logo2

ugm-logo

Blog

Bromo Keluarkan Asap Tebal, BNPB: Aman dan Bisa Jadi Wisata yang Menarik!

Bromo Keluarkan Asap Tebal, BNPB: Aman dan Bisa Jadi Wisata yang Menarik!

Jakarta - Asap tebal masih terus keluar dari aktivitas vulkanik Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggi, Jawa Timur. Aktivitas gunung yang masih cukup tinggi itu tidak membuat pengelola menutup akses wisata ke gunung Bromo.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hal tersebut bagus untuk menambah wawasan dalam memahami gunung api. "Pariwisata Gunung Bromo tetap dibuka untuk umum. Kondisi aman untuk wisatawan kecuali di dalam radius 1 km dari puncak kawah," kata Sutopo dalam keterangan tertulis Rabu (29/6/2016).

"Masyarakat tidak perlu takut atau khawatir dengan kondisi aktivitas vulkanik Gunung Bromo saat ini. Justru adanya erupsi kecil menjadikan wisata yang menarik untuk masyarakat memahami gunung api," imbuhnya.

Sutopo memprediksi gunung Bromo akan menjadi salah satu destinasi wisata mengisi libur lebaran mendatang. Dia memastikan kawasan tersebut akan aman dikunjungi masyarakat.

"Seringkali asap ini disertai abu vulkanik tipis hingga di permukaan sesuai arah angin yang menerbangkannya. Status masih Waspada (level II). Diperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung lama," papar Sutopo.
(bag/bag)

Mitigasi di Daerah Bencana Lemah

PURWOREJO — Mitigasi swadaya masyarakat di daerah rawan bencana masih lemah. Mereka cenderung abai dan kurang responsif pada potensi bencana. Kondisi ini diperparah dengan lambannya antisipasi pemerintah daerah setiap memasuki musim bencana. Akibatnya, korban jiwa terus berjatuhan setiap bencana melanda.

Penelusuran Kompas ke wilayah-wilayah terdampak bencana longsor di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (22/6/2016), menunjukkan, sebagian besar masyarakat tidak memiliki naluri mitigasi kendati tahu bahwa mereka tinggal di wilayah rawan bencana. Bahkan, pada kondisi genting, mereka cenderung mengabaikan tanda-tanda alam dan prosedur keselamatan.

Kepala Desa Kalinongko, Kecamatan Loano, Suyoto mengatakan, di desanya terdapat 30 keluarga yang berisiko terdampak longsor karena bertempat tinggal tepat di bawah dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Kendati sudah diberi tahu potensi longsor di daerah tempat tinggalnya, mereka tetap berkeras tinggal di lokasi itu.

"Sebagian dari mereka bersikeras tetap tinggal di daerah rawan bencana dengan alasan hanya memiliki tanah di daerah itu. Sebagian lainnya juga enggan pindah karena sudah nyaman tinggal di sana," ujarnya.

Pada bencana longsor di Banjarnegara, tiga korban longsor di Dusun Wanarata, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, menyalahi standar mitigasi saat bencana mengancam. Kepala Urusan Keuangan Desa Gumelem Kulon Raswanto mengakui, ketiga korban, yakni Sudarno, Bahrudin, dan Wato, sesudah longsor awal, di tengah hujan deras, mengarahkan aliran air dari perbukitan. Upaya itu membuat aliran air parit makin besar sehingga memicu longsor susulan yang lebih besar dan menimbun mereka.

Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno menyatakan, kesadaran mitigasi masyarakat di sekitar lokasi bencana masih lemah. "Mereka belum paham, saat hujan harus seperti apa, harus mengungsi ke mana dulu. Atau setidaknya menghindari kegiatan-kegiatan yang mengancam keselamatan jiwanya," katanya.

Penataan permukiman

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Ahmad Yurianto mengatakan, selama delapan tahun terakhir, pihaknya telah intensif membagikan naskah kebijakan mitigasi dan menyarankan penataan ulang kawasan permukiman.

"Namun, respons dari daerah bervariasi. Tidak semuanya cepat menanggapinya dengan melakukan relokasi warga di daerah zona rawan," ujarnya.

Menurut Subandrio, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera, masyarakat dan pemerintah masih abai terhadap potensi bencana dari gerakan tanah. Padahal, bencana dari gerakan tanah termasuk kategori membahayakan karena menewaskan 200 orang di Indonesia per tahun.

Selain korban jiwa, kerugian ekonomi akibat bencana di Jawa Tengah juga terbilang besar. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, material akibat bencana di seluruh Jateng mencapai ratusan miliar rupiah.

Bupati Agus Bastian menyebutkan pula, akibat bencana banjir dan longsor ditaksir mencapai Rp 15,5 miliar. Kerugian meliputi kerugian infrastruktur, seperti jalan, jembatan, rumah warga, serta kerusakan lahan pertanian.

Kerugian akibat banjir dan longsor di Banyumas ditaksir Rp 3,8 miliar. "Jumlah tersebut masih sementara karena laporan dari tingkat desa masih berjalan," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Banyumas Prasetyo Budi Widodo.

Sementara itu, hingga Rabu, upaya pencarian korban longsor yang masih tertimbun di Desa Karangrejo, Kecamatan Loano, dan Desa Donorati, Purworejo, berlanjut. Kepala Badan SAR Nasional Jateng Agus Haryono mengatakan, hingga kemarin 40 orang meninggal akibat longsor di Purworejo. Tim SAR gabungan masih mencari sekitar 8 korban yang diperkirakan masih tertimbun di beberapa lokasi. Delapan orang juga masih dirawat di rumah sakit.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo di Banyuwangi, Jatim, Rabu, mengatakan, pihaknya meminta BPBD, polisi, dan TNI membantu menangani bencana alam di sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan bantuan itu, operasi penyelamatan korban bencana diharapkan bisa lebih cepat. Basarnas kini tengah melakukan operasi penyelamatan di 11 wilayah, di antaranya Kupang, Medan, Manado, Kendari, Kebumen, dan Purworejo.

Banjir

Kesedihan mendalam akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Purworejo, Jawa Tengah, dirasakan seorang ibu, salah satu dari 2 korban selamat longsor di Desa Donorati. Ia harus kehilangan 3 anaknya dalam waktu yang bersamaan.

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, banjir akibat meluapnya Sungai Dolago di Desa Dolago Padang dan Masari, Kecamatan Parigi Selatan, Selasa (21/6) malam, merendam 300 hektar sawah. Sekitar 42 hektar di antaranya rusak parah karena tertutup lumpur.

"Kami masih terus mendata untuk kepastian kerusakan tanaman. Sawah-sawah itu baru ditanam tiga minggu lalu. Air dan lumpur menghantam sawah karena tanggul jebol," kata Camat Parigi Selatan Moh Muchen, saat dihubungi dari Palu, Rabu (22/6).

Hingga kemarin, air di areal sawah masih belum surut dengan ketinggian rata-rata 50 sentimeter. Sawah yang terendam lumpur kebanyakan berada di dekat alur sungai.

Banjir juga menggenangi Pasar Sentral Youtefa, di Distrik Abepura, Kota Jayapura, Rabu kemarin. Penyebab banjir karena hujan deras yang melanda Jayapura selama enam jam.

Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dua komunitas mandiri mitigasi warga mengetatkan sistem pemantauan bencana alam banjir dan longsor. Hujan yang turun beberapa hari terakhir rentan meluapkan sungai dan meruntuhkan tebing tanah. (GRE/EGI/VDL/NIT/CHE/FLO)

sumber: KOMPAS

Pemerintah Imbau Dana Desa Diprioritaskan untuk Tanggulangi Bencana

Jakarta - Bencana banjir dan longsor terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Menteri Desa Percepatan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar mengimbau agar dana desa yang telah dikucurkan bisa diprioritaskan untuk mencegah terjadinya bencana susulan.

Marwan mengatakan, setidaknya ada 16 kabupaten di Jawa Tengah yang mengalami bencana longsor dan banjir akibat hujan lebat. Salah satunya yang paling parah adalah Purworejo yang mengalami longsor dan menewaskan puluhan korban jiwa.

Marwan mengatakan, bencana alam ini harus direspons dengan cepat. Setelah identifikasi dan evakuasi korban, masyarakat dapat menggunakan Dana Desa untuk membenahi dan membangun infrastruktur desa, terutama tanggul penahan longsor dan membangun saluran air agar tidak terjadi banjir.

"Membangun dan membenahi Infrastruktur desa yang rusak akibat bencana itu masuk dalam prioritas. Ini sudah kita atur dalam Permendesa No. 21/2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2016," ujar Marwan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (20/6/2016).

Marwan mengatakan, dalam Peraturan Menteri Desa (Permendesa) dijelaskan bahwa salah satu prinsip penggunaan Dana Desa adalah untuk mendahulukan kepentingan desa yang mendesak dan berhubungan langsung dengan kepentingan sebagian besar masyarakat desa.

"Bencana alam yang menimbulkan kerusakan infrastruktur adalah sesuatu yang mendesak untuk dibenahi. Jadi masuk dalam prioritas Dana Desa. Jalan desa, gorong-gorong, sanitasi air, maupun tanggul penahan banjir yang rusak harus dibangun kembali. Tentunya dengan penataan baru yang lebih baik dan tahan terhadap bencana," jelasnya.

Marwan juga mengatakan, banyak desa yang rawan bencana. Untuk itu diperlukan desa yang siaga bencana.

"Bencana alam yang terjadi itu bisa karena murni bencana alam, bisa juga karena ada sumbangsih faktor manusia yang kurang bersahabat dengan lingkungan. Tapi dua-duanya ini bisa dihindari dengan membangun infrastruktur yang lebih kuat dan tahan bencana," kata Marwan.

Marwan juga mengatakan, ke depannya desa-desa harus membuat program pembangunan terutama untuk penanggulangan bencana. Masyarakat pun diminta untuk mengawasi penggunaan Dana Desa tersebut.

"Berlakunya UU No 6/2014 telah memberikan Desa kewenangan penuh mengelola Dana Desa, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, hingga pelaporannya. Kami kemudian membuat aturan turunan agar penggunaan dana desa ini punya panduan-panduan agar sesuai dengan tujuan," katanya.

Bencana banjir dan longsor terjadi di sejumlah wilayah, terutama di kawasan Jawa Tengah, seperti Solo dan Purwerejo. Paling parah, longsor di Purwerojo mengakibatkan 47 orang meninggal. Juru Bicara Presiden Johan Budi SP mengatakan, Presiden Jokowi meminta agar Kementerian bergerak cepat dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menanggulangi masalah bencana tersebut.
(jor/bag)

Bencana Tahun 2016 Meningkat, BNPB Ajukan Tambahan Dana Cadangan Rp 6 Triliun

Bencana Tahun 2016 Meningkat, BNPB Ajukan Tambahan Dana Cadangan Rp 6 Triliun

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajukan tambahan dana cadangan sebesar Rp 6 triliun. Anggaran ini untuk mengantisipasi bencana di tahun 2016 yang cukup tinggi.

"Kami mengajukan tambahan dana cadangan sebesar Rp 6 triliun untuk antisipasi bencana. Jika kami melihat data maka dana Rp 4 triliun seperti anggaran sebelumnya sudah tidak mencukupi," kata Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi.

Usulan dana tambahan tersebut disampaikan Dody saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR untuk membahas R-APBN 2017 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/6/2016).

Dody menambahkan tingkat terjadinya bencana alam di tahun 2016 mengalami peningkatan yang cukup tinggi. "Rp 6 triliun dasarnya apa? Jumlah kejadian bencana yang semakin meningkat. Kami lihat di tahun 2015 jumlah kejadian bencana 1.723. Di 2016, sudah ada 1.092 sampai bulan Juni," papar dia.

Berdasar dari prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Dody mengatakan fenomena La Nina masih akan terjadi di sepanjang 2016. Hal ini akan berdampak terjadinya cuaca ekstrem yang bisa berujung bencana alam.

"Apalagi menurut ramalan BMKG ada fenomena La Nina yang mengakibatkan cuaca ekstrem. Hal itu memungkinkan semakin banyaknya terjadi banjir ataupun longsor," ucapnya.
(Wisnu Prasetiyo/aan)

sumber: detik.com

Korban Jiwa Bencana di Jawa Tengah Sudah Mencapai 35 Orang

Korban Jiwa Bencana di Jawa Tengah Sudah Mencapai 35 Orang

Semarang, - Korban jiwa dalam berbagai bencana di sejumlah Wilayah Jawa Tengah sejak hari Sabtu (18/6) kemarin hingga kini mencapai 35 jiwa. Sementara daerah yang mengalami longsor parah antara lain Banjarnegara, Kebumen, dan Purworejo.

"Banjarnegara longsor di daerah Wanarata dan Gumelem dengan jumlah korban 6 sudah terevakuasi dalam keadaaan meninggal dunia. Kemudian di Kebumen juga 6 orang masih dalam pencarian, serta di Purworejo sebanyak 29 jiwa yang tersebar di beberapa lokasi," kata Kepala Basarnas Kantor SAR Semarang, Agus Haryono seperti rilis yang diterima detikcom, Minggu (19/6/2016).

Selain itu, lanjut Agus, di Purworejo tepatnya di Desa Karangrejo/Caok Kecamatan Loano sebanyak 6 korban meninggal dan sudah dievakuasi. Di Desa Jelok Kecamatan Kaligesing ada 4 korban luka ringan, 2 patah kaki, dan 3 masih tertimbun.

"Sedangkan korban terbanyak berada di daerah Donoranti, Kecamatan Purworejo dengan jumlah korban jiwa mencapai 14 orang, 3 dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia dan 11 masih dalam pencarian," tandasnya.

Saat ini tim Basarnas Kantor SAR Semarang bergabung dengan tim SAR Gabungan di Kebumen dan Purworejo untuk melakukan evakuasi. Tim dari Semarang juga dibagi untuk membantu evakuasi korban banjir di Kendal dan Surakarta.

Dari data Basarnya korban jiwa di Kecamatan Susukan, Banjarnegara tepatnya Desa Gumelem bernama Wanto (40), Sudarno (40), dan A. Bahrudin (40). Di Desa Wanarata Titis (11), Fina (10), dan Tariwen (30).

Kemudian di Dukuh semampir, Desa Sampang Kecamatan Sempor, Kebumen, korban diidentifikasi bernama Satimun (40), Bu Sari (35) (istri Satimun), San Rustin (55), Marsiyem (50), Sutiyem (25) yabg sedang hamil 8 bulan, Poniyem (50).

Sedangkan di Desa Donorati Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo yaitu Jumadi (80), Saman (60), Fatmiati (51), Herlina (55), L. Naya (2), Ifa (12), Desti (8), Pandu (8), Karyono (40), Misina (35), Zaikim (45), Doni (19), Rendra (8), dan Panji (1). Korban ditempat lainnya masih belum teridentifikasi.

sumebr: detik.com