logo2

ugm-logo

Blog

2.335 KK di Bantul Berada di Zona Merah Bencana

2.335 KK di Bantul Berada di Zona Merah Bencana

Bantul - Sebanyak 2.335 KK di Bantul, DIY, berada di zona merah bencana rawan longsor. Kondisi tersebut riskan jika cuaca ekstrem seperti hujan deras mengguyur. Upaya merelokasi warga terkendala oleh anggaran yang terbatas.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto, salah satu cara untuk meminimalisasi munculnya korban yakni dengan merelokasi sejumlah rumah warga.

Upaya relokasi ini terus diupayakan BPBD Bantul. Namun karena keterbatasan anggaran, hanya beberapa proses relokasi yang bias dibiayai pemerintah.

"Tahun ini kami merencanakan relokasi. Sebenarnya warga yang mengusulkan relokasi ada 11 rumah, yang baru terakomodir baru 5," ujarnya, Rabu (22/3/2017).

Untuk 6 rumah yang sudah mengajukan permohonan ke BPBD Bantul, Dwi menyebut pihaknya bakal mengupayakan dana di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P). Jika disetujui bukan tidak mungkin bila tahun ini lebih banyak rumah direlokasi pemerintah.

Meski begitu Dwi berharap masyarakat tidak hanya bertumpu ke pemerintah. Jika memang warga mampu, pihaknya menyarankan warga melakukan relokasi mandiri, untuk menghindari potensi bencana.

"Harapan kami ada kesadaran masyarakat untuk mau pindah ke tempat aman. Relokasi kan bisa dilakukan mandiri," lanjutnya.

Hujan, Sebagian Daerah Yogyakarta Banjir

Hujan, Jalan Pramuka Banjir

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akibat hujan deras yang mengguyur beberapa jam yang lalu, Jalan Pramuka-Jalan Gambiran-jalan Tegalgendu-Jalan imogiri timur digenangi air setinggi betis orang dewasa.

Para pengendara yang melintas diharap berhati-hati karena air yang menggenang lumayan cukup deras.

Akibatnya, beberapa kendaraan mesti didorong warga sekitar untuk bisa melaju menerabas banjir.

Parahnya, kondisi ini dibarengi dengan matinya lampu lalu lintas semakin menambah keruwetan jalan karena para pengendara ingin menndahului pengendara lain.

Agus, salah satu warga yang membantu mengamankan lokasi mengatakan akibat hujan deras sore tadi ruas jalan pramuka dan sekitarnya dilanda banjir deras.

"Ini akibat luapan sungai kali mambu yang berada di pinggiran jalan, tiap hujan deras ya seperti ini, banjir" ucapnya Selasa (21/3/2017). (*)

Hujan Deras Akibatkan Longsor dan Banjir di Sleman

Tanah longsor menimpa rumah penduduk, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Hujan deras yang berlangsung kemarin sore (21/3) mengakibatkan berbagai macam kejadian bencana di Sleman. Diantaranya pohon tumbang akibat angin kencang, banjir, hingga longsor.

Kepala Bagian Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan mengatakan, hingga pagi ini setidaknya ada delapan titik kejadian bencana yang tercatat di posko BPBD. "Bencana yang kemarin akibat cuaca ekstrem. Hujan disertai angin dan petir berlangsung sekitar pukul 16.00," katanya, Rabu (22/3). Meski sempat berhenti beberapa saat, hujan kemudian turun kembali hingga hampir larut malam.

Adapun kejadian angin kencang terjadi di empat titik, meliputi tiga titik di Mlati dan satu titik di Gamping. Sementara banjir terjadi di Perumahan Amarta, Jombor. Genangan air setinggi betis dan lutut orang dewasa sempat memblokade jalan perumahan.

Sementara longsor terjadi di tiga titik. "Dua titik di Kecamatan Mlati dan satu titik di Kecamatan Depok," kata Makwan. Adapun bagian longsor merupakan tebing di pinggir sungai. Beruntungnya seluruh peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Selain di titik-titik tersebut, angin kencang yang mengakibatkan pohon rubuh juga terjadi di komplek kampus UGM. Sementara genangan air hingga sebetis orang dewasa terjadi di beberapa jalan raya seperti Jalan Kaliurang Perempatan UGM, Monjali, dan Jombor.

Adapun di komplek kampus UGM, pohon tumbang menimpa satu unit mobil honda berwarna abu-abu hingga ringesek. "Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Informasinya hanya ada satu mobil yang terkena pohon tumbang," kata Kepala Humas UGM, Iva Aryani.

Adapun mobil rusak tersebut merupakan kendaraan milik dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Syaiful Rochyanto. Selain itu, menurut Iva, hujan petir juga menyebabkan kerusakan di Fakultas Geografi UGM. "Satu kaca pecah di Fakultas Geografi karena getaran petir," katanya.

Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap cuaca ekstream yang diprediksi akan terus berlangsung hingga awal April. Namun demikian, hal ini merupakan fenomena yang wajar di masa-masa pancaroba.

Denpasar Diguncang Gempa 6,4 SR, Warga Berlarian ke Luar Rumah

Denpasar Diguncang Gempa 6,4 SR, Warga Berlarian ke Luar Rumah

Denpasar - Denpasar, Bali, diguncang gempa cukup kuat dengan kekuatan 6,4 skala richter (SR). Gempa ini sempat membuat sejumlah warga di Denpasar berlarian ke luar menuju tempat terbuka.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (22/3/2017), gempa terjadi pada pukul 07.10 WITa. Pusat gempa berada di 23 Km arah tenggara Denpasar, atau 8,88 lintang selatan dengan 115,24 bujur timur.

Gempa dengan kedalaman 117 Km ini disebut tidak berpotensi tsunami. Walau demikian, kekuatan guncangannya menyebabkan tak sedikit masyarakat di Pulau Bali sempat panik.

Mereka berlarian ke ruang terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Astaga kencang sekali gempanya sampai ini di Sanur berlarian keluar rumah," ujar salah satu warga Denpasar bernama Astawa.

Kepanikan warga hanya diwarnai dengan lari ke tempat terbuka. Walau demikian, belum ada laporan kerusakan bangunan.

"Sempat terasa kuat, tapi kami hanya berlari keluar pintu rumah saja. Tidak lama, gempanya hilang dan kami kembali beraktivitas seperti biasa," kata warga Kuta, Heriawan, terpisah.
(vid/rna)

KBB Akan Menyiapkan Upaya Tanggap Darurat Bencana Alam Tingkat RW

NGAMPRAH, (PR).- Pemerintah Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat akan menyiapkan upaya tanggap darurat bencana alam di tingkat RW. Hal ini dibutuhkan lantaran wilayah Cililin termasuk daerah rawan bencana.

Sekretaris Camat Cililin Deni Kurniawan mengungkapkan, pihaknya bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk memberikan pemahaman soal mitigasi bencana kepada masyarakat di tingkat RW. Dengan demikian, diharapkan agar warga bisa melakukan langkah-langkah yang tepat ketika terjadi bencana alam.

"Ini adalah upaya untuk menyiapkan masyarakat menghadapi bencana alam. Sebab tanpa pemahaman mitigasi bencana, warga bisa saja panik dan tidak tahu harus berbuat apa," ujar Deni, Senin 20 Maret 2017.

Dia menuturkan, keselamatan masyarakat adalah hal prioritas. Menyiapkan warga secara mandiri untuk menghadapi bencana adalah upaya penting untuk melakukan pertolongan pertama ketika terjadi bencana sebelum bantuan datang.

Pemahaman tanggap darurat yang perlu terus disosialisasikan, menurut dia, di antaranya mengidentifikasi potensi bencana alam, menyiapkan jalur evakuasi, dan mengelola bantuan agar terdistribusikan secara merata. "Mereka harus tahu zona bahaya di mana saja agar mengetahui hal-hal yang harus dilakukan ketika bencana datang," katanya.

Pasca longsor di Kampung Jati Radio, Desa/Kecamatan Cililin pada Jumat 10 Maret 2017 lalu, lanjut dia, bantuan pun masih mengalir. Saat bantuan terus berdatangan itu, pihaknya juga terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai mitigasi bencana.

Rencana pembentukan RW tanggap bencana itu selaras dengan imbauan Komandan Kodim 0609 Kabupaten Bandung Andre Wira Kurniawan. Menurut dia, masyarakat pun harus punya prosedur tetap untuk mengatasi bencana.

"Misalnya, dengan membuat jalur evakuasi, memberikan peringatan dini melalui toa masjid, dan menentukan titik berkumpul untuk evakuasi," katanya di Cimahi, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, tokoh masyarakat atau pemerintah desa bisa memberikan imbauan agar warga meninggalkan rumah dan berkumpul di kantor desa atau tempat yang lebih aman untuk meminimalisasi dampak bencana alam. Ia pun menyiagakan sejumlah personelnya untuk melakukan mitigasi bencana.

"Kami terus berkoodinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam. Hal ini seiring dengan potensi terjadinya bencana alam yang dipicu curah hujan tinggi saat ini," ujarnya.***