logo2

ugm-logo

Blog

400 Kali Gempa, Gunung Agung Harus Steril dari Masyarakat dan Wisatawan

DENPASAR, (PR).- Tercatat 400 kali gempa bumi mengguncang Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali. Beberapa kondisi vulkanik aktif lainnya membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merekomendasikan sterilisasi atau penghentian aktivitas masyarakat dan wisatawan di sana. Terutma pada radius 7,5 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gede Suantika, seperti dikutip dari Antara. "Belajar dari letusan tahun 1963, batu besar terlontar secara tiba-tiba dalam radius tersebut," kata Gede di pos pengamatan gunung Agung di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Selasa 18 September 2017.

Rekomendasi pelebaran kawasan larangan aktivitas itu meliputi kawasan utara, selatan, barat daya, dan tenggara. Termasuk juga kawasan ibadah umat Hindu terbesar di Bali, Pura Besakih, yang ada di radius tersebut.  Di Desa Rendang dalam dua hari terakhir bahkan terjadi gempa 400 kali. “Rekomendasi itu didasarkan pantauan pos pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang yang telah mencatat gempa vulkanik lebih dari 400 kali dalam 24 jam terakhir," katanya.

Hingga Senin 18 September 2017 pukul 20.00 Wita, tercatat dua kali gempa Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 480 detik dan 18 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 2 mm hingga 10 mm dengan lama gempa 7 hingga 40 detik. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20.00 Wita telah terjadi empat kali gempa yang berpusat di sekitar gunung dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang.

Beredar hoax

Pada Senin 18 September 2017 pukul 21.00 Wita, PVMBG menaikkan status aktivitas Gunung Agung dari waspada menjadi siaga atau level III terhitung. Gede Suantika mengatakan dinaikkannya status gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya. Akan tetapi, beredar banyak hoax bahwa gunung tersebut telah meletus di tengah kepanikan masyarakat.

"Gunung Agung belum meletus dan belum mengeluarkan hujan abu," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dihubungi Antara. Sutopo melanjutkan bahwa pantauan satelit Himawari dari BMKG juga menunjukkan bahwa belum terdeteksi adanya hujan abu di sekitar gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu.

Hasil analisis satelit Aqua dan Terra dari Lapan menunjukkan adanya tiga "hotspot" kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kubu Kabupaten Karangasem atau sebelah utara-timurlaut dari kawah Gunung Agung dalam 24 jam terakhir. "Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya informasi hujan abu dan foto-foto yang beredar di media sosial adalah tidak benar hujan abu dari aktivitas vulkanik Gunung Agung," tegas Sutopo.

Kemungkinan, lanjut dia, abu tersebut merupakan material abu dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sekitar gunung yang disucikan umat Hindu tersebut. Aktivitas gunung tertinggi di Bali itu terus dipantau intensif oleh PVMBG termasuk setiap informasi disampaikan kepada BNPB dan BPBD agar pemerintah terus mengambil langkah-langkah antisipasi.***

119 Orang Dilaporkan Tewas Akibat Gempa 7,1 SR di Meksiko

119 Orang Dilaporkan Tewas Akibat Gempa 7,1 SR di Meksiko

Jakarta - Meksiko diguncang gempa berkekuatan 7,1 Skala Richter (SR). Akibat gempa tersebut, dilaporkan 119 orang tewas.

Dilansir dari Reuters, Rabu (20/9/2017), korban meninggal paling banyak terdapat di negara bagian Morelos, tepat di sebelah selatan Mexico City. Di Moreles setidaknya ada 54 korban tewas akibat gempa.

Sirene berbunyi saat gempa terjadi di Meksiko. Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto mengatakan, 27 bangunan roboh akibat gempa.

Laporan awal menunjukkan daerah yang paling parah terkena adalah negara bagian Morelos, tepat di sebelah selatan Kota Meksiko. Sedikitnya 54 orang tewas di sana, menurut seorang pejabat negara bagian. Pihak berwenang melaporkan kematian lainnya di Mexico City, dan di negara tetangga Puebla dan Negara Bagian Meksiko.

Dilansir AFP dan Reuters, Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut pusat gempa terletak 5 mil (8 km) sebelah tenggara Atencingo di negara bagian Puebla pada kedalaman 32 mil (51 km). Namun belum diketahui apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak.

Salah satu televisi Meksiko menggambarkan banyaknya mobil yang hancur karena terkena puing-puing bangunan yang hancur karena gempa. Warga pun berlarian ke jalanan untuk menyelamatkan diri. Selain itu, saluran listrik dan telepon juga mati karena gempa.

Presiden Enrique Pena sendiri saat gempa terjadi sedang dalam penerbangan ke Oaxaca. Melalui akun Twitter miliknya dia mengatakan akan segera kembali untuk menghadapi gempa di Meksiko City.

Gempa tersebut terjadi beberapa jam setelah warga berpartisipasi dalam latihan gempa di seluruh negeri pada peringatan gempa dahsyat yang menewaskan ribuan orang pada tahun 1985.

Selain itu, Meksiko juga baru saja diguncang gempa berkekuatan 8,1 SR pada 7 September lalu. Akibat kejadian tersebut, 98 orang dikabarkan tewas.
(bis/dkp)

Proteksi Bencana Alam, Skema Asuransi Nasional Mendesak

Bisnis.com, JAKARTA - Keterlibatan pemerintah dalam menyiapkan skema asuransi bencana nasional dinilai mendesak direalisasikan di tengah masifnya peristiwa bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di dunia.

Yasris Y. Rasyid, Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia, menilai sebagai antisipasi dari kondisi terburuk akibat bencana, yakni tidak adanya proteksi asuransi, diperlukan skema public private partnership (PPP) ataupun instrumen lain, yaitu CAT Bond atau surat utang yang diterbitkan dari tertanggung dan asuransi untuk mengantisipasi risiko katastropik.

Pasalnya, dia menjelaskan di Indonesia saat ini baru ada perluasan jaminan asuransi harta benda untuk risiko angin topan (taifun) atas setiap harta benda yang diasuransikan.

“Jadi belum merupakan auransi bencana yang bersifat katastropik,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (11/9/2017).

Yasril mengatakan saat ini Maipark tengah menawarkan konsep asuransi bencana alam nasional sebagai bagian dari disaster financial risk melalui asuransi bagi Indonesia. Asuransi ini, jelasnya, bersifat wajib yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur bangsa, yakni saling tolong menolong dan gotong royong untuk proteksi diri dari risiko bencana alam.

Jaminan utama asuransi ini ada pada risiko yang bersifat katastropik, seperti gempa bumi, tsunami, topan dan bencana alam lainnya. “Skema penggantianya berbentuk PPP, yaitu kerja sama pemerintah dengan swasta, dan tidak mengandalkan pada biaya pasca bencana yang dipastikan sangat besar”.

Yasril menilai di negara lain asuransi bencana alam serupa juga sudah dijalankan, seperti di Jepang dengan proteksi utama terhadap gempa bumi dan tsunami, di Turki untuk gempa bumi, dan negara-negara Karibia dengan perlindungan utama dari gempa bumi dan topan.

“Filipina juga sedang mengembangkan asuransi bencana alam nasional ini dengan risiko utama gempa bumi, tsunami dan taifun,” jelasnya.

Seperti diketahui, sejumlah bencana melanda wilayah Benua Amerika. Badai Irma menerjang wilayah Florida, Amerika Serikat, dan Karibia. Sebelumnya, Badai Harvey juga melanda wilayah Texas, Amerika Serikat.

Di Meksiko, gempa berkekuatan 8,1 Skala Richter mengguncang Mexico City hingga Guatemala. Sementara itu, bencana banjir besar melanda sejumlah negara di Asia, khususnya Bangladesh, India, dan Nepal.

NTB Terbitkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan

Seorang buruh mengangkat daun tembakau kering untuk disortir di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Praya, Lombok Tengah,NTB, Kamis (7/9).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, kekeringan melanda 318 desa di 71 kecamatan yang tersebar di 9 kabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabupaten/kota yang terdampak kekeringan meliputi, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.

Dengan begitu, hampir seluruh kabupaten/kota di NTB, kecuali Kota Mataram, terdampak kekeringan. Berdasarkan data BNPB, sebanyak 640.048 jiwa atau 127.940 KK masyarakat di NTB terdampak kekeringan. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum mengatakan, hampir seluruh bupati/wali kota di NTB telah mengeluarkan surat keputusan siaga bencana kekeringan.

"Yang sudah menerbitkan SK siaga ada tujuh kabupaten/kota. Sedangkan dua kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Lombok Utara sedang dalam proses," ujar Rum di Mataram, NTB, Ahad (10/9).

Rum menambahkan, BPBD NTB maupun BPBD Kabupaten/Kota terus menyalurkan distribusi air kepada wilayah yang terdampak kekeringan.  

Selain itu, Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi juga telah mengeluarkan surat keputusan siaga darurat bencana kekeringan provinsi NTB. Dalam keputusannya ini, siaga darurat bencana kekeringan di NTB ditetapkan berlangsung mulai 25 Agustus hingga 31 Desember 2017. 

"Status siaga darurat bencana dapat diperpanjang sesuai pelaksanaan penanganan darurat bencana di lapangan," kata pria yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB).

TGB meminta para kepala daerah di kabupaten/kota mengambil langkah strategis dalam menangani siaga darurat bencana kekeringan ini.

Trump Tetapkan Badai Irma Bencana Besar

 Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan peristiwa Badai Irma menjadi bencana besar. Badai Irma yang menerjang wilayah Florida pada Ahad (10/9) menimbulkan kerugian yang besar.

Melalui laporan Reuters, Gubernur Florida Rick Scott mengatakan, Trump menyetujui jika Badai Irma sebagai bencana besar. Penetapan itu sangat berpengaruh pada pemulihan Florida secara cepat.

Deklarasi tersebut akan memberi wewenang dana federal untuk membantu negara bagian. Dana tersebut dapat digunakan untuk membantu lembaga-lembaga lokal dan negara bagian untuk segera melakukan tanggapan dan pemulihan.

Meski Scott telah mengumumkan dukungan Trump untuk segera melakukan pemulihan terhadap bencana alam itu. Gedung Putih hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi.