logo2

ugm-logo

Reportase “Bimbingan Teknis Penyusunan Hospital Disaster Plan 2025: UGM Dorong Rumah Sakit Daerah Lebih Siaga Hadapi Krisis dan Bencana”

Reportase

“Bimbingan Teknis Penyusunan Hospital Disaster Plan 2025:

UGM Dorong Rumah Sakit Daerah Lebih Siaga Hadapi Krisis dan Bencana”

3-5 Desember 2025


 

bimtek hdp 2025 1

Dok. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

PKMK-Yogyakarta-Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Hospital Disaster Plan (HDP) Tahun 2025 sebagai upaya penguatan kapasitas rumah sakit dalam menghadapi situasi krisis kesehatan dan bencana di daerah. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan rumah sakit mitra dari beberapa provinsi yang selama ini menjadi jejaring pembinaan FK-KMK UGM dalam program manajemen bencana kesehatan. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya dibekali dengan teori, melainkan juga dilatih menyusun dokumen rencana penanggulangan bencana rumah sakit secara langsung.

bimtek hdp 2025

Kegiatan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B(K)BD, yang menyampaikan materi pengantar bertema “Manajemen Bencana di Bidang Kesehatan dan Hospital Disaster Plan.” Dalam paparannya, dr. Hendro menekankan bahwa sistem kesehatan harus siap beradaptasi di tengah kondisi darurat. “Masalah terbesar dalam respon bencana bukan kekurangan tenaga atau peralatan, melainkan lemahnya koordinasi dan kontrol,” tegasnya. Hendro menegaskan pentingnya penerapan sistem command and control serta pendekatan cluster sebagaimana yang diatur dalam kerangka koordinasi kemanusiaan global. Melalui pendekatan tersebut, setiap elemen rumah sakit, baik medis maupun non-medis dapat bekerja secara sinergis di bawah satu sistem komando.

bimtek hdp 2025

Selanjutnya, dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan materi tentang “Akreditasi dan Strategi Penyusunan Hospital Disaster Plan.” Bella menjelaskan bahwa komponen HDP kini menjadi salah satu indikator penting dalam standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK-9) pada akreditasi rumah sakit. Rumah sakit, menurutnya, harus memastikan keberlanjutan layanan melalui empat aspek utama: Staff, Stuff, Structure, dan System. “Rumah sakit yang tangguh adalah yang mampu tetap beroperasi dalam krisis, memberikan pelayanan esensial, dan menjaga keselamatan tenaga kesehatan,” jelasnya. Materi ini juga menyoroti pentingnya surge capacity, yaitu kemampuan fasilitas kesehatan untuk menambah kapasitas pelayanan dengan cepat saat terjadi lonjakan kebutuhan akibat bencana

bimtek hdp 2025

Materi berikutnya disampaikan oleh Happy R Pangaribuan, MPH, yang mengulas langkah-langkah teknis Analisis Risiko menggunakan Hazard Vulnerability Analysis (HVA) dan penilaian Hospital Safety Index (HSI). Peserta diajak untuk memetakan potensi ancaman, kerentanan, dan kapasitas di masing-masing rumah sakit guna menentukan prioritas mitigasi dan penanganan. Menurutnya, analisis risiko yang baik menjadi fondasi bagi perencanaan kontinjensi, simulasi, dan penyusunan SOP bencana. “Setiap rumah sakit memiliki risiko berbeda, maka dokumen HDP harus disusun berdasarkan hasil analisis yang objektif dan kontekstual,” jelasnya.

bimtek hdp 2025

Pada sesi pengorganisasian dan sistem komando, Bella kembali memandu peserta mengenal Incident Command System (ICS) sebagai kerangka koordinasi yang efektif di rumah sakit. Melalui simulasi sederhana, peserta belajar bagaimana menetapkan rantai komando, fungsi operasional, logistik, perencanaan, serta keuangan selama masa tanggap darurat. “Gunakan struktur sederhana, fleksibel, dan sesuai tupoksi harian agar mudah diaktifkan kapan saja,” ujarnya. Sementara itu, dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk (K) mmenjelaskan pentingnya Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk menjamin setiap langkah penanganan dilakukan seragam dan cepat. Ia menegaskan bahwa SPO bencana harus disusun secara realistis, diuji melalui latihan, dan ditinjau ulang secara berkala.

Materi selanjutnya berfokus pada identifikasi fasilitas dan logistik saat bencana. Happy menjabarkan kebutuhan fasilitas penunjang, mulai dari ruang evakuasi, area dekontaminasi, hingga peta risiko internal rumah sakit. Di sesi terakhir, Bella menutup kegiatan dengan paparan tentang manajemen logistik rumah sakit saat krisis, menegaskan bahwa keberhasilan respon bencana ditentukan oleh kesiapan rantai pasok dan dukungan administrasi yang efisien. Ia mengutip pepatah klasik militer: “Before the fighting proper, the battle is won or lost by quartermasters”, untuk menegaskan bahwa kesiapsiagaan logistik menentukan keberhasilan operasi medis saat bencana.

bimtek hdp 2025

Melalui rangkaian kegiatan Bimtek ini, para peserta berhasil menghasilkan draft awal dokumen Hospital Disaster Plan masing-masing rumah sakit yang mencakup struktur komando, rencana komunikasi, SPO, serta skenario risiko prioritas. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari komitmen PKMK FK-KMK UGM dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan daerah. Dengan kolaborasi lintas profesi dan dukungan akademik yang berkelanjutan, diharapkan setiap rumah sakit di Indonesia mampu menjadi safe hospital yang tangguh, responsif, dan siap melindungi keselamatan pasien serta tenaga kesehatan dalam situasi darurat.

Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Reportase Simulasi Table Top Exercise (TTX) Pedoman HEOC Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota DIY 2025

ttx jogja 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Simulasi Table Top Exercise (TTX) Pedoman HEOC Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota DIY 2025”

Agustus-November 2025-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menegaskan diri sebagai daerah yang tangguh menghadapi bencana dan krisis kesehatan. Sepanjang Agustus hingga November 2025, Dinas Kesehatan DIY bersama PKMK FK-KMK Universitas Gadjah Mada dan Komunitas Relawan Kesiapsiagaan (KREKI) menyelenggarakan Gladi Ruang atau Table Top Exercise (TTX) Kesiapsiagaan Krisis Kesehatan di lima kabupaten/kota, yaitu Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momen penting untuk menguji pedoman Health Emergency Operation Center (HEOC) yang telah disusun melalui proses pendampingan intensif pada tahun sebelumnya oleh Dinas Kesehatan DIY. Dalam proses pengembangan Pedoman HEOC tersebut, Dinkes DIY mengundang Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM sebagai fasilitator. Tahun ini, pedoman itu diujicobakan secara langsung dalam TTX di lima kabupaten dan kota dengan pendekatan berbasis simulasi nyata. Setiap daerah menampilkan skenario yang disesuaikan dengan karakteristik risikonya.

Simulasi Table Top Exercise

Peserta dari berbagai instansi terlibat dalam rangkaian TTX ini, termasuk dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, BPBD, PMI, TNI, Polri, PSC 119, TAGANA, akademisi, dan relawan. Fasilitator dari PKMK FK-KMK UGM memandu jalannya latihan dengan model inject, di mana peserta harus merespons berbagai situasi tak terduga seperti lonjakan korban, krisis logistik, hingga komunikasi yang terputus. Setiap sesi diakhiri dengan kegiatan After Action Review (AAR) untuk menilai efektivitas koordinasi, kecepatan pengambilan keputusan, dan kemampuan aktivasi HEOC di masing-masing daerah

Dinkes Kabupaten Bantul menjadi pembuka pada 21 Agustus 2025 dengan skenario gempa bumi dan banjir bandang yang menimbulkan korban massal. Secara keseluruhan pelaknaaan TTX di Kab. Bantul berjalan dengan baik. Seluruh bidang terkait termasuk ketua HEOC (Kadinkes) dapat menghadiri kegiatan. Setiap peserta sudah memahami tugas dan fungsinya masing-masing termasuk keterlibatan lintas sektor. Beberapa poin rekomendasi dari hasil After Action Review (AAR) TTX ini adalah memperbaharui dokumen rencana kontijensi, HDP, PDP setahun sekali; menyiapkan alat komunikasi alternatif; melatih tim HEOC; menyusun dokumen SOP; mempertimbangkan pelayanan untuk disabilitas dan komunikasi risiko.

Dinkes Kota Yogyakarta menggelar simulasi pada 4 September 2025 dengan skenario banjir besar akibat luapan Sungai Code. Peserta dari dinas kesehatan, puskesmas, PSC 119 YES, dan rumah sakit dilatih untuk mengatur jalur rujukan darurat, menjaga keberlanjutan layanan dasar, dan memastikan komunikasi berjalan efektif saat sistem terganggu. Tantangan selama kegiatan TTX adalah pemain dari internal Dinkes tidak semua dapat mengikuti TTX sehingga ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab secara detail. Namun secara keseluruhan pelaksanaan TTX dapat berjalan dengan baik. Beberapa poin rekomendasi dari hasil AAR TTX adalah melengkapi dan memperbaharui dokumen rencana kontijensi, HDP, PDP setahun sekali; melaksanakan pelatihan dan simulasi; menyusun PDP jika Puskesmas belum memiliki dokumen tersebut; menyusun SOP untuk dilengkapi dalam dokumen disaster plan; koordinasi pendataan secara cepat; melatih tim HEOC; menyusun pedoman dan pelatihan terkait dengan mobilisasi SDM; Pengadaan hotline untuk mempermudah komunikasi distribusi SDM.

Simulasi Table Top Exercise

Dinkes Kulon Progo, simulasi pada 25 September 2025 mengangkat skenario tsunami Megathrust Selatan Jawa dengan gambaran ribuan warga pesisir yang harus dievakuasi dalam waktu singkat. Peserta dari dinas kesehatan, BPBD, rumah sakit, PMI, dan relawan KREKI melatih kemampuan logistik medis, pendirian pos pengungsian, dan koordinasi lintas instansi ketika komunikasi terputus. Pelaksanaan TTX dapat berjalan dengan baik, terdapat juga kesiapan dari Dinas Kesehatan dengan adanya print out dokumen HEOC sehingga jawaban pemain dapat di cross cek langsung sesuai dokumennya. Ketua HEOC juga dapat menghadiri TTX, sistem komunikasi dan koordinasi dapat disampaikan dengan baik. Beberapa poin rekomendasi dari hasil AAR TTX adalah mengevaluasi, memperbaharui dan mensosialisasikan dokumen rencana kontijensi; menyusun dokumen SOP (contoh: alur komunikasi, koordinasi lintas sekotr untuk penyediaan rumah sakit lapangan, penerimaan relawan, manajemen logistik, manajemen relawan, laporan kegiatan); pengembangan struktur organisasi HEOC pada dokumen rencana kontijensi; penyusunan form exit report/laporan kepulangan; serta menyusun alur pelaksanaan evaluasi.

Dinkes Kabupaten Sleman menggelar simulasi pada 7 Oktober 2025 dengan tema erupsi Gunung Merapi yang menuntut respons cepat terhadap lonjakan pengungsi, penugasan tim bencana, pengaturan alur koordinasi dan manajemen bantuan logistik. Secara keseluruhan simulasi berjalan dengan baik, semua lintas sektor dapan menyampaikan perannya masing-masing. Beberapa poin rekomandasi dari hasil AAR TTX ini adalah memastikan Puskesmas sudah memiliki dokumen PDP; menyusun dokumen SOP (contoh: informasi perkembangan kejadian, aktivasi HEOC, penerimaan logistic, penerimaan SDM, demombilisasi tim); menyusun struktur organisasi HEOC; penyusunan form exit report/laporan kepulangan; menyusun alur pelaksanaan evaluasi.

Dinkes Kabupaten Gunungkidul menutup rangkaian kegiatan pada 11 November 2025 dengan skenario banjir ekstrem yang menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan dan memunculkan ancaman penyakit berbasis air seperti diare dan leptospirosis. Selama pelaksanaan simulasi beberapa pertanyaan belum dapat direspon dnegan jelas karena bidang yang tergabung dalam klaster kesehatan tidak dapat menghadiri kegiatan seperti bagaimana operasi HEOC saat terjadi banjir. Beberapa poin rekomendasi dari hasil AAR TTX ini adalah menyiapkan dokumen rencana kontijensi banjir untuk sektor kesehatan; menyiapkan dokumen PDP; menyusun dokumen SOP (contoh: alur komunikasi informasi peringatan dini, RHA, aktivasi HEOC, kegiatan masing-masing sub klaster kesehatan, koordinasi lintas sektor, koordinasi lintas program, akses penyediaan pembiayaan saat bencana, pencatatan bantuan, pendistribusian logistik, demobilisasi tim, pencatatan bantuan); menyusun dokumen pedoman HEOC; melakukan analisis perhitungan kebutuhan logistik; serta menyusun alur pelaksanaan evaluasi.

Simulasi Table Top Exercise

Melalui pelaksanaan TTX 2025 ini, DIY membuktikan bahwa kesiapsiagaan tidak berhenti pada penyusunan dokumen, melainkan diwujudkan melalui praktik nyata di lapangan. Uji penerapan pedoman HEOC hasil pendampingan PKMK FK-KMK UGM menunjukkan bahwa koordinasi lintas sektor, pengambilan keputusan berbasis bukti, dan kemampuan komunikasi risiko dapat berjalan efektif ketika diuji dalam kondisi darurat. Pendekatan ini memperkuat budaya kesiapsiagaan yang kolaboratif dan responsif, menjadikan Yogyakarta sebagai contoh daerah yang bukan hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan layanan kesehatan di tengah krisis yang tak terduga.

 

Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH

 

 

More Articles ...