
Hospital Disaster Plan sangat penting untuk dimiliki oleh setiap rumah sakit. Hal ini mengingat rumah sakit sebagai tempat rujukan bagi korban bencana, sehingga harus mampu menjadi tempat yang aman dan layak untuk bagi korban bencana. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan kegiatan “Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanganan Bencana” di Rumah Sakit. Acara ini berlangsung di Hotel Grand Ambarrukmo Yogyakarta. Terdapat 2 materi yang dipaparkan pada hari pertama. Materi pertama disampaikan oleh Susy Runtiawati, SE, MM mengenai “Strategi Penyiapan Hospital Disaster Plan di Rumah Sakit” sebagai perwakilan dari PERSI Yogyakarta. Selanjutnya materi disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD tentang “Overview Hospital Disaster Plan”. Sebelum pemberian materi dilakukan pre test untuk mengetahui kemampuan setiap pengetahuan peserta terkait meteri Bimtek. Pada hari kedua, proses bimtek tidak hanya diwarnai dengan penyampaian materi, proses diskusi melalui kasus-kasus dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk mendiskusikan kasus-kasus terkait dengan meteri yang disampaikan. Terdapat 5 materi yang disampaikan yang terdiri dari analisis risiko bencana dan krisis kesehatan di rumah sakit, logistik medik dan fasilitas, komponen Hospital Disaster Plan, konsep pengorganisasian kebencanaan di rumah sakit, dan penyusunan draft Hospital Disaster Plan. para perserta berpartisipasi aktif dalam proses diskusi yang dilakukan. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()


Kelaparan dan kemiskinan merupakan salah satu komitmen dari Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini tercantum dalam goal kedua SDGs yaitu komitmen dalam mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan meningkatkan nutrisi, serta mempromosikan agrikultural yang berkelanjutan. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai hingga 2030. Evaluasi terus dilakukan setiap tahunnya dalam melihat peerkembangan setiap negara di dunia. Global Hunger Index (GHI) pada 2016 dipublikasikan bersama oleh International Food Policy Research Institute (IFPRI), Concern Worldwide, dan Welthungerhilfe (WHH). Terdapat 4 indikator yang digunakan dalam menentukan level GHI suatu negara. Indikator pertama yaitu proporsi orang yang kurang gizi akan memberikan gambaran tentang asupan kalori yang tidak mencukupi di suatu negara. Indikator selanjutnya adalah proporsi anak yang dibuang. Umumnya mereka memiliki berat badan yang rendah disbanding tinggi badannya. Hal ini memcerminkan suatu kekurangan gizi akut. Indikator ketiga yaitu proporsi anak kerdil, hal ini menggambarkan tentang kekurangan gizi kronis. Indikator terakhir yaitu kematian anak. Pada indikator ini akan memperlihatkan tentang perpaduan gizi yang tidak memadai dengan lingkungan yang tidak sehat.