logo2

ugm-logo

Blog

100 Rumah-Jembatan Rusak Sejak Hujan Deras Mengguyur Banyuwangi

Banyuwangi - Sekitar 100 rumah dan sebuah jembatan di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi terendam banjir bandang. Musibah terjadi usai hujan deras mengguyur selama 4 jam.

Tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Banjir diketahui terjadi pukul 15.00 WIB akibat luapan air sungai Karang Tambak dan merendam Dusun Sumbergendang dengan ketinggian air mencapai 30 cm.

Kapolsek Pesanggaran AKP Subandi mengatakan air banjir yang merendam rumah warga setinggi 30 cm. Adapun yang terdampak yakni Dusun Sumbergandeng, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran.

"Dusun yang terendam Dusun Sumbergandeng," ujar Subandi, Senin (21/3/2022).

Subandi menyebut akibat banjir ini, setidaknya ada 100 rumah dari 63 KK yang terendam air. Banjir juga merusak sebuah jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dan Sumberdadi.

"Air sempat masuk ke beberapa rumah warga. Sementara ada juga jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dengan Dusun Sumberdadi Desa Kandangan mengalami kerusakan, roboh diterjang derasnya arus sungai Karang Tambak. Jembatan tersebut tidak dapat dilalui oleh masyarakat setempat," jelas Subandi.

Subandi menyebut banjir terjadi karena intensitas hujan yang tinggi. Hujan diketahui terjadi sejak pukul 11.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Derasnya hujan yang turun mengakibatkan volume air di sungai Karang Tambak meningkat hingga akhirnya meluap.

"Hujan dengan intensitas tinggi terjadi selama 4 jam-an. Langsung meluap ke rumah warga. Sementara laporan tidak ada korban jiwa," kata Subandi.

Naiknya debit air sungai dan merendam di wilayah Dusun Sumbergandeng bukan yang pertama kali ini saja. Sebab sebelumnya juga sudah beberapa kali terjadi.

Salah satu penyebab mudahnya air sungai meluap saat hujan karena dangkalnya dasar sungai. Selain itu, pertemuan antara aliran sungai Karang Tambak dengan sungai Cawang juga menjadi faktor lain pemicu banjir.

Tak ada laporan korban jiwa dalam musibah ini. Namun kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Usai banjir, warga dan petugas setempat bahu-membahu membersihkan sisa-sisa lumpur banjir.

"Sementara tidak ada korban jiwa. Warga bersama aparat keamanan dan pemerintahan setempat membersihkan sisa-sisa banjir. Kerugian estimasi sekitar Rp 100 juta," tandasnya.

sumber: detik.com

BPBD Gorontalo Utara tetapkan status siaga bencana banjir

Gorontalo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, menetapkan status siaga bencana banjir di daerah itu, menyusul bencana banjir yang terjadi sejak Ahad, 20 Maret 2022.

"Hari Ahad kemarin, sebagian besar wilayah di Kecamatan Kwandang terendam banjir dengan ketinggian air merata setinggi paha orang dewasa. Begitupun di beberapa desa di Kecamatan Tomilito yang terendam banjir sejak pukul 15.00 WITA dan mulai berangsur surut pukul 20.00 WITA," kata Kepala BPBD Gorontalo Utara, Asri Ode Muisi, di Gorontalo, Senin.

Banjir juga melanda wilayah Kecamatan Atinggola pada hari ini (21 Maret 2022), banjir merendam Desa Posono dengan ketinggian air bervariasi hingga mencapai lutut orang dewasa.

Pihaknya, terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan, serta instansi teknis terkait dalam upaya penanggulangan bencana banjir.

"Kami pun berkonsentrasi pada penanganan pasca banjir, termasuk menyiapkan surat resmi ditanda tangani Bupati/Wakil Bupati yang menerbitkan status siaga bencana. Mengingat dokumen itu diperlukan untuk penanganan bencana banjir bagi instansi berwenang lainnya, seperti pihak Balai Sungai," katanya.

Sejauh ini BPBD menyampaikan kepada warga untuk mewaspadai curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut.

Warga yang bermukim di daerah aliran sungai, juga di bawah lereng bukit agar senantiasa waspada saat cuaca ekstrem melanda.

"Jika hujan deras terus mengguyur dalam waktu panjang, agar warga segera melakukan upaya evakuasi dini. Jangan berdiam di dalam rumah untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan," katanya.

Mengingat pemicu banjir tidak hanya curah hujan tinggi yang menyebabkan luapan air dari daerah aliran sungai.

Namun, banjir pun disebabkan luncuran air dari wilayah perbukitan yang gundul. "Tidak ada pohon keras yang mampu menahan air menyebabkan luncuran cukup deras dari perbukitan ditambah material batu dan tanah," katanya pula.

Ia berharap, upaya tercepat dalam penanggulangan banjir agar warga tidak membuka areal pertanian di daerah kemiringan di atas 15 derajat.

"Kondisi itu sangat beresiko menyebabkan banjir," katanya lagi.

Pihaknya mencatat, sejumlah wilayah terdampak seperti Desa Leboto, Titidu, Posso, Moluo, Molingkapoto dan Katialada Kecamatan Kwandang terendam banjir.

Kondisi tersebut juga melanda Desa Jembatan Merah dan Milango Kecamatan Tomilito dengan ketinggian air mencapai 1 meter bahkan belasan rumah di Jembatan Merah tertutup air hingga atap.

"Penyebabnya, pintu air di daerah aliran sungai jembatan dua di Desa Jembatan Merah rusak berpapasan dengan air pasang laut menyebabkan banjir dengan ketinggian air cukup ekstrem," ujarnya.*

sumber: https://www.antaranews.com/berita/2773761/bpbd-gorontalo-utara-tetapkan-status-siaga-bencana-banjir

Banjir di Banyuwangi Sebabkan Jembatan Ambruk dan 100 Rumah Tergenang

Merdeka.com - Jembatan penghubung antara Dusun Sumberjambe dan Sumbergeneng, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi ambruk diterjang banjir, Senin (21/3). Banjir diakibatkan oleh meluapnya sungai Karang Tambak yang dipicu hujan deras di wilayah Kecamatan Pesanggaran mulai pukul 11.00 WIB hingga 15.00 WIB.

"Salah satu jembatan ikut roboh, tapi warga masih bisa melintas karena jembatan itu bukan satu-satunya akses," kata Camat Pesanggaran, Agus Mulyono, Senin (21/3).

Tidak hanya jembatan saja, sedikitnya 100 rumah warga yang ada di dua dusun juga ikut terendam air.

Tinggi banjir mencapai setengah meter, dan air masuk ke rumah-rumah warga. "Ada 63 KK dan kurang lebih 100 rumah. Air masuk ke rumah warga," ujarnya.

Dalam peristiwa ini, tidak ada korban jiwa. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Forkopimca Pesanggaran masih berada di TKP sekaligus melakukan kalkulasi mengenai banjir tersebut.

"Tidak ada korban jiwa, perihal kerugian materil masih kami kalkulasi," tandasnya.

[cob]

Gunungkidul Diminta Segera Susun Skema Penanganan Dampak Bencana

GUNUNGKIDUL, iNews.id-Pemerintah Gunungkidul diminta segera menyusun skema penanganan cepat dampak bencana, seperti angin kencang di Desa Mulusan, Kecamatan Paliyan, dan Semanu. Pemkab dinilai sangat lamban dalam menangani dampak bencana ini. "Kami merekomendasikan agar Pemkab Gunungkidul menyusun skema penanganan cepat dampak bencana, jangan sampai masyarakat terdampak bencana semakin menderita karena kurang sigapnya pemkab dalam penanganan bencana," kata anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, Ery Agustin .

Berdasarkan pengamatannya di lapangan, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim reaksi cepat (TRC), serta relawan bergerak cepat dalam pendataan, menyalurkan bantuan kedaruratan, penanganan pasca bencana. "Aksi di lapangan sudah luar biasa cepat, hanya proses di belakang mejanya yang lambat. Kami minta ada perubahan skema penanganan pasca bencana," harapnya. BACA JUGA: Bocorkan Rahasia, Pejabat Rusia Dipecat Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Sri Suhartanta mengakui ada kendala dalam penanganan pasca bencana. menurutnya untuk mencairkan anggaran harus ada verifikasi data di lapangan dan membuat kriteria penerima bantuan dari yang ringan hingga skala berat. Seperti di Kalurahan/Desa Mulusan, Kecamatan/Kapanewon Paliyan.

Artikel ini telah tayang di yogya.inews.id dengan judul " Gunungkidul Diminta Segera Susun Skema Penanganan Dampak Bencana "

Selengkapnya: https://yogya.inews.id

Bayang-Bayang Bencana di IKN Nusantara: Banjir hingga Karhutla

Penajam Paser Utara, CNN Indonesia -- Pemerintah pusat dan DPR akhirnya bersepakat memindahkan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta di Pulau Jawa ke Kalimantan Timur.

Berdasarkan UU 3 tahun 2022, wilayah IKN itu akan berada di wilayah yang saat ini merupakan bagian dari sejumlah kecamatan di Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar).

Kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) atau ring 1 IKN akan berada di Kecamatan Sepaku, PPU. Sementara daerah pengembangan atau penyangga akan berada di sejumlah kecamatan baik PPU maupun Kukar. Salah satu alasan pemilihan Sepaku menjadi IKN adalah terkait minimnya catatan bencana alam.

Minim bukan berarti tidak ada. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Penajam Utara mencatat dalam tiga tahun terakhir bencana yang terjadi wilayah yang bakal masuk dalam IKN adalah banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), longsor, dan angin kencang.

Sebagai catatan, pada 2019 hingga Januari 2022 tercatat bencana banjir 15 kali di beberapa wilayah Sepaku yakni desa Suka Raja, Karang Jinawi, Binuang, Kelurahan Sepaku, dan Kelurahan Pemaluan.

Sebanyak 395 kepala keluarag (KK) terdampak banjir dan ada 1 korban tewas karena terseret arus. Korban tewas itu ada di Desa Suka Raja pada 22 Agustus 2021.

Sementara karhutla tercatat pernah terjadi di desa Bukit Raya, Sukomulyo, Maridan, Semoi Dua, Tengin Baru, serta Kelurahan Maridan dan Pemaluan dengan luas lahan terdampak total mencapai 7,5 hektare.

Longsor tercatat pernah terjadi di desa Bukit Raya pada 2019 yang menyebabkan jalan rusak di pinggir gedung SD Sepaku. Sementara Longsor pada 2021 menyebabkan jalan poros Mentawir rusak.

Angin kencang juga menghantam di kelurahan Maridan yang merusak atap sebuah bangunan dan menumbangkan pohon pada 5 Januari 2021.

Mitigasi Bencana

Sebagai salah satu bentuk mitigasi, Sekretaris Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Waluyo mengatakan selama ini pihaknya bekerjasama dengan aparat kecamatan hingga RT di Sepaku guna membentuk Desa Tangguh Bencana.

Desa tangguh bencana ini, kata Waluyo, berasal dari warga lokal yang senantiasa melaporkan dan melakukan tindakan mitigasi dan tindakan saat bencana terjadi.

"Kita membentuk desa tangguh bencana di kecamatan Sepaku yang melibatkan warga setempat. Selain dia melapor ke BPBD dia bertindak juga. Bentuknya relawan," ujarnya.

Waluyo mengatakan mitigasi bencana BPBD Kabupaten PPU bekerjasama dengan masyarakat dan pemerintah Kecamatan hingga tingkat RT.

Terkait bencana banjir yang kerap terjadi di wilayah Sepaku, Waluyo menyebut tak berada di kawasan inti atau KIPP.

"Jauh dari titik (inti) IKN, kebanyakan yang sering banjir di desa Suka Raja dan Bukit Raya," ujarnya.


Di Kelurahan Pemaluan, kata Waluyo juga terjadi banjir. Namun, sejauh ini tercatat memilki siklus hingga sepuluh tahun baru terjadi lagi banjir. Waluyo menjelaskan banjir yang terjadi di wilayah Sepaku itu umumnya karena pasang air laut yang bertepatan dengan curah hujan tinggi. Diketahui, sejumlah sungai yang mengalir melintasi Sepaku itu bermuara di Teluk Balikpapan.

"Banjir bersamaan dengan air laut naik. Tetapi banjir surut kembali. Bukan berarti rutin banjir setiap hujan, tidak," katanya.

Selain itu, sambungnya, banjir-banjir yang selama ini terjadi di Kecamatan Sepaku hanya sesaat.

"Tidak sampai berhari hari. Saya tahu betul, karena saya tinggal di kecamatan itu," ucap Waluyo.

Insert Grafis Selayang Pandang IKN

Ia menjelaskan banjir di wilayah Sepaku lebih banyak disebabkan karena sungai yang dangkal dan berbelok belok serta menyempit. Kondisi seperti itu kemudian direspons dengan normalisasi sungai.

"Saat ini BPBD bekerjasama dengan UPTPU ada pekerjaan normalisasi sungai yang dangkal dan kaitannya dengan arah laut," ucapnya.

Salah satunya normalisasi sungai yang berlangsung di Desa Suka Raja, Sepaku, sehingga saat ini tak lagi banjir.

Berdasarkan Kecamatan Sepaku dalam Angka 2018 (BPS), di wilayah itu setidaknya melintas 18 sungai dari mulai Sungai Trunen hingga Sungai Muntayo.

Sungai juga masih menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitarnya di kecamatan Sepaku. Salah satunya untuk sumber air keperluan rumah tangga seperti yang terpantau di Kelurahan Sepaku dan Semoi.

Di sana, rumah-rumah warga masih menggunakan sungai sebagai sumber air mereka untuk keperluan mandi dan cuci. Air dari sungai itu dialirkan ke rumah atau kamar mandi mereka lewat pipa menggunakan pompa mesin.

"Untuk keperluan minum, masak, kami beli air bersih," kata Mustafa salah satu ketua kelompok tani di Kelurahan Sepaku.

sumber: CNN Indonesia