logo2

ugm-logo

Blog

BNPB Siapkan Sistem Peringatan Dini Banjir Lahar Dingin Gunung Ibu

TERNATE - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempersiapkan pembangunan sistem peringatan dini banjir lahar dingin kawasan Gunungapi Ibu. Pembangunan sistem peringatan dini banjir lahar dingin Gunungapi Ibu merupakan arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Erupsi Gunungapi Ibu pada 31 Mei 2024 yang lalu. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D menyatakan, rencana pemasangan sistem peringatan dini banjir lahar dingin di Gunungapi Ibu merupakan tindak lanjut dari hasil pemetaan menggunakan drone serta hasil kajian bersama Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang telah dilaksanakan sebelumnya. 

“Langkah ini diambil atas dasar pengalaman kejadian  _galodo_ yang melanda wilayah Sumatra Barat di awal tahun 2024,” ujarnya.

Hingga saat ini, lanjut Abdul Muhari, siklus erupsi besar pada Gunungapi Ibu belum dikenali. Meskipun demikian, gunung dengan ketinggian 1.325 mdpl ini mengalami erupsi terus menerus dengan intesitas yang relatif kecil. 

“Hal ini menyebabkan kawah gunung telah terisi penuh material erupsi yang mudah runtuh. Material vulkanik ini juga berpotensi menjadi lahar jika terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi,” ungkapnya.

Menurut Abdul, berdasarkan analisis pemodelan lahar Gunungapi Ibu oleh PVMBG, dengan asumsi volume material 300 ribu hingga 500 ribu meter kubik, hasilnya memperlihatkan bahwa aliran lahar tidak hanya terjadi di sepanjang aliran sungai.

“Namun di beberapa sungai, aliran laharnya melimpas hingga ke area perkebunan yang memiliki morfologi seperti lembah sungai. Di beberapa lokasi, aliran lahar juga melanda lokasi-lokasi yang telah ada bangunan,” tuturnya.

Dikatakan, bukaan kawah pada Gunungapi Ibu teramati berada di sisi sebelah barat laut. Hal tersebut memungkinkan potensi luncuran lahar dingin ke arah utara-barat laut antara lain Desa Borona, Todoke, Togorebasungi, Tuguis, Soasangaji, Tukuoku, Duono, hingga Togowo di Kecamatan Tabaru, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.   

Abdul menjelaskan, pada tanggal 9 Juli 2024, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat menerima laporan warga bahwa telah terjadi limpasan air Sungai Duono yang berhulu di Gunungapi Ibu. 

“Sungai Duono merupakan kali mati (sungai ephemeral) yang dangkal dan tidak lebar di sisi hilir. Kejadian ini juga dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Halmahera Barat selama dua hari berturut-turut,” kayanya.

Ditambahkan, aliran air yang cukup deras tersebut membawa material pasir vulkanik hingga meluap ke jalan raya. 

Banjir Bandang hingga Longsor Landa Vietnam Utara, 7 Orang Tewas

Jakarta - Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat terjadi di Vietnam Utara. Bencana ini menewaskan tujuh orang. Dilansir AFP, Jumat (26/7/2024), lima orang tewas di Son La. Lalu dua korban tewas lainnya di Dien Bien setelah hujan deras. Petugas penyelamat juga mencari 10 orang lainnya yang dilaporkan hilang di provinsi-provinsi pegunungan, pejabat menambahkan.

Menurut surat kabar Tuoi Tre, banjir bandang pada Kamis (25/7) dini hari menyapu 10 rumah dan merusak delapan rumah di komune Muong Pon, Dien Bien. Hujan deras telah turun di Vietnam Utara sejak Selasa (23/7), dan banyak daerah termasuk pinggiran ibu kota Hanoi dipenuhi air banjir berlumpur.

Antara Juni dan November, Vietnam sering dilanda hujan lebat, yang memicu banjir dan tanah longsor. Namun, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem secara global menjadi lebih intens dan sering terjadi karena perubahan iklim.

Pada pertengahan Juli, tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat menewaskan 11 orang yang bepergian dengan sebuah mobil van di provinsi Ha Giang utara.

Tahun lalu, bencana alam menyebabkan 169 orang meninggal dunia atau hilang di negara Asia Tenggara tersebut.

BNPB mulai survei pemasangan EWS banjir lahar dingin Gunung Ibu

Jakarta (ANTARA) - Tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menyurvei pemasangan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir lahar dingin ke beberapa permukiman penduduk dan wilayah sungai di Halmahera Barat, Maluku Utara yang berhulu dari Gunung Ibu.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta Kamis, mengatakan bahwa survei pertama ini pada Rabu (24/7) dimulai dari Desa Togoreba Sungi, Kecamatan Tabaru.

Desa tersebut merupakan desa terdekat dari kawah Gunung Ibu yang ini merupakan wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) I. Jaraknya sekitar lima kilometer dari bibir kawah pada sisi sebelah barat laut Gunung Api itu.

Selanjutnya, tim BNPB didampingi personel Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyisir Desa Borona, Todoke, Tuguis, Soasangaji, Tukuoku, Duono, hingga Togowo di Kecamatan Tabaru yang juga berpotensi menerima luncuran lahar dingin Gunung Ibu.

Rencananya, sensor EWS akan dipasang sejauh tiga kilometer dari permukiman warga di desa tersebut dengan asumsi kecepatan aliran lahar dingin 6 menit per 1 kilometer.

“Jika lokasi sensor berjarak tiga kilometer untuk menginformasikan bahaya lahar dingin, maka warga memiliki waktu 18 menit untuk evakuasi,” katanya.

Abdul menyebutkan, pemasangan EWS tersebut tidak lepas dari aktivitas Gunung Ibu yang masih terus mengalami erupsi skala kecil sejak Februari 2024.

PVMBG melaporkan erupsi terbaru terjadi pada Kamis malam pukul 23.57 WIT. Gunung api berketinggian 1.325 mdpl itu menghembuskan abu setinggi 300 meter dari puncak dengan amplitudo maksimum 28 mm dan berdurasi lebih kurang 51 detik.

Aktivitas ini menyebabkan kawah gunung diduga telah terisi penuh material erupsi yang mudah runtuh, dan berpotensi membawa bahaya bagi masyarakat jika terbawa dari hulu oleh hujan berintensitas deras menjadi banjir lahar dingin, seperti yang terjadi pada Gunung Marapi di Sumatera Barat pada Mei 2024.

Potensi bahaya tersebut telah terdeteksi di Gunung Ibu karena menurut dia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat menerima laporan warga bahwa pada tanggal 9 Juli 2024 telah terjadi limpasan air Sungai Duono yang berhulu di Gunung Ibu dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Halmahera Barat selama dua hari berturut-turut.

“Dari survei didapati aliran air yang cukup deras tersebut membawa material pasir vulkanik hingga meluap ke jalan raya,” katanya.

Tim mengasumsikan volume material 300 ribu hingga 500 ribu meter kubik tidak hanya terjadi di sepanjang aliran sungai, namun melimpas hingga ke area perkebunan yang memiliki morfologi seperti lembah sungai dan melanda lokasi-lokasi yang telah ada bangunan.

Atas kondisi tersebut, katanya, BNPB mengimbau pemerintah daerah setempat juga dapat segera mengupayakan pengerukan atau pembersihan aliran di Sungai Duono dan beberapa sungai mati lainnya sebagai langkah mitigasi banjir lahar dingin selagi hasil survei pemasangan EWS dirampungkan.

92 Titik Banjir Hantui Warga Kabupaten Tangerang

KBRN, Tangerang: Terdapat 92 titik wilayah terdampak banjir yang selalu menghantui warga Kabupaten Tangerang. Data tersebut dibeberkan Penjabat Bupati Tangerang, Andi Ony Prihartono berdasarkan catatan BPBD setempat.

"Tercatat ada 92 titik diwilayah Kabupaten Tangerang terdampak banjir. Ini data BPBD Kabupaten Tangerang di beberapa kecamatan seperti meliputi Balaraja, Tigaraksa, Cisoka, Solear, Jayanti, Cikupa dan Curug," ujar Andi Ony, Kamis (25/7/2024).

Andi Ony mengaku Kabupaten Tangerang luas wilayahnya mencapai 1.001,86 kilometer merupakan wilayah heterogen. Kemudian juga memiliki garis pantai dengan permukaan lahan yang relatif datar dengan ketinggan 10 sampai dengan 30 Mdpl.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 3.309.365 jiwa, sambung Andi Ony, akan terus bertambah. Tentunya sangat memberikan pengaruh terhadap berkurangnya area resapan air dan memiliki resiko tinggi terhadap bencana banjir.

Oleh karena itu, Perumahan Sudirman, Perumahan Triraksa Village dan Perumahan Puri yang berada yang berada disekitar kawasan tandon. Ini wilayah prioritas penanganan banjir yang telah diprogramkan, karena secara geografis berada pada dataran rendah atau daerah tangkapan air.

Kepala Dinas Bina Marga SDA Kabupaten Tangerang, Iwan Firmansyah mengamini ada sekitar 92 titik lokasi rawan banjir. Salah satunya di Perumahan Sudirman dan Perumahan Puri Tigaraksa.

“Mudah-mudahan dengan adanya embung diwilayah Kabupaten Tangerang khususnya di Tigaraksa dapat mengurangi genangan air. Terutama saat curah hujan tinggi dan ini juga merupakan wilayah konservasi sumber daya air dan itu juga bisa menjadi wisata,” ujarnya.

112 Kota Banjir Rob, Pekalongan hingga Demak Lebih Buruk dari Jakarta

Jakarta, CNN Indonesia -- Dosen dan Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menyebut sebanyak 112 kabupaten/kota di Indonesia mengalami banjir rob akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut.

Wilayah pesisir yang tercatat mengalami banjir rob serius yakni pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura), pesisir Pantai Timur Sumatera dan Pesisir Kalimantan.

"Menurut hasil penelitian ditemukan setidaknya terdapat 112 kabupaten kota pesisir di Indonesia yang mengalami banjir rob. Pekalongan, Semarang, Demak itu sebenarnya lebih buruk dari Jakarta," kata Heri dalam acara 2024 LASSI UNESCO Scientific Conference di Grand Mercure Kemayoran Jakarta, Rabu (24/7).

Ia menyebut Jakarta sempat menduduki posisi nomor satu kota dengan bencana akibat penurunan tanah. Namun, kini Jakarta justru menjadi prototipe manajemen bencana terkait penurunan tanah bagi kota-kota lainnya.

"Lambat laun banjir rob kian meluas dikarenakan masih terus terjadi land subsidence dan sea level rise atau kenaikan muka air laut, bahkan di beberapa tempat banjir menjadi permanen, yang artinya daratan telah hilang menjadi lautan," ujarnya.

Heri mengatakan tidak sedikit kerugian materi yang harus dikeluarkan pemerintah akibat bencana banjir rob tersebut.

"Hitungan kasaran konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah sudah menyentuh angka Rp1000 triliun," ungkap Heri.

Oleh karena itu, kata dia, banjir rob akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut harus disikapi dengan serius. Selain itu, juga perlu mengurangi risiko bencana melalui upaya manajemen kebencanaan.

Ia menyebut langkah awal dalam rangka pengurangan risiko yang dilakukan oleh pemerintah yakni pembuatan tanggul di pesisir pantai, meninggikan infrastruktur pesisir hingga melakukan evakuasi penduduk pesisir di beberapa wilayah tertentu.

"Untuk langkah-langkah yang lebih ultimate dan best practice ke depannya, harus dimulai dari pendalaman masalah, pemantauan dan pemetaan bahaya, kemudian dilanjutkan oleh upaya prevensi, mitigasi dan atau adaptasi yang lebih terukur," ucapnya.