logo2

ugm-logo

Blog

Optimalisasi dampak kesehatan akibat kabut asap Kemenkes kembali kirim bantuan

Optimalisasi dampak kesehatan akibat kabut asap Kemenkes kembali kirim bantuan

Untuk mengatasi akibat kesehatan akibat dampak kabut Asap akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, Kementerian Kesehatan sampai dengan tanggal 26 Oktober telah mengirimkan bantuan logistik dan tenaga kesehatan yaitu sebanyak 37,806.4 ton bantuan terdiri dari obat – obatan, masker, Oxycan, MP ASI, dan PMT Ibu Hamil.

Bantuan tersebut dikirimkan ke Provinsi: Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara.

Selain itu, juga tenda isolasi untuk Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Riau dan Provinsi Jambi yang masing-masingnya dilengkapi dengan air purifier dan pendingin udara.

Selain itu, Kemenkes telah mengirimkan 9 unit Tim Kesehatan dari berbagai rumah sakit vertikal. RS yang baru saja mengirimkan tim kesehatanyann adalah RS Hasan Sadikin Bandung.

Bantuan tenaga medis yang berangkat terdiri dari Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Anak dan perawat. Mereka bertugas di Kabupaten Pulang Pisang Kalimantan Tengah mulai 25 Oktober 2015.

Tim kesehatan lainnya telah diberangkatkan ke Provinsi terdampak sebelumnya berasal dari RS Persahabatan, RS Cipto Mangun Kusumio, RSUP Fatmawati, RSPI Sulianti Saroso, RSUP Adam Malik, RSUP M Djamil, RSUP Karyadi, RSUP Sardjito,RSUP dr. Wahidin Soedirohusodo dan juga tim kesehatan dari Kemenkes RI Pusat.

Menteri Kesehatan mengimbau masyarakat selalu mengenakan masker bila terpaksa harus pergi ke luar rumah, lebih banyak minum air putih, dan memperbaiki gizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh supaya tidak mudah terkena penyakit.

Kementerian Kesehatan terus mengimbau warga masyarakat di wilayah terdampak kabut asap untuk mengurangi aktivitas di luar rumah bila indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah di atas 400.

Untuk mengurangi dampak asap di dalam rumah, dianjurkan agar ventilasi rumah ditutup dengan kain basah supaya partikel yang ada di dalam asap tidak masuk.

Khusus untuk bayi, tidak keluar rumah ketika ISPU di atas angka 50. Sementara ISPU di atas 200 juga tidak sehat bagi anak di bawah 12 tahun, ibu hamil, orang lanjut usia, dan orang yang punya penyakit kronis.

Berita dan Info kesehatan lebih lanjut dapat dilihat di laman http://www.depkes.go.id dan http://www.sehatnegeriku.com.[*]

Jelang Musim Hujan, BPBD Lakukan Mitigasi Bencana

KARANGANYAR - Mitigasi bencana menjelang datangnya musim hujan, mulai dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar. Sebab beberapa wilayah di kabupaten tersebut merupakan titik rawan, mulai dari bencana banjir, tanah longsor, hingga angin ribut.

Kepala BPBD Nugroho mengungkapkan, mitigasi tersebut untuk mengantisipasi timbulnya korban akibat bencana yang terjadi. “Langkah awal yang dilakukan adalah memetakan titik rawan bencana. Hasil pemetaan selanjutnya kami sampaikan kepada masyarakat, agar mereka lebih waspada. Sehingga jika terjadi bencana, mereka tahu apa yang harus dilakukan, untuk menghindari timbulnya korban,” katanya, Sabtu (24/10).

Kerawanan bencana di Karanganyar, biasa muncul saat musim hujan. Sebab mayoritas wilayah Karanganyar berada di wilayah pegunungan, sebagai bagian dari lereng Gunung Lawu. Selain itu, beberapa wilayah di Bumi Intanpari dilewati aliran Bengawan Solo, yang langganan meluap saat musim hujan. (Irfan Salafudin/CN38/SM Network)

sumber: suaramerdeka.com

Gempa 5,0 SR Guncang Jepara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,0 SR Guncang Jepara, Tak Berpotensi Tsunami

Jakarta- Gempa bumi berkekuatan 5,0 Skala Richter (SR) terjadi di Jepara, Jawa Tengah. Belum ada laporan mengenai dampak gempa ini.

Dilansir situs Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 01.10 WIB, Jumat (23/10/2015). BMKG mencatat kedalaman gempa 14 kilometer.

Lokasi gempa berada di 6.39 LS-110.91 BT atau 26 km Timur Laut Jepara atau sekitar 84 km Timur Laut Semarang. BMKG menyebut tak ada potensi tsunami dari gempa tersebut.

Belum ada laporan mengenai adanya korban atau kerusakan akibat gempa tersebut.

Konsep Evakuasi Bencana Asap Berbeda

Kabut asap menyelimuti udara di Pekanbaru.

JAKARTA -- Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  Sutopo Purwo Nugroho menyatakan konsep evakuasi dalam bencana asap sifatnya berbeda dengan evakuasi saat bencana alam. Yakni bukan memindahkan total penduduk ke suatu lokasi.

"Jadi modelnya tak seperti itu. Namun sebatas disediakan selter selter untuk pengungsian," ujarnya saat dihubungi, Rabu (21/10). Di sana ada fasilitas penjernih udara bagi warga setempat. Dia menyatakan penyediaan tempat evakuasi ini murni tanggung jawab pemerintah daerah. Bukan jadi kewenangan BNPB.

"Silahkan kalau mau tanya detail langsung ke Pemda. Kami tidak mengurus hal hal seperti itu," jelasnya

Merujuk pada  Keputusan Menteri Kesehatan No 289/SK/III/2003, harus ada kebijakan evakuasi warga jika Ispa sudah melebihi angka 400. Salah satu daerah yang tingkat Ispa nya parah adalah Palangkaraya. Dimana angka Ispa mencapai sekitar 1.000an.

sumber: republika

Kebakaran hutan mencapai Sulawesi, Maluku dan Papua

Badan nasional penanggulangan bencana, BNPB mengatakan telah mendeteksi lebih dari 800 titik api di lahan pertanian dan perkebunan di sejumlah wilayah di Sulawesi, dan jumlah sebenarnya bisa lebih banyak lagi.

"Dari 801 hotspot (titik api) di Sulawesi, (semuanya) berasal dari lahan pertanian dan perkebunan. Pembakaran dalam rangka land clearing. Asap juga terdeteksi dari hotspot yang ada," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam situs resmi BNPB.

"Tapi skalanya masih lokal," tandas Sutopo.

Senin (19/10) ini di Sulawesi Barat dideteksi ada 57 titik api, Sulawesi Selatan 151, Sulawesi Tengah 361, Sulawesi Tenggara 126, Gorontalo 47, serta Sulawesi Utara diketahui ada 59 titik api.

Image caption Sampai Senin (19/10) pagi, BNPB mendeteksi ada 1.545 titik api di seluruh Indonesia.

Menurutnya, pantauan satelit Terra Aqua juga mendeteksi ada 63 titik api di Maluku dan 17 titik di Maluku utara.

Adapun titik api di wilayah Kabupaten Merauke dan Mappi masih terdeteksi. "Hostpot (di Papua) ini sudah berlangsung sejak dua bulan yang lalu," jelasnya.

Sampai Senin (19/10) pagi, BNPB mendeteksi ada 1.545 titik api di seluruh Indonesia. "Jumlah sebenarnya sesungguhnya lebih banyak karena satelit tidak mampu menembus pekatnya asap di Sumatera dan Kalimantan," kata Sutopo.

"Sebagian besar penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah disengaja atau dibakar," paparnya.

Titik api juga dideteksi muncul di Nusa Tenggara Barat sebanyak 25 titik api serta Nusa Tenggara Timur 67 titik.