MOJOKERTO – Sebagai bagian dari rangkaian Bulan Pengurangan Risiko Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Mitigasi Bencana berkolaborasi dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk melalui BNI Berbagi telah melaksanakan kegiatan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH).
Hal ini merupakan bentuk komitmen untuk terus melakukan upaya pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan pascakegiatan Bulan Pengurangan Risiko bencana yang diselenggarakan di Mojokerto Raya pada Oktober 2025 lalu. Kegiatan ISLAH ini telah diimplementasikan pada tiga (3) lokasi di Kabupaten Mojokerto. Ketiga lokasi ini terdiri dari Kantor Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto, Balai Desa Ngrame dan SMK 2 Pesantren Terpadu Yayasan Darut Taqwa.
Menurut penelitian Balai Litbang Sumber Daya Air, potensi air hujan di wilayah Mojokerto mencapai 2.000–2.500 mm/tahun. Jika dikelola dengan baik, air hujan yang ditampung kemudian diolah dapat dimanfaatkan menjadi cadangan air oleh masyarakat di saat musim kemarau. Selain itu, air yang ditampung saat curah hujan tinggi juga dapat mengurangi risiko banjir.
BNPB, FPRB Kabupaten Mojokerto, Komunitas Banyubening dan Yayasan Bambu Lestari juga telah menyelenggarakan kegiatan edukasi dan sosialisasi ISLAH. Dengan Aminudin Hamzah selaku Analis Kebijakan Ahli Muda BNPB, Sri Wahyuningsih dari Komunitas Banyu Bening, dan Syaiful Anam sebagai Ketua Forum PRB. Kegiatan ini berlangsung di Pasar Keramat, Mojokerto pada hari Minggu, 23 November 2025.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai konsep konservasi air melalui pemanenan air hujan serta mensosialisasikan manfaat ekonomi, lingkungan dan sosial dari pemanfaatan air hujan.
Ratusan pengunjung Pasar Keramat terlihat sangat tertarik dengan penjelasan mengenai pemanfaatan air hujan. Hal ini terlihat juga dari banyaknya pengunjung yang bergantian untuk mencoba meminum dan membawa pulang sampel air hujan hasil elektrolisasi. Salah satu pengunjung mengatakan sampel air hujan hasil elektrolisasi tersebut juga tidak berbeda dengan air yang biasa diminum olehnya.
Kedepannya, diharapkan pemanfaatan ISLAH ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan direplikasi oleh berbagai pihak serta dapat membangun komitmen bersama untuk menerapkan instalasi sistem lumbung air hujan sebagai bagian dari pengelolaan air bersih yang berkelanjutan.

