Fenomena El Niño yang kini aktif turut memperkuat kondisi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026, sementara kondisi kering meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta terganggunya ketersediaan air bagi masyarakat. Keterbatasan air bersih bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu sanitasi dan higiene serta meningkatkan risiko masalah kesehatan masyarakat. Dalam perspektif manajemen bencana kesehatan, kondisi tersebut membutuhkan kesiapan pemerintah dan layanan kesehatan untuk memastikan ketersediaan air, melindungi kelompok rentan, serta mengantisipasi dampak kesehatan akibat kemarau berkepanjangan. Kajian ilmiah mengenai kekeringan juga menunjukkan bahwa perubahan ketersediaan air dan kondisi lingkungan selama periode kekeringan dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan kesiapsiagaan menghadapi El Niño perlu dilakukan sejak dini agar kekeringan tidak berkembang menjadi krisis air dan krisis kesehatan yang lebih luas.
Selengkapnya:
2. Jurnal: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/

