logo2

ugm-logo

El Niño Menguat, Krisis Air Bersih Mengintai: Saat Kemarau Berubah Menjadi Ancaman Kesehatan

Fenomena El Niño yang kini aktif turut memperkuat kondisi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026, sementara kondisi kering meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta terganggunya ketersediaan air bagi masyarakat. Keterbatasan air bersih bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu sanitasi dan higiene serta meningkatkan risiko masalah kesehatan masyarakat. Dalam perspektif manajemen bencana kesehatan, kondisi tersebut membutuhkan kesiapan pemerintah dan layanan kesehatan untuk memastikan ketersediaan air, melindungi kelompok rentan, serta mengantisipasi dampak kesehatan akibat kemarau berkepanjangan. Kajian ilmiah mengenai kekeringan juga menunjukkan bahwa perubahan ketersediaan air dan kondisi lingkungan selama periode kekeringan dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan kesiapsiagaan menghadapi El Niño perlu dilakukan sejak dini agar kekeringan tidak berkembang menjadi krisis air dan krisis kesehatan yang lebih luas.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bmkg.go.id/berita/utama/musim-kemarau-di-bawah-normal-dan-el-nino-kuat-bmkg-gencarkan-modifikasi-cuaca-dan-dukung-mitigasi-lintas-sektor

2.     Jurnal: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3682759/

Bencana Tak Lagi Mengenal Batas Negara, ASEAN Perkuat Resiliensi Hadapi Krisis Kesehatan dan Iklim

Bencana, perubahan iklim, dan kedaruratan kesehatan kini menjadi ancaman lintas negara yang tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri. Dalam Pertemuan ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) ke-48, Indonesia menegaskan pentingnya membangun resiliensi berkelanjutan melalui penguatan kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini, serta kolaborasi regional dalam menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks. Pendekatan ini menjadi penting karena setiap bencana berpotensi memicu krisis kesehatan, mulai dari meningkatnya korban jiwa dan cedera hingga terganggunya layanan kesehatan, munculnya penyakit menular, dan dampak psikososial pada masyarakat terdampak. Oleh karena itu, penguatan sistem kesehatan yang tangguh, koordinasi lintas sektor, dan kerja sama antarnegara menjadi bagian penting dalam manajemen bencana kesehatan di kawasan ASEAN. Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa tata kelola yang terintegrasi dan kolaborasi multipihak merupakan fondasi utama dalam meningkatkan ketahanan sistem kesehatan terhadap berbagai ancaman bencana dan krisis di masa depan.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bnpb.go.id/berita/buka-pertemuan-acdm-ke-48-bnpb-sampaikan-5-pesan-kunci-terkait-resiliensi-berkelanjutan-asean   

2.     Jurnal: https://doi.org/10.15171/ijhpm.2016.155

More Articles ...