logo2

ugm-logo

Karhutla Kembali Mendominasi, Ancaman Krisis Kesehatan di Musim Kemarau Perlu Diwaspadai

Karhutla Kembali Mendominasi, Ancaman Krisis Kesehatan di Musim Kemarau Perlu Diwaspadai

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mendominasi kejadian bencana di Indonesia seiring meningkatnya kondisi cuaca kering pada musim kemarau. Berdasarkan laporan BNPB, karhutla terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Meskipun skala kejadian masih terbatas, karhutla berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan apabila menghasilkan kabut asap yang meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk penyakit pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dalam perspektif manajemen bencana kesehatan, upaya deteksi dini, pemadaman cepat, serta perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan peningkatan gangguan pernapasan dan beban pelayanan kesehatan, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana dan krisis kesehatan.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-tanggal-12-juli-2026

2.     Jurnal: https://doi.org/10.1289/ehp.1409277  

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Level III (Siaga) kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana vulkanik di Indonesia. Badan Geologi melalui PVMBG melaporkan bahwa gunung api ini mengalami beberapa kali erupsi sejak awal Juli 2026 dan mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Selain ancaman material vulkanik, erupsi juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan akibat paparan abu vulkanik yang dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga mengganggu pelayanan kesehatan apabila aktivitas vulkanik meningkat. Penguatan sistem peringatan dini, kesiapan fasilitas kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kesehatan pada kelompok rentan selama periode aktivitas gunung api. Temuan ilmiah juga menunjukkan bahwa mitigasi dampak kesehatan perlu menjadi bagian integral dari manajemen risiko bencana vulkanik guna melindungi masyarakat di wilayah terdampak.

Selengkapnya:

1.     Berita:

2.     Jurnal: https://doi.org/10.1007/s00445-021-01513-9  

 

 

More Articles ...