logo2

ugm-logo

Masyarakat Jepang Terlatih Antisipasi Bencana Alam

TOKYO - Masyarakat Indonesia pasrah terhadap bencana alam. Lokasi bencana alam tsunami di Aceh telah dihuni kembali sama seperti sebelum musibah tsunami. Lain dengan warga Jepang yang mengantisipasi dengan menjauhkan daerah bencana tsunami walaupun kembali ke daerahnya semula.

"Saya baru saja ke Aceh dan di tempat yang sama kembali pula masyarakat yang sama tinggal di tempat yang sama. Mereka sangat pasrah," papar Ahmad Arif, wartawan Kompas yang diundang Foreign Press Center Japan terkait bencana alam agar dapat mempelajari penanganan bencana di Jepang.

Dari kunjungannya ke Aceh umumnya masyarakat sangat pasrah.

"Kalau meninggal sih di mana pun kita juga meninggal, tidak di laut tidak di gunung, di mana pun meninggal. Itu yang saya dengar dari mereka yang kembali ke Aceh," tambah Arif.

Di Jepang khususnya di Onagawa daerah bencana Tsunami, mereka meninggikan tanah hunian 7 meter ke atas dan itu pun hanya untuk daerah komersial. Sedangkan untuk hunian lebih ke atas lagi di daerah bukit.

"Sehingga kalau datang tsunami lagi dapat terantisipasi dengan lebih baik," katanya.

Selain itu kalau orang Indonesia mudah terlupa akan bencana tersebut. Tetapi kalau orang Jepang sulit melupakan bencana tersebut sampai sekarang, bahkan terus masih mempertanyakan mengapa terjadi peristiwa gempa.

"Sedangkan orang Indonesia menganggap sebagai takdir, selesai sehingga mudah terlupakan. Itu mungkin juga perbedaan dengan Jepang," lanjutnya.

Arif akan kembali ke Indonesia dari Osaka tanggal 18 Januari mendatang setelah mengunjungi bekas daerah bencana di Kobe saat bencana 29 Januari 1995 dengan guncangan 6,8 skala Richter.

Saat ini Arif mengakui sedang membuat buku mengenai pengalamannya terkait tsunami.

"Mudah-mudahan tiga buan mendatang bisa selesai buku itu," harapnya.

sumber: TRIBUNNEWS.COM

Pemkot Manado tetapkan status tanggap darurat bencana

Manado  - Pemerintah Kota Manado, Sulawesi Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari akibat banjir dan tanah longsor.

"Status tersebut ditetapkan selama tujuh hari mulai Minggu (11 Januari - red) sampai 17 Januari 2015 nanti," kata Wali Kota Manado Vicky Lumentut, di Manado, Minggu.

Vicky mengatakan, untuk menetapkan status tanggap darurat bencana memang tidak sembarangan, karena itu pemerintah melakukan pemantauan di seluruh wilayah bencana untuk menentukan apakah yang terjadi dapat dikategorikan dalam tanggap darurat bencana atau tidak.

"Dan berdasarkan hal tersebut, maka kami menetapkan tanggap darurat bencana serta melakukan semua prosedur yang diwajibkan, sehingga warga yang mengungsi akibat bencana tetap mendapatkan pelayanan," katanya.

Untuk tanggap darurat bencana tersebut, kata Vicky, pemerintah melalui Dinas Sosial sudah mendirikan dapur umum di wilayah-wilayah yang terkena bencana seperti Paal Dua, Ternate Tanjung, Wanea, Komo Luar, Dendangan Luar dan Taas yang terkena bencana.

Ia mengatakan, sejak Minggu malam, semua pihak terkait, baik Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Sosial, Camat hingga lurah dan kepala lingkungan sudah turun melakukan pendataan semua yang mengungsi.

Dikatakannya, sejak siang sampai sore, warga rata-rata mulai kembali ke rumah untuk membersihkan tumpukan sampah dan lumpur yang dibawa banjir saat air naik sampai ketinggian 1--1,5 meter.

sumber: antara

More Articles ...