logo

ugm-logo

BIMBINGAN TEKNIS DAN REVIEW DOKUMEN HOSPITAL DISASTER PLAN

BIMBINGAN TEKNIS DAN REVIEW

DOKUMEN HOSPITAL DISASTER PLAN

H Boutique Hotel Yogyakarta, 29 – 31 Januari 2018


Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK UGM) mengadakan bimbingan teknis penyusunan perencanaan penanganan bencana di rumah sakit. Acara ini berlangsung di H Boutique Hotel Yogyakarta. Kegiatan tersebut dibuka oleh dr. Bella Donna. M. Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FKKMK UGM. bimbingan teknis dan review dokumen HDP ini diikuti berbagai Rumah sakit yang ada di Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah membentuk kesiapsiagaan rumah sakit yang disusun dalam suatu dokumen untuk menghadapi bencana yang terjadi baik itu internal maupun eksternal.

1 bimtek

Dok. PKMK FK UGM: Foto bersama Narasumber dan Peserta

Bimbingan teknis dan review dokumen HDP ini berlangsung selama tiga hari, hari pertama diawali dengan penyampaian materi overview HDP dan akreditasi rumah sakit yang disampaikan oleh dr. Bella Donna. M. Kes, dilanjutkan dengan materi komponen HDP yang disampaikan oleh Intan Anastasia, M.Sc., Apt. Kegiatan hari kedua peserta menerima materi mengenai pengorganisasian oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS(K), analisis risiko dan hazard mapping oleh dr. Bella Donna. M. Kes, penyusunan SOP oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Setiap materi yang disampaikan kepada peserta dilengkapi dengan penugasan dan langsung didampingi oleh fasililtator terkait materi yang diberikan agar nantinya setelah kegiatan ini selesai peserta dapat membawa draft dokumen hospital disaster plan untuk rumah sakit.

Hari terakhir kegiatan bimbingan teknis dan review dokumen HDP diisi dengan kunjungan lapangan ke RS Panti Nugroho agar perserta dapat melakukan sharing pengalaman terkait pelaksanaan dokumen HDP di RS Panti Nugroho dan melihat secara langsung fasilitas-fasilitas yang digunakan oleh RS Panti Nugroho sehingga dokumen HDP dapat teruji operasionalisasinya.

2 bimtek

Dok. PKMK FK UGM: Foto bersama Peserta Bimbingan Teknis dan Review Dokumen HDP dengan civitas RS Panti Nugroho

Dokumen hospital disaster plan sangat penting dimiliki oleh setiap rumah sakit, harapannya dokumen hospital disaster plan ini tidak berakhir sebagai dokumen tetapi menjadi budaya di rumah sakit untuk keselamatan petugas dan pasien, mengingat rumah sakit sebagai peranan utama dalam kesiapan penanganan bencana dan dalam menangani korban bencana.

Reporter : Nilasari, SKM, MPH

Laporan TIM UGM PEDULI AGATS

Laporan

TIM UGM PEDULI AGATS

 


Krisis kesehatan yang terjadi di Kabupaten Asmat menjadi pembahasan serius oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada, termasuk yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) yang memiliki Pokja Bencana segera melakukan koordinasi untuk tindak lanjut kasus Asmat ini. Koordinasi yang dilakukan juga bekerjasama dengan universitas dan Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

1 tim ugm for agat 1

Dokumentasi Tim: Tim UGM

Sebelum keberangkatan tim UGM ke Agats, pada 22 Januari 2018, dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Pengabdian Masyarakat dr. Mei Neni Sitaresmi, SpA(K)., PhD dilakukan rapat koordinasi tentang situasi di Asmat dan paparan oleh Ketua Pusat Krisis Kesehatan. Hasilnya adalah diperlukan bantuan untuk jangka panjang atau pada tahap recovery.

Pada 22 januari 2018,Pengabdian Masyarakat UGM mengirimkan surat ke FKKMK UGM agar menugaskan perwakilan untuk ikut dalam TIM DERU UGM ke Agats. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD dan Sutono, S.Kp, M.Sc ditugaskan ke Agats sebagai perwakilan FKKMK UGM yang juga merupakan anggota Pokja Bencana FKKMK UGM.

Namun tim UGM mengalami kendala ketika pembentukan tim seperti adanya keputusan yang mendadak sehingga waktu persiapan singkat, misi ketika ke Amsat belum jelas. Tetapi dibantu dengan adanya sumber daya yang cukup, networking yang luas dan manajemen yang bagus sehingga membantu adanya pembentukan tim ini. Laporan dari tim inilah yang menjadi dasar rekomendasi rencana kegiatan selanjutnya.

 

 

2 tim ugm for agat 2

Dokumentasi tim: Koordinasi dengan Bupati

 

Selama 1 minggu (23-28 Januari 2018) berikut temuan dan hasil asesmen tim tentang kondisi Asmat:

  1. Masalah gizi merupakan problem kronis, respon akut untuk Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan difteri sudah cukup. Tim UGM melakukan assessment untuk bantuan program jangka menengah.
  2. Permasalahan keuangan tidak terlalu menjadi persoalan tetapi masalah fasilitas dan peralatan (yang baru beberapa bulan ada) yang tidak digunakan sebagaimana mestinya.
  3. Birokrasi yang-inefisien, . program banyak tetapi luaran program tidak jelas.
  4. Masalah perilaku dan budaya yang mempengaruhi proses layanan dan sistem kesehatan yang berjalan sehingga intervensi selanjutnya perlu mempertimbangkan hal ini.
  5. Medan yang ekstrim atau berat
  6. Masih adanya masalah politik.

 3 tim ugm for agat 3

Dokumentasi Tim: Situasi di Puskesmas Akats

 

4 tim ugm for agat 4

Dokumentasi tim: Pasien di ruang rawat inap puskesmas Akats

 

Selain permasalahan di atas, ketika tim di Puskesmas Akats ditemukan juga permasalahan sebagai berikut:

  • Kecamatan Akats (50 Km dari Agats): 18 desa, terdapat beberapa puskesmas (4 bangunan rusak, petugas masih ada) dan desa terjauh 3 jam dengan menggunakan SB-45 PK
  • Jumlah penduduk yang di-c over : 6613 jiwa (Asmat : 96.000)
  • SDM : kepala puskesmas (SKM), tidak ada dokter, pegawai kontrak
  • Kriteria/ indikator/tool assessment status nutrisi tidak jelas
  • Pencatatan dan pelaporan diragukan valinasinya
  • Penduduk sering berpindah tempat tinggal
  • Pendapat dari Kapus: masalah biroksasi terkait anggaran, perilaku masyarakat, beratnya medan.
  • Dari 23 distrik (Kecamatan) di Asmat, baru 18 ada puskesmas. Hanya 5 puskesmas yang ada dokternya.

 

 5 rsud agats

Dokumentasi Tim: RSUD Agats

 6 rsud agats

Dokumentasi Tim: Suasana RSUD Agats

 

Sedangkan permasalahan yang ada di rumah sakit:

  • Terdapat 84 tt, HCU, OK, UGD, Lab. Radiologi
  • UGD ; 70 Kunjungan /hari – cukup tinggi
  • Gaji : SpB 43-68 juta, DU 12-14 juta, perawat 6 juta. Tetapi tidak ada tenaga yang mau ditempatkan.

 

 7 tim ugm agats

Dokumentasi Tim: Tim UGM

 

Berdasarkan hasil temuan tersebut maka Tim UGM yang berangkat memberikan usulan sebagai berikut:

Usulan Kegiatan selanjutnya sebagai berikut:

  1. Membantu pelayanan program bantuan supaya terjamin sampai ke konsumen: HPK  diperluas, kontrol hingga level  konsumen
  2. Membantu ketersediaan nakes sementara
  3. Program jangka menengah
  • Pengiriman mahasiswa KKN ke Asmat
  • Pengiriman Dokter intership ke Puskesmas
  • Bisa adanya pengiriman residen bedan (dan lainnya) ke RSU Agast
  • Keterlibatan universitas, RS Sarjito, Kemenkes

 8 assesment

Dokumentasi Tim: Rapat koordinasi hasil asesmen tim UGM

Menanggapi hasil asesmen ini, maka tanggal 2 februari 2018, dilaksanakan kembali webinar koordinasi untuk mendengarkan hasil asesmen tim yang berangkat. Webinar ini kembali melibatkan Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan juga organisasi Dokter Bhineka Tunggal Ika. Berikut catatan rencana tindak lanjut:

  1. Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes menginformasikan bahwa pemerintah akan segera mengeluarkan pernyataan bahwa situasi KLB sudah teratasi sehingga kegiatan jangka menengah dapat dilaksanakan. Selain itu, pemerintah akan merencanakan penguatan puskesmas di Kabupaten Asmat sehingga kegiatan selanjutnya dapat bergabung dalam penguatan sistem baik di dinas kesehatan dan puskesmas.
  2. Membuat proposal program sebagai acuan untuk melakukan kegiatan jangka panjang dengan sumber pendanaan yang bisa diandalkan. Tidak hanya dilakukan pendampingan harus diberikan contoh langsung menyelesaikan suatu masalah dan selalu dikontrol. Hal ini membutuhkan waktu yang lama sehingga harus berkesinambungan.
  3. Hasil pertemuan ini akan dilaporkan ke UGM untuk melibatkan unsur yang lain.

9 webinar

Dokumentasi Tim: Kepala Pusat Krisis Kemenkes sedang menyampaikan usul

 

Dituliskan oleh Madelina berdasarkan laporan Tim UGM 

1.    Melakukan kegiatan untuk melakukan pendampingan misalnya di satu kecamatan untuk menyelesaikan permasalahan disana. Tidak hanya masalah medis hanya orang medis saja, tetapi juga dengan antropologi, sosiologi, psikologi dan lain-lain.  Tidak hanya dilakukan pendampingan harus diberikan contoh langsung menyelesaikan suatu masalah dan selalu dikontrol. Hal ini membutuhkan waktu yang lama sehingga harus berkesinambungan.

More Articles ...