terakhir, materi di hari pertama ditutup dengan pemaparan oleh Indri Sri Arti Ginting, SIP selaku perwakilan BNPB mengenai Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana.

 

Reporter: dr Alif Indiralarasati