logo2

ugm-logo

Blog

Belajar Penanggulangan Bencana dengan Kamishibai

Kegiatan seminar Siaga Bencana Gempa dan Tsunami, di Sekolah Menengah Atas (SMA) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo, Pleret, Bantul, Senin (14/3/2016). (Yudhi Priambodo/JIBI/Harian Jogja)

BANTUL– Kamishibai atau cerita bergambar adalah salah satu kebudayaan yang berasal dari Negara Jepang. Menggunakan cerita dengan menampilkan gambar-gambar, metode ini sangat digemari oleh semua kalangan di Jepang.

Dengan menggunakan kamishibai, para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo, Pleret, Bantul diajarkan bagaimana cara penanggulangan bencana alam dalam seminar Siaga Bencana Gempa dan Tsunami, Senin (14/3/2016).

Adalah Yoko Takafuji seorang peneliti asal jepang yang sedang melakukan penelitian di Indonesia yang mengenalkan metode tersebut. SMA MAN Wonokromo menjadi salah satu SMA di DIY yang mendapatkan materi cara penanggulangan bencana alam gempa dan tsunami melalui metode kamishibai.

Sebanyak 90 siswa-siswi kelas X dan XI, jurusan Bahasa Jepang SMA MAN Wonokromo yang menjadi peserta pada seminar kali ini.

Yoko Takafuji mengatakan karena daerah Bantul memiliki tingkat kerawanan bencana gempa dan tsunami yang mirip dengan Jepang maka para pelajar itu harus wajib bagaimana cara melakukan penanggulangan saat terjadi bencana.

“Dari penelitian yang saya lakukan di Indonesia, beberapa daerah tersebut sangat rawan dengan bencana gempa dan tsunami. Jadi tindakan siaga bencana harus dikenalkan kepada anak-anak muda khususnya para pelajar SMA,” ujar Yoko.

Diakui oleh Yoko dengan menggunakan metode kamishibai materi penanggulangan bencana akan lebih diserap dan lebih mudah dipahami, karena metodenya sangat menarik.

“Dengan metode yang tidak umum, sebuah pembelajaran akan mudah dipahami. Saya berharap mungkin di Indonesia ada metode yang mengunakan unsur budaya Indonesia yang digunakan untuk materi pembelajaran serupa,” imbuh Yoko.

Para pelajar yang mengikuti seminar juga tampak sangat antusias, beberapa pertanyaan dilontarkan oleh beberapa siswa dalam seminar yang berlangsung di Balai Desa Wonokromo, Pleret, Bantul kamarin.

Wakil Kepala Sekolah bagian kesiswaan Syaefulani berharap dengan adanya seminar ini para siswa dapat menyerap ilmunya, “Bagaimana cara penanggulangan bencana bi Jepang bisa diterapkan di Bantul agar dapat menekan angka korban jiwa jika terjadi bencana alam,” kata Syaeful.

Selain materi penanggulangan bencana, para pelajar juga dapat secara langsung praktik dalam menggunakan bahasa Jepang dalam bahasa sehari-hari.

SMA MAN Wonokromo memang satu-satunya SMA di Bantul yang memiliki jurusan Bahasa Jepang, maka dari itu diharapkan para siswa dapat benar-benar menyerap ilmu dan dapat menularkan ilmunya kepada para siswa yang lain.

sumber: Harianjogja.com

Pemasangan EWS untuk Meminimalisir Korban Bencana

SEORANG warga melihat alat EWS (Eraly Warning System) atau sistem peringatan dini yang dipasang di Kali Gajah Wong, Kota Yogyakarta.*

YOGYAKARTA, (PR).- Upaya meminimalisir bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY siap memasang 200 EWS (Eraly Warning System) atau sistem peringatan dini di seluruh DIY di tahun ini. Terlebih musim penghujan seperti sekarang ini. Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY, Heri Siswanto di Yogyakarta, Selasa 15 Maret 2016.

 

Heri mengatakan, dari jumlah itu, 20 di antaranya akan dipasang di lokasi rawan di Gunungkidul dan beberapa alat pada sungai-sungai yang sering meluap kala musim hujan. “Untuk di Gunungkidul, kajian titik-titik rawan longsor terus dilakukan. Sedang untuk pemasangannya dilaksanakan secara bertahap,” katanya.

Untuk penanggulangan risiko bencana longsor, kata dia, BPBD DIY telah menyiapkan enam desa di Gunungkidul akan dijadikan desa tanggap bencana. Harapannya dengan status itu, warga di sekitar bisa mengantisipasi atau mengambil tindakan secara mandiri saat terjadi musibah sehingga kerugian yang diderita bisa diminimalisir.

“Sedangkan untuk mengantisipasi banjir luapan sungai maupun banjir lahar dingin, sebenarnya puluhan EWS sudah terpasang namun kami akan melakukan pengecekan ulang berfungsi tidakknya alat tersebut sehingga akan lebih efektif bagi warga yang terdampak bencana untuk setidaknya mengantisipasi agar tidak memakan korban,” ucapnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyusun prioritas penanganan banjir Sungai Winongo yang sempat menggenangi permukiman warga dan merusak sejumlah infrastruktur di sepanjang bantaran sungai. "Prioritas itu perlu disusun untuk menentukan penanganan apa saja yang harus dilakukan dalam waktu cepat dan sangat dibutuhkan masyarakat karena menyangkut kepentingan umum," kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti.

Menurut Haryadi, luapan Sungai Winongo yang terjadi pada Sabtu (12/3) malam mengakibatkan sekitar 1.700 warga harus dievakuasi, namun kembali lagi ke rumah masing-masing saat air sudah tidak menggenangi permukiman. Saat ini hanya tersisa tujuh warga yang belum dapat kembali ke rumahnya karena rumah tempat tinggalnya hanyut dibawa derasnya arus air Sungai Winongo.

“Hal terpenting adalah memberikan kesadaran kepada warga tentang potensi bencana yang mereka hadapi apabila tinggal di tepi sungai, bukan hanya memberikan larangan. Dengan kesadaran yang terbangun, maka warga tidak akan tinggal di tepi sungai," tuturnya.

Pemkot Yogyakarta masih terus melakukan pendataan terhadap kerusakan-kerusakan infrastruktur akibat terjangan air Sungai Winongo yang memiliki konsekuensi pada pembiayaan untuk perbaikan. Dari hasil pendataan akan diketahui, kerusakan mana saja yang harus dibiayai menggunakan dana tidak terduga atau dari APBD Kota Yogyakarta," ucapnya.

Sampai saat ini, Pemkot Yogyakarta masih menghitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk perbaikan infrastruktur yang rusak akibat luapan air sungai. Luapan tidak hanya terjadi di Sungai Winongo, tetapi juga di Code namun tidak menimbulkan banyak kerusakan. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, terjadi kerusakan talud di empat lokasi, dua rumah hanyut, satu rumah rusak, satu jembatan rusak, dan tiga sumur tercemar.

"Jika menggunakan dana tak terduga, maka penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan harus memenuhi semua syarat administrasi yang ditetapkan," katanya.

Haryadi menuturkan, pihaknya mempunyai dana tak terduga sebesar Rp5 miliar dan belum digunakan untuk pembiayaan apa pun. "Jika bisa ditangani dengan dana APBD murni atau perubahan, maka penanganan akan lebih diutamakan menggunakan dana APBD," ujarnya. (Wilujeng Kharisma/A-147)

Dewan Desak BPBD Perjelas Dana Bencana

(SUMENEP)– DPRD Sumenep meminta kepada pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep untuk terus mengawal dan menseriusi dana Rp19 miliar. Karena dana untuk bencana 2013 hingga 2015 itu dinilai bisa diperoleh sesuai dengan pengajuan yang telah diajukan.

Ketua Komisi IV DPRD Sumenep H. Subaidi menjelaskan, bahwa dana itu secepatnya diperjelas ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Karena dana tersebut tinggal diurus dan bahkan pihak dewan sudah pernah bertemu langsung pihak BNPB memperjelas dana tersebut.

“Sebenarnya dana itu tersedia di pusat, tapi mungkin tidak ditindaklanjuti. Sebab ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Sumenep. Makanya kami berharap dana itu bisa turun dan pihak BPBD harus mengawal itu,” katanya.

Sebab, dana Rp19 miliar itu diperuntukkan kepada sejumlah infrastruktur yang mengalami kerusakan yang diakibatkan bencana alam yang terjadi dari tahun 2013 hingga 2015. Oleh karenanya, dana yang tidak sedikit itu dinilai sangat penting untuk nantinya bisa memperbaiki infrastruktur tersebut.

“Bahkan, di dalam data yang ada di BNPB sudah ada titik yang akan diperbaiki dengan dana Rp19 miliar itu. Karena penggunanaan dana itu nantinya sesuai dengan by name, by addres. Bahkan sudah ada foto infrastruktur yang mengalami kerusakan dan membutuhkan dana itu,” terang politisi PPP itu.

Jika dana itu benar-benar turun ke Sumenep, pihak DPRD Sumenep akan terus mengawal realisasi dana tersebut. Hal itu dilakukan untuk memastikan, jika penggunaan dana itu sesia dengan peruntukannya masing-masing atau sesuai dengan by name, by addres yang sudah ada dalam dokumen.

“Pengawalan pasti kita lakukan untuk realisasi dana itu. Oleh karenanya, kalau nanti ada survei ke lokasi berdasarkan data yang ada, harus bersama-sama dengan kami di komisi IV. Karena yang jelas akan ada survei, siapa tahu infrastruktur yang rusak seperti tebing ternyata sudah diperbaiki oleh masyarakat melalui swadaya,” lanjutnya.

Sementara kepala BPBD Sumenep Febrianto, bahwa pihaknya sudah mendatangi BNPB, namun dana tersebut bukan merupakan dana yang bisa langsung diambil. Melainkan harus ada adminsitrasi yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Pasalnya, BPBD Sumenep diminta untuk menyediakan Rencana Anggaran Biaya (RAB) oleh pemerintah pusat. Namun pihaknya tidak bisa langsung menyediakan RAB tersebut karena masih harus butuh dana, sementara dana tersebut harus menggunakan dana pemkab Sumenep.

Yang paling membuat pihaknya tidak bisa langsung membuat RAB sesuai yang diinginkan pemerintah pusat, sebab pihaknya khawatir ketika RAB disediakan dnegan anggaran daerah, Rp19 miliar itu tidak bisa cair.

“Karena meskipun kami menyediakan RAB nya, belum tentu anggaran itu disetujui. Karena kalau tidak disetujui, yang jelas anggarannya tidak bisa cair,” katanya. (ong/h4d)

sumber: korankabar

Gubernur Kalsel: Siaga Darurat Bencana Bisa Diperpanjang

Kalsel - Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor mengatakan status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor, dan puting beliung di provinsi ini sejak 10 Januari hingga 31 Maret 2016 bisa diperpanjang apabila diperlukan.

Menurut Sahbirin, pemerintah akan memastikan kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

"Kalau memang diperlukan, status tersebut akan kita perpanjang," kata Sahbirin di Banjarmasin, Selasa (08/03/2016).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kejadian banjir dan tanah longsor di Kalimantan Selatan Bulan Januari - 6 Maret 2016 terjadi di Kabupate Tabalong, merendam tujuh Kecamatan 25 Desa dan 1.840 Rumah.

Kemudian, di Kabupaten Balangan, merendam tiga Kecamatan sembilan desa dan 205 rumah, Hulu Sungai Utara, merendam 10 Kecamatan, 166 Desa dan 4.715 Rumah dan Tanah Bumbu, merendam lima kecamatan, 21 desa dan 814 Ha sawah terendam.

Penanganan banjir telah difokuskan di masing-masing kabupaten, baik dalam hal evakuasi maupun bantuan kebutuhan dasar (logistik). Pemerintah provinsi telah memberikan bantuan peralatan dan logistik ke masing-masing Kabupaten/Kota.

Sebelumnya, Senin (07/03/2016) dilaksanakan rapat koordinasi terpadu penanggulangan kebakaran lahan dan hutan bersama dengan TNI, Kepolisian, serta BPBD se Kalimantan Selatan.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Bandara (BMKG) Syamsudin Noor, Ibnu Sulistyono mengatakan, Kemarau 2016 diperkirakan diawalai pada akhir Mei 2016, yang intensitas dan frekuensi terjadinya hujan normal.

Saat ini, kata dia, hujan dengan intensitas tinggi, masih mungkin terjadi di wilayah Kalimantan Selatan bagian Timur masih mungkin terjadi, sehingga kemungkinan terjadinya banjir, tetap harus diwaspadai.

Sementara, pengaruh elnino pada 2016 ini, diperkirakan sudah tidak ada lagi, sehingga suhu udaranya akibat kemarau cenderung normal.

Namun, kata dia, peluang kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi menjadi perhatian lebih besar, diprediksi puncak musim kemarau antara Agustus - Oktober 2016.

Sebelumnya, Kepala Seksi Operasi SAR Banjarmasin Wasino mengatakan, menghadapi berbagai kemungkinan bencana tersebut, pihaknya telah menyiagakan seluruh personil dan seluruh peralatan yang dimiliki.

Seluruh peralatan penanganan banjir, baik darat maupun sungai, kini sudah disiapkan, bila terjadi bencana di beberapa daerah di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah.

Beberapa peralatan tersebut antara lain, kapal rescue boat sepanjang 12 meter untuk evakuasi, kemudian perahu karet dan beberapa peralatan lainnya.

Selain peralatan, SAR pihaknya juga telah menyiagakan 91 orang personil selama 24 jam, yang ada Banjarmasin, Kotabaru, Sampit dan Pangkalanbun, untuk sewaktu-waktu melakukan pertolongan bila terjadi bencana.

Wasino memperkirkan, beberapa daerah, yang dulungnya langganan banjir cukup parah, seperti daerah Bati-Bati dan Cempaka, banjirnya akan berkurang.

Menurut dia, pemerintah telah mengeruk sungai yang dangkal dan membangun aliran sungai darurat di daerah Cempaka.

sumber: Rimanews

Logistik Bencana Disiagakan

MUKOMUKO, BE –  Kabupaten Mukomuko salah satu daerah rawan bencana gempa dan tsunami. Terkait hal itu, Pemda melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiagakan dan menyiapkan logistik bencana tersebut.

“Harapan kita tidak terjadi bencana apapun di daerah ini. Untuk kesiapsiagaan, logistik yang dibutuhkan sudah kita siapkan,” demikian Kepala BPBD Kabupaten Mukomuko, Ramdani SE MSi dikonfirmasi Bengkulu Ekspress. Logistik itu diantaranya tenda keluarga, tenda pleton dan posko, makanan siap saji dan logistik lainnya. Pun dengan anggaran tak terduga juga telah disiapkan di APBD yang dapat digunakan sewaktu – waktu jikalau sudah darurat. “

Meskipun jumlah anggarannya tidak besar. Minimal dapat membantu masyarakat bersifat sementara  pasca terjadi bencana di daerah ini,” ujarnya. Sejumlah logistik yang disiapkan telah disimpan digudang BPBD. Jika  sewaktu – waktu dibutuhkan segera didistribusikan. Dan jikalau logistik yang ada kurang. Kita akan berkoordinasi dengan provinsi dan pemerintah pusat. Ia juga menyampaikan wilayah pesisir mulai dari kecamatan Air Rami, Ipuh, Sungai Rumbai, Teramang Jaya hingga Kota Mukomuko dan sekitarnya diantara termasuk rawan bencana. Masyarakat diingatkan tetap waspada. Karena kemungkinan apapun bisa terjadi kapanpun seperti gempa bumi dan bencana lainnya. (900)

sumber: bengkulu ekpress