Hari 1
Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan yang dilaksanakan di Aula Serbaguna Lantai 2 Gedung Auditorium Fakultas Farmasi Milier Unhan RI. Sambutan diberikan oleh Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, MS. selaku Kepala Multheor Indonesia dan Dekan Fakultas Farmasi Militer Unhan RI. Yahdiana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil dari penandatanganan kerjasama antara NCCTRC dan Multheor Indonesia untuk memperkuat kapasitas penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat melalui pertukaran pengetahuan, teknologi, dan pengalaman praktis. Sambutan juga diberikan oleh Maya Cherian selaku koordinator pelatihan dari NCCTRC yang menyampaikan pentingnya kolaborasi global dalam menangani kedaruratan kesehatan. Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Pertahanan Indonesia Letjen TNI (Purn) Dr. Jonni Mahroza, SIP., MA., M.Sc., Ph.D.

Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di lantai 1 ruang kelas FFM Unhan RI. Materi pertama yang disampaikan bertajuk “Introduction to Health Emergencies, global and local disaster landscape” yang membahas mengenai pengertian dan konsep kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan kesehatan berdasarkan definisi WHO, serta profil situasi wabah dan kegawatdaruratan di dunia dan di Indonesia. Materi kedua dibahas mengenai siklus kegawatdaruratan kesehatan masyarakat, pentingnya melakukan analisis risiko, dampak dari bencana dan krisis kesehatan, dan prioritas kesiapsiagaan negara berdasarkan WHO HEPR 2025-2029. Setelah sesi istirahat, materi dilanjutkan dengan pengenalan mengenai WHO IHR (International Health Regulation) 2005 yang di dalamnya mengatur mengenai standar, definisi, dan protap dalam menghadapi PHEIC (Public Health Emergency of International Concerns). Setelah memahami regulasi di tingkat dunia, disampaikan juga materi regulasi sistem kesehatan, kedaruratan, bencana, dan krisis kesehatan di Indonesia berdasarkan peraturan-peraturan yang ada. Sesi pagi hari ditutup dengan penyampaian materi mengenai komunikasi dalam kegawatdaruratan kesehatan masyarakat.

Selepas istirahat siang, sesi materi dilanjutkan dengan penyampaian mengenai GHSA (Global Health Security Agenda) dan JEE (Joint External Evaluation) sebagai bagian tak terpisahkan antara indikator yang telah disepakati dunia untuk memperkuat ketahanan global dan membantu mencapai serta menjalankan amanah di dalam IHR. JEE sendiri hadir sebagai wadah untuk mengevaluasi capaian terhadap GHSA yang bersifat sukarela. Sesi latihan berikutnya ialah table-top exercise dengan kasus suspek Avian Influenza di area Jawa Tengah, Indonesia. Dari 24 partisipan dibagi menjadi 4 kelompok kecil berdasarkan siklus kegawatdaruratan kesehatan masyarakat, yakni fase prevensi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Di dalam sesi simulasi, dilakukan pemetaan terhadap badan, institusi, organisasi yang terlibat di dalam kegiatan. Kemudian, dipetakan pula siapa yang terlibat di dalam masing-masing fase bencana, alur koordinasi, dan prioritas yang akan dilaksanakan dalam masing-masing fase kegawatdaruratan kesehatan masyarakat.
Kegiatan hari pertama diakhiri dengan wrap up, penyampaian masukan dan evaluasi dari masing-masing fasilitator, dan hasil observasi dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI.
Reporter: dr. Alif Indira Larasati.
Hari 2
Masih bertempat di ruang kelas FFM Unhan RI, kelas diawali dengan penyampaian serangkaian materi. Materi dimulai dengan konsep mengenai koordinasi respon kegawatdaruratan kesehatan, peran dukungan global untuk kesiapsiagaan negara. Di dalam materi ini dijabarkan mengenai badan-badan dan organisasi dunia yang terhubung dalam jaringan kegawatdaruratan kesehatan masyarakat, perannya, dan bagaimana keterlibatan dan inisiatif yang telah dilakukan Indonesia dalam melakukan kesiapsiagaan. Dalam materi ini dibahas pula peran EMT berdasarkan buku biru WHO dalam membantu penanggulangan bencana kesehatan masyarakat, serta mekanisme koordinasi yang ada di tingkat ASEAN (One ASEAN One Response). Sebagai tambahan, disampaikan pula inisiatif program EMT yang ada di Indonesia. Disampaikan juga materi mengenai surveilans bencana dan bagaimana hal tersebut dilakukan, poin apa yang penting didapatkan, serta alat yang bisa digunakan berdasarkan pedoman WHO.

Materi kemudian dilanjutkan dengan konsep mengenai kerjasama sipil dan militer dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan, baik berdasarkan konsep di tingkat dunia dan di Indonesia, serta implementasi yang pernah dilaksanakan di Indonesia. Pemateri juga menyampaikan mengenai konsep biosecurity, bio-defense, dan bio-intelligence yang erat kaitannya dengan kegawatdaruratan kesehatan masyarakat. Peran pentahelix sangat penting dalam upaya mencapai ketahanan biologi. Dikenal pula 4 prinsip Bio-risk antara lain, bekerja berdasarkan standar, universalitas, bekerja dengan mengenal batas-batas, dan eliminasi. Terakhir, rangkaian materi ditutup dengan perencanaan pemulihan dalam konsep siklus bencana. Ditekankan bahwa pemulihan harus dipikirkan sejak dini, bahkan sejak fase respon, dan berjalan berdampingan dengan fase tersebut, agar operasi yang dilaksanakan dapat tepat sasaran dan tepat guna, efektif dan efisien.
Selepas istirahat siang, pelatihan kembali dilanjutkan dengan table-top exercise dengan susunan kelompok yang berbeda namun tetap mengangkat kasus yang sama dengan eskalasi yang mengakibatkan penanganan menjadi lebih menantang. Simulasi membahas mengenai bagaimana pentingnya memiliki data dasar untuk memahami profil daerah dan mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, serta strategi komunikasi untuk kelompok sasaran yang berbeda (di dalam simulasi dilakukan pembagian sasaran untuk masyarakat umum, kelompok dengan kebutuhan khusus, tenaga kesehatan, dan militer). Di akhir sesi simulasi, dilakukan penyampaian kesan, pesan, dan masukan untuk penyelenggaraan kegiatan dan perbaikan yang dapat dilakukan ke depan.

Setelah selesai pelatihan, dilaksanakan acara penutupan secara seremonial di Aula Utama Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan RI. Dalam kegiatan ini turut hadir jajaran civitas akademik dari Fakultas Farmasi Militer dan Fakultas Kedokteran Militer Unhan RI, serta perwakilan dari FKM Universitas Indonesia. Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, MS. menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi baik bagi para pihak penyelenggara, fasilitator, dan peserta yang telah melaksanakan kegiatan secara baik dan sukses. Dr. Maya dari perwakilan fasilitator juga menyampaikan bagaimana proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan harapannya program dapat berlanjut dan dikembangkan serta diimplementasikan. Dilakukan pula penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta pelatihan.
Dari kegiatan ini, peserta dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kegawatdaruratan kesehatan masyarakat, berjejaring dan saling bertukar pikiran mengenai bagaimana pengalaman penanganan kasus kegawatdaruratan kesehatan masyarakat di Indonesia (baik dari sisi militer dan sipil), serta berjejaring dengan berbagai pihak yang hadir di dalam acara. Penulis bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan berharap dapat membantu menyebarluaskan ilmu yang telah didapatkan, serta mengimplementasikan di Indonesia untuk membantu meningkatkan kesiapsiagaan terutama untuk kasus kesehatan masyarakat.
Reporter: dr. Alif Indira Larasati (PKMK UGM)