logo2

ugm-logo

Blog

Dana Desa Bisa Digunakan untuk Buat Posko Khusus Siaga Bencana

Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Marwan Jafar meminta kepala desa, terutama di daerah rawan bencana untuk selalu dalam keadaan siaga. Musim hujan dengan curah deras disertai angin kencang yang menerpa seluruh pelosok tanah air, dianggap Marwan potensial menimbulkan berbagai ancaman bencana alam.

"Jadi kami instruksikan kepada seluruh desa yang rawan bencana, agar sedini mungkin siaga bencana, menyiapkan action plan untuk menghadapi bencana dan dampaknya" kata Marwan, dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (20/1/2015) malam.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat 315 daerah dengan jumlah penduduk 61 juta jiwa masuk kategori rawan banjir dan 274 daerah dengan jumlah penduduk 124 juta jiwa yang rawan musibah longsor. Ancaman banjir dan longsor yang melanda berbagai daerah ini menjadi perhatian serius

Banyak sekali desa-desa yang mengalami bencana longsor atau banjir. Tidak terkira kerugian yang diderita desa akibat musibah tersebut. Mulai dari korban jiwa hingga hilang atau rusaknya bangunan dan kekayaan milik desa dan warganya. Belum lagi lumpuhnya kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi desa.

Belajar dari kejadian sebelumnya, longsor atau banjir bisa datang secara tiba-tiba mengakibatkan perlunya semacam posko desa siaga bencana. Posko bertugas memberikan penyuluhan kepada warga desa agar siap menghadapi bencana, juga mempersiapkan seluruh perlengkapan dan peralatan yang diperlukan baik sebelum, saat terjadinya bencana maupun paska bencana.

Semua hal tersebut harus sudah disiapkan sedini mungkin, supaya desa rawan bencana benar-benar siap menghadapi situasi apapun yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba atau di luar apa yang sudah diprediksi.

"Pembiayaan posko dan berbagai kegiatannya dapat dimusyawarahkan bersama warga desa untuk dibebankan pada dana desa. Karena hal tersebut sifatnya sangat urgen bagi keselamatan desa dan warganya" ujar Marwan.

Lebih lanjut Marwan mengingatkan agar aparatur desa rawan bencana sejak dini mulai melakukan upaya perlindungan dan penyelamatan aset-aset desa dari dampak bencana. Seperti dokumen, kendaraan bermotor, bangunan, dan lain-lain.

"Supaya aset-aset tersebut tidak rusak dan tetap dapat digunakan, sehingga desa tidak perlu mengeluarkan banyak dana lagi untuk memperbaiki atau membeli lagi aset-aset tersebut," ucap politisi PKB itu

Dengan demikian, lanjut Marwan, dana desa dapat dialokasikan untuk membantu warga desa yang terkena dampak bencana, melalui program pemberdayaan masyarakat desa untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi desa paska bencana.

sumber: KOMPAS.com

Dinsos Karawang Persiapkan Kebutuhan Antisipasi Bencana

KARAWANG - Dinas Sosial Kabupaten Karawang mengaku telah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di daerah lumbung padi tersebut. Di antaranya mempersiapkan logistik para korban bencana.

"Segala sesuatunya sudah kami siapkan, termasuk logistik seperti beras dan mie instan," kata Kepala Dinas Sosial Karawang, Rokhuyun, di kantornya, Senin (19/1/2015).

Dikatakan, saat ini telah tersedia 200 ton beras milik Pemerintah Kabupaten Karawang yang siap disalurkan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Selain logistik, pihak Dinsos juga telah membina dan melatih warga agar tanggap bencana.

"Di daerah bencana, kami sudah menyiaplan kampung siaga, ada 10 titik. Warganya sudah dilatih untuk tanggap bencana," tutur Rokhuyun.

Disebutkan juga, selain menyiapkan logistik, pihak Dinsos telah mempersiapkan perahu karet 15 unit untuk mengevakuasi korban bencana banjir. Sementara Taruna Tanggap Bencana (Tagana) bentukan Dinsos yang aktif ada 45 anggota.

sumber: (PRLM)

Masyarakat Jepang Terlatih Antisipasi Bencana Alam

TOKYO - Masyarakat Indonesia pasrah terhadap bencana alam. Lokasi bencana alam tsunami di Aceh telah dihuni kembali sama seperti sebelum musibah tsunami. Lain dengan warga Jepang yang mengantisipasi dengan menjauhkan daerah bencana tsunami walaupun kembali ke daerahnya semula.

"Saya baru saja ke Aceh dan di tempat yang sama kembali pula masyarakat yang sama tinggal di tempat yang sama. Mereka sangat pasrah," papar Ahmad Arif, wartawan Kompas yang diundang Foreign Press Center Japan terkait bencana alam agar dapat mempelajari penanganan bencana di Jepang.

Dari kunjungannya ke Aceh umumnya masyarakat sangat pasrah.

"Kalau meninggal sih di mana pun kita juga meninggal, tidak di laut tidak di gunung, di mana pun meninggal. Itu yang saya dengar dari mereka yang kembali ke Aceh," tambah Arif.

Di Jepang khususnya di Onagawa daerah bencana Tsunami, mereka meninggikan tanah hunian 7 meter ke atas dan itu pun hanya untuk daerah komersial. Sedangkan untuk hunian lebih ke atas lagi di daerah bukit.

"Sehingga kalau datang tsunami lagi dapat terantisipasi dengan lebih baik," katanya.

Selain itu kalau orang Indonesia mudah terlupa akan bencana tersebut. Tetapi kalau orang Jepang sulit melupakan bencana tersebut sampai sekarang, bahkan terus masih mempertanyakan mengapa terjadi peristiwa gempa.

"Sedangkan orang Indonesia menganggap sebagai takdir, selesai sehingga mudah terlupakan. Itu mungkin juga perbedaan dengan Jepang," lanjutnya.

Arif akan kembali ke Indonesia dari Osaka tanggal 18 Januari mendatang setelah mengunjungi bekas daerah bencana di Kobe saat bencana 29 Januari 1995 dengan guncangan 6,8 skala Richter.

Saat ini Arif mengakui sedang membuat buku mengenai pengalamannya terkait tsunami.

"Mudah-mudahan tiga buan mendatang bisa selesai buku itu," harapnya.

sumber: TRIBUNNEWS.COM

Pemkot Manado tetapkan status tanggap darurat bencana

Manado  - Pemerintah Kota Manado, Sulawesi Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari akibat banjir dan tanah longsor.

"Status tersebut ditetapkan selama tujuh hari mulai Minggu (11 Januari - red) sampai 17 Januari 2015 nanti," kata Wali Kota Manado Vicky Lumentut, di Manado, Minggu.

Vicky mengatakan, untuk menetapkan status tanggap darurat bencana memang tidak sembarangan, karena itu pemerintah melakukan pemantauan di seluruh wilayah bencana untuk menentukan apakah yang terjadi dapat dikategorikan dalam tanggap darurat bencana atau tidak.

"Dan berdasarkan hal tersebut, maka kami menetapkan tanggap darurat bencana serta melakukan semua prosedur yang diwajibkan, sehingga warga yang mengungsi akibat bencana tetap mendapatkan pelayanan," katanya.

Untuk tanggap darurat bencana tersebut, kata Vicky, pemerintah melalui Dinas Sosial sudah mendirikan dapur umum di wilayah-wilayah yang terkena bencana seperti Paal Dua, Ternate Tanjung, Wanea, Komo Luar, Dendangan Luar dan Taas yang terkena bencana.

Ia mengatakan, sejak Minggu malam, semua pihak terkait, baik Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Sosial, Camat hingga lurah dan kepala lingkungan sudah turun melakukan pendataan semua yang mengungsi.

Dikatakannya, sejak siang sampai sore, warga rata-rata mulai kembali ke rumah untuk membersihkan tumpukan sampah dan lumpur yang dibawa banjir saat air naik sampai ketinggian 1--1,5 meter.

sumber: antara

Aktivitas Vulkanik Gunung Berapi Indonesia Turun Naik

Sulsel - Dalam sebulan terakhir, kondisi aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi di Indonesia turun naik secara bergantian.

Satu gunung mengalami peningkatan status dari waspada ke siaga, yakni Gunung Soputan yang berada di Sulawesi Tenggara. Soputan mengalami peningkatan status pada tanggal 26 Desember 2014.

Satu gunung mengalami penurunan statu dari siaga ke waspada, yaitu Gunung Slamet. Gunung tertinggi di Jawa Tengah itu mengalami penurun status terhitung sejak tanggal 5 Januari 2015.

Sementara satu gunung mengalami naik turun status dari normal ke waspada dan kembali normal, yakni Gunung Tangkuban Perahu di Kabupaten Bandung.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sempat menaikan status gunung wisata itu dari normal ke waspada pada tanggal 31 Desember 2014. Namun, sembilan hari berselang, tepatnya tanggal 8 Januari 2015, PVMBG kembali menurunkan statusnya menjadi normal.

Berikut 21 gunung berapi di Indonesia yang berstatus di atas normal:

Siaga

Gunung Soputan
Gunung Gamalama
Gunung Sinabung
Gunung Lokon
Gunung Karangetang

Waspada

Gunung Slamet
Gunung Raung
Gunung Soputan
Gunung Sangeangapi
Gunung Rokatenda
Gunung Ibu
Gunung Lewotobi Perempuan
Gunung Gamkonora
Gunung Papandayan
Gunung Bromo
Gunung Semeru
Gunung Talang
Gunung Anak Krakatau
Gunung Marapi
Gunung Dukono
Gunung Kerinci

sumber: VIVAnews