logo2

ugm-logo

Blog

Kecuali Tsunami, Banyumas Rawan Beragam Bencana

PURWOKERTO – Ratusan karyawan Rita Supermall Purwokerto panik ketika terdengar alarm tanda gempa bumi menyala. Suasana langsung berubah gaduh. Mereka nampak berlarian ke luar gedung untuk menghindari menghindari kemungkinan gedung runtuh. Bahkan ada yang harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka. Itulah suasana yang terjadi saat simulasi bencana yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kamis (26/4) kemarin.

Kegiatan itu dilakukan dalam rangka peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2018. PENANGANAN :Anggota Tagana membantu anggota security service Rita Super Mall memadamkan api yang berkobar usai gedung diguncang gempa. Simulasi kesiapsiagaan bencana ini dilaksanakan serentak di Indonesia, dan di Banyumas sendiri di lakukan di tiga titik, yang salah satunya di gedung Rita Super Mall Purwokerto (26/4).

(DIMAS BUDI LANTORO MUKTI PRABOWO/RADARMAS) Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyumas, Catur Hari Susilo mengatakan, seluruh wilayah Banyumas rawan berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, angin ribut, longsor dan berbagai bencana lainnya, kecuali bencana tsunami. Disebutkan, selain simulasi di wilayah kota Purwokerto yang dipusatkan di Rita Supermall, kegiatan serupa juga dilakukan di tiga lokasi lainnya. Antara lain di wilayah timur simulasi gempa bumi dipusatkan di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak. Lalu ada dimulasi bencana banjir di wilayah utara digelar simulasi bencana banjir yang dipusatkan di sekitar Lokawisata Baturraden.

Terakhir, simulasi digelar di SMAN 1 Ajibarang yang dipusatkan untuk simulasi bencana gempa bumi.

“Ini menjadi salah satu imbauan kepada masyarakat Banyumas agar selalu siaga menghadapi potensi bencana alam yang bisa terjadi setiap saat. Pasalnya, semua jenis bencana sangat berpotensi di wilayah Banyumas,” tegasnya. Seperti yang tercatat di Indeks Risiko Bencana (IRB), dari 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah, Banyumas menempati peringkat kelima tertinggi yang berpotensi bencana alam.

Catur menambahkan dalam kegiatan simulasi kemarin, BPBD Banyumas menargetkan 2.500 orang mengikuti simulasi bencana HKBN. Dan fakta di lapangan ada 15 ribu orang yang mengikuti simulasi evakuasi mandiri bencana alam. “Sembilan puluh persen dilakukan mandiri oleh masyarakat, serta sisanya dibantu pemerintah dan sukarelawan bencana,” ujarnya. Selain diikuti berbagai elemen masyarakat, kegiatan kemarin juga diramaikan oleh sejumlah personel TNI, Polri, dan berbagai organisasi lainnya.(ely/bay)

Sumber: http://radarbanyumas.co.id

Hari Kesiapsiagaan Bencana, Sukabumi Gelar Simulasi Evakuasi

Simulasi evakuasi korban bencana. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Pemerintah Kota Sukabumi menggelar simulasi evakuasi mandiri di kawasan Terminal Lembursitu, Kota Sukabumi, Kamis (26/4). Kegiatan tersebut sebagai rangkaian dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) nasional setiap 26 April.

Dalam acara tersebut, ditetapkan pula kelurahan tangguh bencana. "Upaya kesiapsiagaan ini terus didorong untuk mencegah timbulnya korban jiwa akibat bencana," ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami kepada wartawan.

Pada 2017 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadikan 26 April sebagai HKB. Pada tanggal itu bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Di Kota Sukabumi, ungkap Zulkarnain, momen HKB diisi dengan simulasi evakuasi mandiri. Acara ini melibatkan sejumlah unsur terkait seperti Palang Merah Indonesia (PMI), tagana, pramuka, dan masyarakat sekitar.

Intinya kata Zulkarnain, pada HKB ini dapat digerakkan latihan secara terpadu dalam menghadapi bencana. Sehingga harapannya dapat meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah.

"Targetnya dapat mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana. Khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana," kata dia.

Upaya kesiapsiagaan menjadi kunci keselamatan ketika terjadi bencana. Dalam artian, kesiapsiagaan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langka tepat guna dan berdaya guna.

Bupati Ajak Ubah Paradigma Penanggulangan Bencana ke Preventif

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR., mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana yang selama ini dianut masyarakat.

Mengubah paradigma tersebut penting karena pada masa mendatang tantangan terhadap pelaksanaan tugas dan upaya penangulangan bencana semakin berat. Bencana yang terjadi secara intensitas dari tahun ke tahun pun mengalami peningkatan.

“Kita harus mengubah paradigma penanggulangan bencana yang selama ini bersifat reaktif atau responsif beralih kepada penanggulangan bencana yang bersifat preventif,”kata bupati, Kamis (26/4/2018).

Ajakan itu disampaikan dalam apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2018 yang berlangsung di Alun-alun Jember, yang mengangkat tema “Siaga Bencana Dimulai dari Diri Kita, Keluarga dan Komunitas“.

Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional merupakan peringatan lahirnya Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

Undang-undang ini merupakan perangkat hukum pertama yang mengubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke pengelolalaan risiko bencana. Peringatan dilaksanakan setiap 26 April.

Penanggulangan bencana yang bersifat preventif, lanjut bupati, yaitu dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana.

Lebih jauh bupati menjelaskan, berdasarkan sebuah hasil survei di Jepang, diketahui bahwa keselamatan seseorang pada saat terjadi bencana sangat ditentukan oleh kesiapsiagaan dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesiapsiagaan tersebut perlu adanya gerakan aksi bersama untuk latihan kesiapsiagaan mandiri. Aksi ini untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan seluruh komponen dalam menghadapi potensi bencana, khususnya di Kabupaten Jember.

Usai apel, digelar simulasi penanggulangan bencana. Simulasi ini melibatkan sekolah dan perkantoran di sekitar Alun-alun Jember. Bupati Faida dan Dandim 0824 Jember Letkol Arif Munawar juga terlibat dalam simulasi tersebut. (mutia/*f2)

Banjir bandang di Lampung Barat, tiga orang dilaporkan hilang

Banjir bandang di Lampung Barat, tiga orang dilaporkan hilang


Bandarlampung (ANTARA News) - Banjir bandang terjadi di Pekon Bumi Hantatai, Kecamatan Bandar Negeri Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Senin sekitar pukul 15.30 WIB, mengakibatkan puluhan rumah terendam, dan tiga orang dilaporkan masih hilang.

Namun, menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Keselamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Drs AGP Madiono, berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, banjir sudah mulai surut.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, PMI, TNI dan Polri tengah mencari korban hilang, yang menurut data ada tiga orang, ykani Aef (35), Siti Fadilah (25), Annisa Nanda (2).

Sekitar 60 rumah terdampak banjir itu, dan penghuninya sudah mulai membersihkan rumah mereka setelah banjir surut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini untuk mewaspadai kondisi cuaca buruk hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung Senin hingga Selasa (24/4) pagi.

sumber: antaranews

Bandung Perlu Ini Agar Terhindar dari Banjir

BANDUNG, (PR),- Diperlukan penanganan bersama dalam upaya pengendalian banjir di kawasan Bandung raya. Kota Bandung butuh dukungan dari kawasan lain yang berbatasan untuk membuat area parkir air di masing-masing wilayah.

"Alangkah baiknya setiap kota dan kabupaten punya kolam retensi, itu sudah sangat membantu pengendalian banjir. Jadi satu sisi Kota Bandung melaksanakan pengendalian banjir, tetapi alangkah baiknya didukung wilayah lain," tutur Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung, Tedi Setiadi, di Bandung, Senin 23 April 2018.

Seperti diketahui, Kota Bandung kembali diterjang banjir bandang dalam beberapa hari terakhir. Padahal, terdapat dua proyek besar peningkatan kapasitas gorong-gorong yang bertujuan melancarkan aliran air dari wilayah hulu saat hujan besar terjadi.

Walau demikian, dua gorong-gorong baru Sungai Citepus di kawasan Pasteur tak mampu menampung derasnya air. Dari temuan di lapangan, banyak batu besar yang terbawa arus dan menumpuk di kawasan Pasteur.

Tedi menjelaskan, petugas DPU Kota Bandung yang bersiaga saat hujan deras kemarin memang mendapati banyak bebatuan besar yang menghambat laju air di Pasteur.

"Dari kemarin sudah ada 3 truk kami yang mengangkut batu besar dari Pasteur. Setrasari juga banyak ditemukan batu besar. Kami siaga terus 24 jam, setiap hujan degdegan luar biasa. Besok juga masih belum selesai, masih banyak batu yang harus diangkut," ujarnya.

Rencananya, DPU Kota Bandung akan segera mengerjakan proyek kolam retensi Sirnaraga sebagai upaya memarkirkan air. Dengan begitu, laju derasnya air menuju kawasan hilir bisa sedikit dikurangi.

Banjir Pagarsih

Derasnya banjir juga dirasakan warga Pagarsih. Banyak rumah terendam, hingga satu dinding rumah jebol dihantam air. Tedi mengatakan, basement Pagarsih untuk melancarkan air dari Sungai Citepus di Pasteur sudah berjalan sesuai fungsinya.

Akan tetapi, kata dia, laju banjir yang semakin cepat dan melewati permukiman warga di Pagarsih tertahan oleh penyempitan sungai di bagian hilir.

"Basement Pagarsih tidak masalah. Hanya saja setelah belokan ada penyempitan, dari bantaran sungai rumah penduduk, TPT (tembok penahan tanah/kirmir) jadi fodasi bangunan," katanya.

Saat ini, kata dia, petugas DPU Kota Bandung sudah menganalisis area terdampak banjir Pagarsih dan akan segera ditindaklanjuti. 

"Makanya Bandung tidak berhenti mengendalikan banjir. Tim sudah ke lapangan. Penanggulangan kerja sama dengan rescue Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, ada beberapa perbaikan, ada titik yang darurat di Kiaracondong, ada di Jatihandap, di Citepus saja ada 7 titik," ujarnya.***