logo2

ugm-logo

Blog

BNPB: 5 Tewas dan 388 Jiwa Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Cisalak

BNPB: 5 Tewas dan 388 Jiwa Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Cisalak

 Jakarta - Banjir bandang melanda wilayah Cisalak, Jawa Barat. Sedikitnya 5 orang tewas akibat peristiwa ini.

"5 tewas, 7 luka, 388 jiwa mengungsi dan 16 rumah rusak berat akibat banjir bandang di Kecamatan Cisalak Jabar," kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat akun twitter miliknya @Sutopo_BNPB, Rabu (25/5/2016).

Peristiwa tersebut terjadi sejak Minggu (22/5). Kayu, batu, hingga lumpur bercampur dan menerjang permukiman warga.

"Alat berat dikerahkan untuk mencari korban dan penanganan darurat banjir bandang di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang Jabar," imbuh Sutopo.

Dia menambahkan, ciri khas banjir di Indonesia adalah adanya hujan dan longsor di bagian hulu. Longsor tersebut kemudian menerjang bagian bawah perbukitan.

sumber: detik.com

Begini Skala Intensitas Gempa BMKG yang Terbaru

Bandung - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) melakukan modifikasi skala intensitas gempa. Skala dari I-V itu mulai diperkenalkan Mei 2016. Sebelumnya BMKG memakai skala intensitas gempa MMI (Modified Mercalli Intensity) dari I-XII.

Skala intensitas gempa merupakan pendekatan untuk mengukur kekuatan gempa bumi berdasarkan laporan orang yang merasakan getaran lindu. Skala MMI dibuat Giuseppe Mercalli pada 1902. “Alasan dibuat skala intensitas gempa BMKG itu untuk memudahkan masyarakat mengerti dan memahami intensitas gempa bumi sesuai kondisi di Indonesia,” kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Jumat, 6 Mei 2016.

Menurut dia, skala intensitas gempa MMI diperkenalkan di negara barat sehingga deskripsinya dikaitkan dengan bangunan di negara Eropa dan Amerika, misalnya ada cerobong asap. Meskipun MMI punya 12 skala sehingga cukup rinci, namun BMKG mengaku kesulitan menjelaskannya secara mudah kepada masyarakat. “Jepang juga memakai skala intensitas gempa sendiri dengan skala 0-7,” ujarnya.

Skala I, gempa terekam oleh alat pencatat gempa, namun getarannya tidak dirasakan atau hanya dirasakan beberapa orang saja. Skala I ditandai dengan warna putih pada peta kejadian gempa. Pada MMI, itu setara dengan skala I-II.

Skala II yang diwarnai hijau oleh BMKG, artinya gempa dirasakan oleh banyak orang tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Adapun benda-benda ringan yang digantung terlihat bergoyang, dan jendela atau kaca bergetar. Kondisinya sama seperti MMI skala III-IV.

Skala III berwarna kuning, artinya gempa menimbulkan kerusakan ringan. Bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah, dan sebagian berjatuhan. Skala itu seperti pada MMI skala VI.

Skala IV yang berwarna jingga atau setara MMI skala VII-VIII, menandakan banyak retakan terjadi pada dinding. Akibat gempa juga pada skala tersebut, sebagian bangunan roboh, kaca pecah, sebagian plester dinding lepas, dan hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan juga mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

Skala V berwarna merah yang setara MMI skala IX-XII, merupakan gempa yang menimbulkan kerusakan hebat. Sebagian besar dinding bangunan permanen roboh, struktur bangunan mengalami kerusakan berat, dan rel kereta api melengkung. “Penggagasnya Deputi Bidang Geofisika BMKG Masturyono,” kata Daryono.

ANWAR SISWADI 

sumber: TEMPO.CO

Gempa Basel Temukan TI Tower Kembali Beroperasi di Laut Kubu

BANGKA--LSM Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempa) Bangka Selatan menemukan puluhan ponton TI Tower kembali beroperasi di kawasan Pantai Kubu, Toboali, pada Sabtu (07/05/2016).

Pihak Gempa merasa larangan Pemerintah Daerah Basel terhadap aktivitas tambang di perairan Toboali tidak dipatuhi oleh para penambang.

Ketua Gempa Basel, Yudi Andrianto mengatakan dirinya melihat dengan mata kepala sendiri aktivitas TI tower di kawasan destinasi wisata daerah.

"Padahal pemerintah daerah sudah memberikan peringatan keras terhadap aktivitas tambang laut, tetapi para penambang seolah tak pernah jera dan enggan mentaati kebijakan pemerintah daerah yang sudah menetapkan Pantai Kubu sebagai kawasan pariwisata daerah," kata Yudi kepada bangkapos.com, Minggu (8/5/2016)

Menurutnya kembali beroperasinya TI tower di Pantai Kubu akan berdampak terhadap lingkungan. Untuk itu pihaknya akan terus konsisten menolak keberadaan aktivitas tambang laut di perairan Toboali.

"Sebenarnya kita dituntut untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya saja, tetapi juga kemaslahatan semua pihak. Lihatlah dampak eksploitasi secara berlebihan sudah sangat nyata terlihat. Selama ini, pemanfaatan sumber daya timah tanpa aturan dan sikap acuh manusia jelas-jelas penyebab adanya krisis lingkungan," jelasnya.

Yudi menegaskan aktivitas illegal mining sudah jelas bertentangan dengan amanat Undang Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

"Jangan kita diamkan berlarut-larut, sebab aktivitas tambang laut sudah bertahun-tahun dengan leluasa merusak laut daerah. Apa yang kita saksikan saat ini adalah bukti ketiadaan akhlak terhadap lingkungan. Sepantasnya TI Tower harus dihilangkan, kita harus tolak tambang laut di perairan daerah," ujar Oday, panggilan akrabnya

sumber: BANGKAPOS.COM

Bengkulu Kembali Digoyang Gempa 4,0 SR

BENGKULU - Gempa tektonik dengan kekuatan 4.0 SR, Minggu (8/5/2016) mengguncang Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, sekira pukul 11.01 WIB.

Gempa itu berlokasi di 2.65 Lintang Selatan, 101.60 Bujur Timur, berada di 54 km timur Kabupaten Mukomuko, dengan kedalaman 77 Km.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan, gempa yang terjadi disebabkan adanya pergeseran lempeng Indo-Eurasia dan Indo-Australia.

"Lantaran getaran gempa skalanya kecil jadi tidak terlalu terasa oleh masyarakat Bengkulu," kata Litman kepada Okezone, Minggu (8/5/2016).

Dengan seringnya terjadi gempa-gempa kecil, lanjut Litman, maka akan mengurangi akumulasi energi yang terkumpul. Sehingga kemungkinan terjadinya gempa skala besar di Bengkulu berpeluang kecil.

"Gempa tidak berdampak tsunami," pungkas Litman.

Intensitas Hujan Meningkat, BPBD Imbau Warga Waspada Bencana Banjir dan Longsor

Intensitas Hujan Meningkat, BPBD Imbau Warga Waspada Bencana Banjir dan Longsor

LOLAK - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan pemantauan dan memberikan informasi kepada seluruh masyarakat Bolaang Mongondow khususnya di wilayah-wilayah yang rawan terjadi bencana baik longsor ataupun banjir.

"Tim BPBD selalu melakukan pemantauan sebab cuaca beberapa hari belakangan melalui intensitas curah hujan di wilayahBolmong khususnya di Dumoga meningkat, makanya langkah antisipatif tetap dilakukan," ucap Kepala BPBD Bolmong Ir Channy Wayong kepada Tribun Manado Selasa (3/5).

Dikatakan Wayong, apalagi tim reaksi cepat dari BPBD sudah terbentuk dan telah mengikuti pelatihan dalan mengantisipasi bencana di Bolmong. "Tim reaksi cepat pekan lalu mengikuti latihan bersama Basarnas Sulut di Lolak terkait antisipasi penyelamatan saat terjadi bencana," tuturnya.

Lanjut Wayong, bagi masyarakat Bolmong agar dapat melaporkan setiap kejadian ke BNPB daerah. "Jika terjadi bencana segera menghubungi BPBD dengan nomor telepon 081288464114 Kabid darurat dan Kasie darurat serta selalu waspada," ungkapnya.

Wayong menambahkan, bagi pengendara roda dua atau empat agar berhati-hati saat melintasi wilayah rawan longsor seperti di Baturapa, Lobong, Poyuyanan dan wilayah lainnya di Bolmong.

Berdasarkan data dari BPBD untuk Kecamatan rawan banjir danlongsor yakni Kecamatan Poigar, Kecamatan Bolaang, Kecamatan Lolak, Kecamatan Sangtombolang, Kecamatan Lolayan, Kecamatan Dumoga Barat, Kecamatan Dumoga Timur, Kecamatan Dumoga Utara, dan Kecamatan Dumoga.

sumber: TRIBUNMANADO.CO.ID