logo2

ugm-logo

Belajar dari Bencana: Mengapa Respon Cepat Saja Tidak Cukup

Belajar dari Bencana: Mengapa Respon Cepat Saja Tidak Cukup

rspon cepatIsu manajemen bencana dan krisis kesehatan kembali menegaskan satu pelajaran penting: respon darurat tidak cukup “cepat”, tetapi harus terkoordinasi, berbasis data, dan menjaga keberlanjutan layanan kesehatan. Contohnya, laporan Reuters tentang banjir bandang di Sulawesi Utara menunjukkan bagaimana cuaca ekstrem dapat memicu korban, gangguan akses, dan kebutuhan respons lintas sektor secara segera. Di saat yang sama, literatur ilmiah menekankan bahwa ketahanan sistem kesehatan (health system resilience) sangat menentukan apakah layanan tetap berjalan “sebelum-saat-setelah” bencana, termasuk untuk mengelola lonjakan pasien dan disrupsi logistik. Karena itu, pendekatan krisis kesehatan yang relevan minggu ini adalah memperkuat komando-terpadu, komunikasi risiko yang konsisten, rujukan yang adaptif, dan pemulihan layanan primer sejak fase awal tanggap darurat. Pada level komunitas, kesiapsiagaan rumah tangga dan pemantauan peringatan dini juga menjadi kunci untuk menekan dampak saat bencana berkembang cepat.

Selengkapnya:

Berita       Artikel

Reportase: Webinar “Laporan Terkini: Manajemen Operasional Respon Banjir Aceh Utara”

Reportase: Webinar “Laporan Terkini: Manajemen Operasional Respon Banjir Aceh Utara”

PKMK-Yogyakarta. Pada pertengahan November 2025, Provinsi Aceh menghadapi krisis kemanusiaan akibat bencana hidrometeorologi masif yang berdampak pada 18 kabupaten/kota. Berdasarkan data BNPB per 31 Desember 2025, eskalasi bencana ini mengakibatkan 572 korban jiwa dan memaksa lebih dari 350 ribu warga mengungsi, dengan sebaran dampak yang luas. Sebaran wilayah terdampak meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, hingga Nagan Raya.

SELENGKAPNYA

More Articles ...