Karhutla Mulai Meningkat, BNPB Ingatkan Masyarakat Waspada Memasuki Musim Kemarau
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia memasuki awal musim kemarau. Selain ancaman karhutla, beberapa daerah masih menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem akibat kondisi cuaca yang belum stabil. BNPB menegaskan bahwa perubahan pola cuaca pada masa transisi musim dapat meningkatkan risiko bencana secara bersamaan, baik hidrometeorologi basah maupun kering. Pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan pemantauan titik panas, sosialisasi pencegahan kebakaran, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan kejadian kebakaran kepada pihak berwenang. Upaya mitigasi sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah meluasnya dampak kebakaran terhadap kesehatan, lingkungan, dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.
Reportase
“Hybrid Webinar: Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa
Dalam Rangka Memperingati 20 Tahun Gempa Jogja”

Pokja Bencana FK-KMK UGM-Yogyakarta. Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Hybrid Seminar Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa pada Selasa (26/5) dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006. Kegiatan yang berlangsung secara luring di Auditorium Gedung Tahir FK-KMK UGM dan daring melalui Zoom ini dihadiri oleh akademisi, tenaga kesehatan, jejaring Academic Health System (AHS), pemerintah daerah, serta peserta dari berbagai institusi. Acara secara resmi dibuka oleh Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG., Subsp.Urogin RE, selaku Asisten Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM. Dr. Muhammad menegaskan bahwa pengalaman Gempa Jogja menjadi pengingat penting akan perlunya membangun budaya kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan, berbasis ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan penguatan sistem kesehatan yang adaptif terhadap berbagai ancaman di masa depan.
Reportase Webinar “Resiliensi Fasilitas Kesehatan : Membangun Kesiapsiagaan Operasional dalam Menghadapi Krisis Kesehatan”
Seri 1 : Topik “Mitigasi, Risiko dan Alur Pelayanan Darurat”
PKMK-Yogyakarta. Pemerintah terus menunjukkan komitmen jangka panjang dalam memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menghadapi berbagai situasi darurat. Langkah ini ditegaskan kembali melalui terbitnya Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 yang mengatur tentang Kejadian Luar Biasa (KLB), Wabah, dan Krisis Kesehatan. Regulasi tersebut secara eksplisit mengamanatkan perwujudan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Aman Bencana sebagai standar mutlak dalam pelayanan publik. Kemudian, dalam rangka membangun ketangguhan tersebut, diperlukan rangkaian upaya terintegrasi yang mencakup mitigasi, analisis risiko, pengaturan layanan darurat, pembentukan sistem komando, penguatan kapasitas SDM, hingga evaluasi sistem.
Reportase
Workshop Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram

PKMK-Yogyakarta. Konsultan dan peneliti Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM diundang sebagai narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh RSUD Kota Mataram pada acara yang digelar tanggal 27-28 April 2026 bertempat di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, NTB. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan mensosialisasikan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP) berdasarkan teori yang ada, serta membandingkannya dengan dokumen HDP yang sudah dibuat oleh RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran direksi, pejabat struktural, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Basarnas Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan BPBD Kota Mataram sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung kesiapsiagaan kesehatan daerah.
Hantavirus Kembali Disorot: Ancaman Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian global, menunjukkan bahwa penyakit zoonotik tetap menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat global. Reuters melaporkan kejadian terbaru yang memicu respons lintas negara melalui pelacakan kontak, isolasi, dan investigasi epidemiologi. Hantavirus ditularkan terutama melalui paparan ekskresi rodensia dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat dengan progresi cepat. Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa perubahan lingkungan, mobilitas manusia, dan interaksi dengan reservoir hewan meningkatkan potensi munculnya penyakit zoonotik seperti hantavirus. Situasi ini menegaskan pentingnya surveilans, deteksi dini, dan komunikasi risiko yang adaptif dalam menghadapi ancaman penyakit emerging.
Letusan Gunung di Halmahera: Saat Ancaman Vulkanik Kembali Menguji Kesiapsiagaan
Aktivitas vulkanik di Halmahera kembali menjadi perhatian setelah letusan Gunung Dukono memicu peningkatan kewaspadaan di kawasan sekitar. Sebagai negara yang berada di jalur Ring of Fire, Indonesia menghadapi risiko tinggi terhadap bencana geologi yang membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan dari masyarakat maupun otoritas. Laporan Reuters menyebutkan aktivitas erupsi masih berlangsung dengan zona bahaya yang tetap diberlakukan di sekitar kawah aktif. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa komunikasi risiko yang efektif, keterlibatan komunitas, dan kepatuhan terhadap sistem peringatan dini berperan besar dalam mengurangi dampak bencana vulkanik. Peristiwa ini menegaskan bahwa mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya keselamatan masyarakat.
Dibalik Bom Waktu: Saat Reaksi Kimia Kecil Berubah Menjadi Bencana Besar

Peristiwa ledakan besar di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa bahaya bahan kimia bukan sekadar teori, melainkan ancaman nyata yang dapat terjadi kapan saja. Di tengah pesatnya pembangunan industri, risiko penyimpanan dan pengelolaan bahan berbahaya yang tidak memadai semakin meningkat, terutama ketika berdekatan dengan pemukiman warga. Kondisi ini menciptakan “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana besar dengan dampak luas bagi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Minimnya perhatian terhadap aspek keselamatan sering kali kalah oleh kepentingan pertumbuhan ekonomi dan investasi industri. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memperkuat pengawasan, transparansi, serta edukasi terkait risiko bahan kimia. Upaya mitigasi yang terintegrasi menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.
Karhutla Mengintai: Lindungi Kesehatan Sejak Dini di Musim Kemarau

Memasuki musim kemarau 2026, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di sejumlah wilayah Indonesia, terutama pada daerah rawan kekeringan. Kondisi kering akibat variabilitas iklim dapat memperbesar potensi titik panas yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Paparan asap karhutla diketahui meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk kondisi penyakit kronis, khususnya pada anak-anak dan lansia. Upaya promotif dan preventif menjadi sangat penting, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, menjaga ventilasi rumah, serta memastikan kecukupan cairan tubuh. Masyarakat juga didorong untuk aktif memantau informasi kualitas udara dan segera mengakses layanan kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Kajian internasional menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran hutan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan populasi dan memerlukan intervensi berbasis komunitas serta kebijakan lintas sektor untuk mitigasi yang efektif. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak krisis kesehatan akibat karhutla sejak dini.
Reporatse Webinar Nasional: Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)

Webinar Nasional bertajuk “Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)” yang diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM menjadi salah satu upaya strategis dalam memperkuat kapasitas tenaga keperawatan di Indonesia. Kegiatan ini mengangkat pentingnya peran perawat sebagai garda terdepan dalam sistem pelayanan kegawatdaruratan yang cepat, tepat, dan terintegrasi. Melalui forum ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai konsep, alur, serta implementasi SPGDT dalam praktik pelayanan kesehatan. Selain itu, webinar ini juga menyoroti kebutuhan transformasi peran perawat yang tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga pada koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi interprofesional. Dengan diikuti oleh 90 peserta dari berbagai daerah, kegiatan ini mencerminkan tingginya perhatian terhadap penguatan sistem kegawatdaruratan nasional. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat mendorong peningkatan profesionalisme perawat serta mendukung implementasi SPGDT yang lebih efektif dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Reformasi Subklaster Kesehatan: Kunci Efektivitas Respons Bencana di Indonesia
Sistem klaster kesehatan terbukti menjadi tulang punggung dalam meningkatkan koordinasi respons bencana di Indonesia, termasuk melalui peran subklaster yang lebih teknis dan spesifik. Pengalaman dari berbagai kejadian besar seperti gempa Lombok, tsunami Palu, hingga gempa Cianjur menunjukkan bahwa subklaster mampu menciptakan respons yang lebih terarah, terstruktur, dan berbasis komando yang jelas. Namun, tantangan berupa kompleksitas struktur dan ketidaksesuaian dengan sistem organisasi daerah masih menjadi hambatan dalam implementasinya. Bukti menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada konsep subklaster, melainkan pada desain implementasi yang belum cukup adaptif terhadap konteks lokal. Oleh karena itu, pendekatan reformasi adaptif dengan penyederhanaan dan integrasi sistem menjadi langkah strategis yang direkomendasikan.
“Godzilla” El Niño Mengintai: Saatnya Indonesia Perkuat Kesiapsiagaan Kesehatan dan Pencegahan Dini

Fenomena El Niño ekstrem yang dijuluki “Godzilla” diprediksi mulai berdampak di Indonesia pada 2026, dengan potensi kemarau panjang dan peningkatan suhu signifikan di berbagai wilayah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko krisis kesehatan seperti dehidrasi, heat stroke, hingga gangguan penyakit kronis pada kelompok rentan. Upaya promotif dan preventif menjadi langkah kunci, mulai dari memastikan kecukupan cairan, menghindari paparan panas ekstrem, hingga memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan primer di masyarakat. Selain itu, edukasi publik terkait perubahan iklim dan risiko kesehatan perlu ditingkatkan agar masyarakat mampu beradaptasi secara mandiri. Kajian internasional menunjukkan bahwa sistem kesehatan yang tangguh dan berbasis kesiapsiagaan komunitas mampu secara signifikan menurunkan dampak kesehatan akibat bencana iklim ekstrem.
Pasca Lebaran Tetap Waspada: Cegah Penyakit Pascabencana dengan Langkah Sederhana
Pasca Idul Fitri, meningkatnya aktivitas masyarakat dan kondisi lingkungan pascabencana dapat memicu munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan. Oleh karena itu, langkah promotif seperti menjaga kebersihan tempat tinggal, memastikan kualitas air minum, serta pengelolaan sampah menjadi kunci utama dalam mencegah penularan penyakit. Masyarakat juga diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dan menjaga sanitasi keluarga. Secara preventif, pemantauan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, perlu ditingkatkan untuk mendeteksi dini potensi gangguan kesehatan. Studi internasional menunjukkan bahwa intervensi berbasis sanitasi, air bersih, dan edukasi kesehatan mampu menurunkan risiko penyakit pascabencana secara signifikan. Kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan publik pada fase pemulihan ini. Momentum pasca Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kembali komitmen hidup sehat dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.
Lebaran Sehat di Tengah Risiko Bencana: Saatnya Perkuat Kesiapsiagaan Diri dan Keluarga

Menjelang Idul Fitri, mobilitas masyarakat yang meningkat beriringan dengan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir menuntut kesiapsiagaan kesehatan yang lebih optimal. Upaya promotif seperti menjaga kebersihan lingkungan, memastikan akses air bersih, serta membawa perlengkapan kesehatan saat mudik menjadi langkah sederhana namun krusial. Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengenali risiko penyakit pascabanjir seperti diare, ISPA, dan infeksi kulit, serta segera mengakses layanan kesehatan jika muncul gejala. Pendekatan preventif juga dapat dilakukan dengan memantau informasi cuaca resmi, menghindari area rawan bencana, serta menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan dan istirahat yang cukup selama perjalanan. Kajian internasional menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas dan peningkatan literasi kesehatan secara signifikan mampu menurunkan risiko dampak kesehatan saat bencana.
Webinar Nasional: Transformasi Peran Perawat dalam SPGDT dalam Memperkuat Respons Kegawatdaruratan Kesehatan
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) merupakan komponen penting dalam menjamin respons cepat dan terkoordinasi terhadap kondisi kegawatdaruratan kesehatan. Dalam sistem ini, perawat memiliki peran strategis tidak hanya dalam pelayanan klinis, tetapi juga dalam koordinasi, komunikasi, dan penguatan kesiapsiagaan layanan darurat. Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)”. Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang akan membahas tantangan dan peluang transformasi peran perawat dalam sistem kegawatdaruratan kesehatan di Indonesia. Webinar ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi bagi tenaga kesehatan dalam memperkuat kualitas layanan darurat yang responsif dan terintegrasi. Melalui forum ini, peserta juga diajak memahami pentingnya kolaborasi lintas profesi dalam mendukung sistem kesehatan yang tangguh.
Sharing Session: Exploring Research Topics in Disaster Health Management
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) mengundang Anda untuk mengikuti webinar Sharing Session: Exploring Research Topics in Disaster Health Management. Kegiatan ini akan membahas peluang dan pengembangan topik riset di bidang manajemen kesehatan bencana yang semakin relevan di tengah meningkatnya risiko bencana. Webinar akan diselenggarakan pada Kamis, 5 Maret 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini terbuka untuk mahasiswa, peneliti, akademisi, dan praktisi yang tertarik memperdalam kajian kesehatan dalam konteks kebencanaan. Peserta akan memperoleh wawasan langsung dari narasumber berpengalaman mengenai arah riset, tantangan, serta peluang kolaborasi di bidang disaster health management. Webinar ini gratis dengan syarat mengikuti akun Instagram @dhm_ugm dan @madelariani serta menyertakan bukti pada formulir pendaftaran. Segera daftarkan diri Anda melalui tautan berikut:
Krisis Kesehatan di Tengah Konflik: Pembelajaran Kesiapsiagaan Bencana Kesehatan Global
Perkembangan situasi krisis kemanusiaan di Iran pada tahun 2026 menunjukkan bahwa konflik sosial dan politik dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat yang kompleks. Laporan internasional menggambarkan meningkatnya korban luka, tekanan terhadap tenaga kesehatan, serta keterbatasan akses layanan medis bagi masyarakat terdampak konflik. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana sistem kesehatan dapat mengalami beban berlapis, mulai dari lonjakan pasien darurat hingga gangguan distribusi obat dan layanan kesehatan esensial. Situasi tersebut menjadi pengingat penting bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, bahwa kesiapsiagaan bencana kesehatan harus mencakup skenario konflik, krisis sosial, dan gangguan layanan kesehatan. Pendekatan berbasis sistem kesehatan tangguh, perlindungan tenaga medis, serta koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan pada situasi krisis. Momentum ini sekaligus memperkuat urgensi penguatan kesiapsiagaan masyarakat dan layanan kesehatan menjelang periode kerentanan seperti mobilitas tinggi maupun kondisi darurat kemanusiaan global.
REPORTASE SEMINAR NASIONAL “ANNUAL SCIENTIFIC MEETING 2026: KEBUTUHAN PENYINTAS GERIATRI DALAM SITUASI BENCANA: TANTANGAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN BERBASIS EVIDENCE”

Sabtu, 7 Februari 2026 | PKMK-Yogyakarta. Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tinggi yang berdampak signifikan terhadap kelompok rentan, khususnya populasi geriatri. Lansia memiliki keterbatasan fisiologis, komorbid, serta ketergantungan terhadap pelayanan kesehatan, sehingga lebih berisiko mengalami dampak kesehatan serius dalam situasi bencana. Kondisi ini menuntut adanya perhatian khusus dalam sistem penanggulangan bencana yang responsif terhadap kebutuhan geriatri.

