logo2

ugm-logo

Mengenal Pagang, Destinasi Wisata Sekaligus Pulau Mitigasi Bencana

PASIR putih terhampar di sepanjang pantai. Air laut yang tenang dan jernih dan pepohonan rindang yang bisa menaungi saat tidur bermalas-malasan sungguh menggoda. Terlebih matahari menjelang siang masih terasa ramah, tidak terlalu panas.

Benar saja, setelah memesan cottage dan meletakkan barang, beberapa wisatawan yang baru datang berlarian menuju pantai, terjun menikmati perairan Pulau Pagang.

Mungkin nanti mereka juga akan menikmati banana boat, donut boat atau jet ski yang juga disediakan pengelola. Atau mungkin menikmati snorkeling, berfoto di area terumbu karang.

Agak ke ujung pulau, beberapa orang sudah terlihat mencebur ke laut yang berwarna biru cerah, memantulkan warna pasir putih di dasarnya yang tidak terlalu dalam. Mereka adalah wisatawan yang ingin lebih dekat dengan alam, memanfaatkan area camping ground yang juga disediakan pengelola pulau.

Pengelola Pulau Pagang, Heru Farta mengungkapkan, terdapat beberapa pilihan yang bisa dipilih wisatawan yang memutuskan untuk menginap di pulau di antaranya, cottage bersama seharga Rp1,3 juta per malam, VIP cottage Rp1,2 juta per malam, cottage backpacker Rp1 juta per malam, backpacker non AC Rp800 ribu per malam dan camping ground Rp50 ribu per orang.

Pulau Pagang, Sumbar

Fasilitas itu dilengkapi pula dengan toilet umum yang cukup representatif dan bersih. Selesai mandi di laut, wisatawan bisa membilas diri di tempat itu. Sabun dan shampo sudah disediakan. Juga ada musala untuk wisatawan menunaikan ibadah.

Lebih ke ujung pulau, beberapa wisatawan tampak turun dari bukit kecil. Mungkin agak terlalu berlebihan disebut bukit, karena tempat itu hanya berupa gundukan setinggi tujuh atau delapan meter. Mendakinya tidak lebih dari 10 menit. Namun dari puncak bukit kecil itu pemandangan menjadi agak lepas.

Laut biru dan beberapa gugus pulau terlihat jelas. Itulah salah satu spot foto paling keren di Pulau Pagang, selain gugusan karang, gazebo dan beberapa bangku taman yang di susun fotogenik.

Pulau Pagang, Sumbar

Bila ingin mencoba medan yang lebih menantang, bisa menyusuri jalur tracking di bukit setinggi 37 meter di belakang pulau. Jalur itu sebenarnya disediakan untuk evakuasi jika terjadi ancaman tsunami, namun bisa dinikmati untuk tracking bagi wisatawan.

Menjelang siang, wisatawan menyudahi acara mandi di laut dan bersiap untuk bersantap siang. Wisatawan yang membeli paket wisata mendapatkan layanan makan siang dan malam dari perusahaan perjalan wisata.

Empat Titik di Sukabumi Dilanda Bencana Pascahujan Deras

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Peristiwa hujan disertai angin kencang di Kota Sukabumi menyebabkan bencana di empat titik berbeda. Kejadian tersebut menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan.

''Hingga Senin (18/10), kami terus berupaya menangani dampak dari intensitas hujan yang terjadi,'' ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, Senin sore. Sejak Ahad (17/10) dilaporkan ada sebanyak empat kasus bencana.

Bencana itu kata Zulkarnain, berakibat pada sejumlah rumah warga rusak. Bencana pertama yakni angin puting beliung menimpa kampung di RW 01 Cigunung, RW 12 Babakan, RW 03 Babakan dan RW 04 Kubang, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong.

Dilaporkan kejadian terjadi sekitar pukul 15.30 WIB. Bencana itu menyebabkan satu atap rumah warga terangkat angin, satu pohon karet tercabut akarnya sehingga tumbang menimpa rumah warga atas nama Isam (70 tahun) dan Ny Titin serta satu tembok rumah bekas pabrik kue jebol.

Bencana kedus lanjut Zulkarnain, banjir permukaan jalan di RT 04 RW 04 Jalan Merdeka Kelurahan Cipanengah, Kecamatan Lembursitu pada pukul 16.30 WIB. Hal ini dipicu oleh drainase pinggr jalan tersumbat menggenang radius 30 meter dari akibat sampah serta kurangnya bak kontrol air sepanjang trotoar.

Selanjutnya ungkap Zulkarnain, cuaca ekstrem mengakibatkan sebagian atap rumah warga atas nama Uen (61) warga Cibodas RT. 03 RW 01 Kelurahan Cikundul, Lembursitu ambruk. Kondisi itu dipicu oleh keadaan atap rumah lapuk.

Terakhir, cuaca ekstrem di Kuta Pasir RT 03 RW 11, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh mengakibatkan retakan dinding dan atap dapur rumah warga atas nama Neneng Sri Giantini. Bencana ini dipicu karena lapuk dan luas terdampak 24 meter persegi.

''BPBD meminta warga supaya tetap waspada terhadap kondisi ini, dengan tetap cermat memantau kondisi lingkungan setiap saat,'' ungkap Zulkarnain. Sebab keselamatan saat darurat kejadian lebih banyak orang terselamatkan karena faktor diri sendiri.

Di sisi lain terang Zulkarnain, BPBD terhadap beberapa laporan ini dari sejak Ahad kemarin hingga Senin malam melakukan tindakan penanganan. Misalnya memasang bambu dan pemotongan pohon yang tumbang.

Selain itu lanjut Zulkarnain, pada kesempatan tersebut juga diberikan bantuan stimulan bagi korban yang terkena langsung bencana sebagai bentuk respons atas peristiwa. Salah satunya kepada ibu Titin yang rumahnya tertimpa pohon tumbang di Kampung Kubang RT 01 RW 03, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong.

More Articles ...