logo2

ugm-logo

Letusan Freatik Buktikan Merapi Telah Berubah, Apa Dampak Negatifnya?

Visual kawah merapi saat kejadian erupsi freatik pagi ini pukul 09.38 WIB dengan tinggi kolom letusan 1200 m arah condong ke barat. Status NORMAL.

KOMPAS.com - Dalam dua minggu belakangan, gunung Merapi sangat aktif. Hari Rabu (25/6/2018) hingga pukul 14.16 WIB saja, Merapi sudah mengalami dua letusan freatik.

Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), letusan pertama terjadi pukul 3.31 WIB selama 4 menit dengan ketinggian kolom 2.000 meter ke arah barat daya.

Letusan kedua terjadi pada 13.49 WIB dengan durasi dua menit, namun ketinggian kolom abu tidak teramati dari Pos PGM Babadan.

"Status Merapi masih pada tingkat waspada (Level II). Penduduk yang tinggal dan beraktivitas di luar radius 3 KM dapat terdampak abu letusan, namun tidak membahayakan jiwa." kata Hanik Humaida, Kepala BPPTK.

"Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diharap menggunakan masker dan  meningkatkan kesiapsiagaan," imbuhnya.

Ahli vulkanologi, Surono, mengungkapkan bahwa rangkaian letusan freatik Merapi kali ini bisa dimaknai sebagai dampak perubahan karakteristiknya.

Sebelumnya, Merapi selalu meletus dengan periode 2-4 tahun sekali. Setiap letusan selalu disertai dengan pembentukan kubah lava.

Namun sejak Oktober 2010, Merapi berubah. Siostemnya jadi terbuka sehingga mempengaruhi karakteristik letusannya.

Surono mengatakan, perubahan karakter itu punya dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, Merapi tak langsung menghasilkan awan panas saat pertama kali meletus.

Sementara itu, dampak negatifnya semua sinyal yang diberikan Merapi sangat lemah. Sinyal yang dimaksud antara lain gempa tidak atraktif, deformasi, dan lain sebagainya.

"Saya bilang, hati-hati dengan sistem terbuka. Gejalanya tidak bisa lagi memakai kamus zaman dulu," ungkapnya.

Status gunung berapiKOMPAS.com/AKBAR BHAYU TAMTOMO Status gunung berapi

Meskipun demikian, Surono mengingatkan, "Semua proses alam tidak mungkin tanpa tanda-tanda. Hanya saja tanda-tandanya kecil, karena freatik tidak sebesar magmatik," paparnya.

Menurut pengamatan Surono, masyarakat di sekitar lereng Merapi adalah masyarakat yang paling siap menghadapi letusan gunung berapi. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

"Saya terus terang saja, sebelum terjadi letusan saya ngobrol dengan kepala SAR DIY. Mereka mengambil langkah menggelar pasukan dengan atau tanpa waspada lho. Itu tindakan yang sangat luar biasa," katanya.

"Jadi menurut saya, masyarakat dan aparat sudah siap. Sekarang kuncinya adalah BPPTKG memberikan informasi secara cepat, tepat, dan akurat," tegasnya.

sumber: Kompas.com dengan judul "Letusan Freatik Buktikan Merapi Telah Berubah, Apa Dampak Negatifnya?

Banjir Bandang Terjang Kabupaten Konawe Utara, 395 Jiwa Mengungsi

KENDARI, KOMPAS.com – Banjir bandang yang menerjang tiga desa di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Senin (21/5/2018), membuat 395 jiwa dari 96 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban banjir harus mengungsi.

Para korban yang mengungsi kini terpaksa berteduh dalam tenda darurat yang dibangun oleh Dinas Sosial Kabupaten Konawe Utara. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materi yang diderita warga ditaksir mencapai miliaran rupiah. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Konawe Utara Sudin mengatakan, dalam musibah itu tercatat tujuh rumah warga yang hanyut terseret banjir. Sementara 79 rumah warga yang lainnya masih terendam banjir

Sudin menambahkan, saat ini tenda darurat yang dibangun Dinas Sosial bukan hanya dijadikan sebagai tempat perisitirahatan sementara, tetapi juga digunakan untuk mengamankan harta benda warga yang berhasil diselamatkan. Sebagian warga korban banjir juga mengungsi ke rumah sanak kelurga, terutama anak-anak kecil.

"Warga yang terdampak banjir di tiga lokasi di Konawe Utara, yakni untuk Desa Polara Indah sebanyak 33 KK atau 141 jiwa, Desa Landawe Utama 34 KK atau 140 jiwa dan Tamba Kua 27 KK atau 114 jiwa," terang Sudin, Selasa (22/5/2018).

Untuk memaksimalkan pegawasan terhadap para korban banjir, kata Sudin, pihaknya juga mendirikan posko darurat pembantu yang dilengkapi fasilitas tanggap darurat. Saat ini, pihaknya masih terus melakukan pemantauan di sejumlah lokasi yang terdampak banjir. Baca juga: Banjir Bandang di Bogor, 1 Warga Tewas dan 12 Kendaraan Hilang

“Kami berharap bencana alam yang melanda ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kalau (kerugian) materi diperkirakan miliaran rupiah karena rumah banyak hancur dan barang berharga lainya hilang,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, banjir setinggi empat meter menerjang tiga desa di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara 3 terjadi pada Senin (21/5/2018).

Banjir ini disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari di wilayah itu, sehingga membuat sungai Wiwirano meluap. Tak hanya itu, akibat banjir bandang tersebut jalan trans-Sulawesi yang menghubungkan antara Kecamatan Langgikima, Konawe Utara dengan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah terputus.

More Articles ...