logo2

ugm-logo

Reportase “Webinar Nasional: Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)”

Yogyakarta, 14 April 2026

spgdt 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)” pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh sebanyak 90 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya tenaga keperawatan lintas jenjang.

Penyelenggaraan webinar ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, terutama dalam penanganan kondisi kegawatdaruratan. SPGDT merupakan sistem yang mengintegrasikan pelayanan pra-rumah sakit, pelayanan di fasilitas kesehatan, serta mekanisme rujukan, guna menjamin respons yang cepat, tepat, dan berkesinambungan terhadap pasien dalam kondisi darurat.

spgdt2Pada sesi pengantar, dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD memaparkan berbagai tantangan dalam implementasi SPGDT di Indonesia, diantaranya keterbatasan sumber daya manusia terlatih, variasi kompetensi tenaga kesehatan, serta belum optimalnya koordinasi lintas sektor. Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung sistem respons kegawatdaruratan juga masih belum merata.

spgdt 3Materi utama disampaikan oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. yang mengulas secara komprehensif mengenai transformasi peran perawat dalam SPGDT. SPGDT dijelaskan sebagai sistem terpadu yang melibatkan berbagai komponen, termasuk masyarakat, tenaga kesehatan, layanan ambulans, serta sistem komunikasi kegawatdaruratan seperti PSC 119, dengan tujuan meningkatkan kecepatan respons dan mutu pelayanan serta menurunkan angka kematian dan kecacatan.

Dalam paparannya, dijelaskan bahwa perawat memiliki peran strategis pada seluruh tahapan pelayanan kegawatdaruratan, mulai dari pra-rumah sakit, pelayanan di fasilitas kesehatan, hingga sistem rujukan. Pada fase pra-rumah sakit, perawat dapat berperan sebagai call taker, dispatcher, dan pelaksana triase awal. Di fasilitas pelayanan kesehatan, perawat berperan dalam triase cepat, stabilisasi pasien, serta aktivasi sistem kegawatdaruratan. Sementara itu, dalam sistem rujukan, perawat berkontribusi dalam koordinasi antar fasilitas serta memastikan kesinambungan pelayanan pasien.

spgdt 4

Sesi diskusi yang berlangsung setelah pemaparan materi menunjukkan tingginya perhatian peserta terhadap implementasi SPGDT di lapangan, khususnya terkait kesiapan fasilitas kesehatan dan penguatan kapasitas tenaga keperawatan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan yang semakin kompleks. Transformasi peran tersebut menuntut peningkatan kompetensi perawat, baik kompetensi klinis seperti Basic Life Support (BLS) dan Advanced Life Support (ALS), maupun kompetensi non-klinis seperti komunikasi efektif, pengambilan keputusan cepat, serta kemampuan bekerja dalam tim interprofesional. Integrasi sistem, kolaborasi antarprofesi, serta penerapan prinsip keselamatan pasien menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan implementasi SPGDT.

Melalui kegiatan ini, harapannya PKMK dapat mendorong peningkatan kapasitas dan profesionalisme tenaga keperawatan, sekaligus memperkuat implementasi SPGDT secara nasional. Transformasi peran perawat menjadi elemen penting dalam mewujudkan sistem pelayanan kegawatdaruratan yang responsif, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

 

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera,

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

 

REPORTASE SEMINAR NASIONAL “ANNUAL SCIENTIFIC MEETING 2026: KEBUTUHAN PENYINTAS GERIATRI DALAM SITUASI BENCANA: TANTANGAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN BERBASIS EVIDENCE”

Sabtu, 7 Februari 2026

PKMK-Yogyakarta. Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tinggi yang berdampak signifikan terhadap kelompok rentan, khususnya populasi geriatri. Lansia memiliki keterbatasan fisiologis, komorbid, serta ketergantungan terhadap pelayanan kesehatan, sehingga lebih berisiko mengalami dampak kesehatan serius dalam situasi bencana. Kondisi ini menuntut adanya perhatian khusus dalam sistem penanggulangan bencana yang responsif terhadap kebutuhan geriatri.

vina

Dok. PKMK “Pembukaan” oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH.

Pada kesempatan kali ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan KAGAMADOK mengadakan Seminar Nasional “Kebutuhan Penyintas Geriatri Dalam Situasi Bencana: Tantangan, Strategi, Dan Kebijakan Berbasis Evidence” sebagai rangkaian dari Annual Scientific Meeting 2026 yang dilaksanakan secara hybrid. Kegiatan dibuka oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH selaku moderator pada seminar kali ini. Vina menyampaikan bahwa kegiatan kali ini merupakan bagian dari Annual Scientific Meeting dengan tema utama adalah mengenai Embracing Ageing. Sehingga topik seminar kali ini membicarakan mengenai kebutuhan penyintas kelompok rentan terutama geriatri dalam situasi bencana.

gde yulian

Dok. PKMK “Situasi Bencana dan Pengaruhnya terhadap Penyintas Kelompok Rentan (Geriatri/Lansia)” oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid.

Materi pertama disampaikan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid dengan judul “Situasi Bencana dan Pengaruhnya terhadap Penyintas Kelompok Rentan (Geriatri/Lansia)”. Bapak Gde menyampaikan di awal mengenai teori risiko, yaitu risiko sebagai interaksi antara ancaman (bahaya), keterpaparan, dan kerentanan, yang berpotensi menimbulkan kerugian jiwa, harta, dan dampak sosial-ekonomi. Kemudian kelompok rentan salah satunya lansia menjadi kelompok rentan yang sering terabaikan ketika terjadi bencana. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dibutuhkan, perlu menghitung jumlah lansia yang ada di wilayah tersebut. Gde menyampaikan untuk menghitung estimasi jumlah populasi lansia dapat menggunakan kalkulator PPAM yang dimiliki Kementerian Kesehatan RI. Selain itu, telah diatur juga melalui Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 bahwa kelompok lansia masuk ke dalam klaster kesehatan lebih tepatnya di sub klaster kesehatan reproduksi. Dalam penanganan krisis kesehatan khususnya lansia, sudah tersedia pedoman khusus yang membahas tentang hal tersebut. Gde menjelaskan mengenai isi Pedoman Layanan Minimum Kesehatan Lanjut Usia Pada Krisis Kesehatan. Terakhir dijelaskan pula mengenai kit lansia dan apa saja isinya yang perlu dipersiapkan sesuai dengan pedoman yang ada.

Video

sarly

Dok. PKMK “Pemenuhan Kebutuhan Lansia dalam Situasi Bencana” oleh dr. Sarly Puspita Ariesa, Sp.PD, Subsp.Ger (K) , FINASIM.

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh dr. Sarly Puspita Ariesa, Sp.PD, Subsp.Ger (K) , FINASIM., mengenai “Pemenuhan Kebutuhan Lansia dalam Situasi Bencana”. Sarly menyampaikan Indonesia masuk peringkat tiga sebagai negara dengan risiko bencana tinggi, selain itu usia harapan hidup di Indonesia semakin tinggi yang menyebabkan jumlah populasi lansia meningkat secara signifikan. Kemudian narasumber juga menyampaikan kerentanan lansia antara lain penurunan mobilitas, fungsi sensorik, penyakit kronis, ketergantungan obat, serta kesulitan akses informasi dan evakuasi. Pendekatan yang dapat dilakukan kepada lansia antara lain pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual, menjaga fungsi, keselamatan, dan martabat lansia, serta, perawatan berkelanjutan sebelum, saat, dan setelah bencana. Sebagai penutup, Sarly juga menyampaikan mengenai tantangan sistem kebencanaan nasional bagi kelompok rentan khususnya lansia serta peran pemerintah dan lintas sektor untuk membuat kebijakan dan meningkatkan pelayanan kelompok rentan khususnya lansia dalam situasi bencana.

Video

 asm bencana 2026

Setelah sesi penyampaian materi, peserta memberikan tanggapan dan pertanyaan atas materi yang telah disampaikan. Peserta tampak antusias dan aktif ketika sesi diskusi berlangsung. Ada tiga pertanyaan yang ditanyakan oleh peserta, yaitu dr. Alif dari RSKB Ring Road Selatan, dr. Hafidh dari MER-C Yogyakarta, dan Dedy Setiawan dari RSUD Kardinah Tegal. Berdasarkan diskusi dengan narasumber, pembelajaran yang dapat diambil adalah dalam penanganan bencana sudah ada regulasi dan pedoman yang dibuat untuk kelompok rentan khususnya lansia. Kemudian dalam penanganan lansia kita tidak hanya berfokus pada lansia tapi juga pendamping lansia, tenaga medis, dan pemerintah untuk memastikan pelayanan optimal bisa diterima oleh setiap lansia terdampak bencana. Sebelum menutup seminar pada hari ini dilakukan sesi foto bersama dengan narasumber dan peserta yang hadir secara luring.

Video

Reporter: dr Alif Seswandhana (PKMK UGM)

 

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

More Articles ...