logo

ugm-logo

Reportase Hari 1

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Teknis Penanggulangan Bencana

Selasa-Rabu 28-29 November 2017


29 pelatihan skill petugas 1 

Dok. PKMK: Sesi Pembukaan

Selasa, 28 November 2017. PKMK dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menggelar pelatihan peningkatan kapasitas teknis penanggulangan bencana pada 28-29 November 2017. Peserta dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dan puskesmas-puskesmas yang ada di wilayah kerja Bantul hadir dalam pelatihan peningkatan kapasitas ini. Berdasarkan TOR yang disusun oleh Dinas Kesehatan Bantul bahwa melalui penelitian ini diharapkan baik SDM yang ada di Dinas dan puskesmas dapat mempersiapkan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan untuk wilayah Bantul.

Berikut daftar puskesmas yang hadir, Puskesmas Banguntapan 2, Puskesmas Pleret, Puskesmas Dlingo I, Puskesmas Piyungan, Puskesmas Imogiri I, Puskesmas Srandakan, Puskesmas Pundong, Puskesmas Sewon, dan Puskesmas Sanden. Sedangkan dari Dinas Kesehatan hadir bukan hanyadari Bagian Pelayanan dasar, rujukan, bencana melainkan juga bagian farmasi dan TRC.

Sambutan pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang merupakan Kepala Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM. dr. Bella menyambut baik upaya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul untuk memfasilitasi fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya untuk peningkatan kapasitas dalam penanggulangan bencana, dalam hal ini puskesmas. Hal ini sesuai dengan amanah Permenkes No. 64 Tahun 2013, dan kami (PKMK) yang mendorong hal ini terjadi, tentunya sangat senang sekali, ungkap Bella.

Sambutan sekaligus pembukaan disampaikan oleh Endah Wahyuni, SKM, MPH mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Endah menceritakan sedikit tentang pengalaman Bantul menghadapi bencana gempa 2006 silam. Dinas merasa, saat ini banyak sekali perubahan yang terjadi baik perkembangan sarana prasarana, kebijakan, dan perubahan SDM kesehatan juga. Untuk itulah diperlukan penyegaran kembali untuk SDM kesehatan baik di dinas maupun puskesmas. Itulah yang menjadi latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini. Rencananya, upaya peningkatan kapasitas SDM seperti ini akan dilaksanakan bertahap mulai tahun ini. berikutnya, mungkin akan lebih diarahkan untuk kesiapsiagaan puskesmas.

Kegiatan selama dua hari yang mana hari pertama fokus ke materi dan diskusi dan hari kedua fokus untuk penugasan. Materi yang diberikan meliputi Pendekatan Klaster Kesehatan dan Emergency Medical Team (EMT), Medical Support, logistik medik, public health emergency, dan radio medik. Materi-materi ini merupakan bekal pengetahuan mengenai kebijakan, pedoman, dan prinsip dalam perencaaan penanggulangan bencana ditingkat daerah.

29 pelatihan skill petugas 2

Dok. PKMK: Sesi 1 dan 2 oleh dr. Bella Donna

Dua materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes tentang pendekatan klaster, EMT, dan medical support. Pendekatan klaster mulai diterapkan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Klaster kesehatan merupakan salah satu klaster dalam penanggulangan bencana di Indonesia, selain klaster pendidikan dan klaster lainnya. Di tingkat nasional, tentunya klaster kesehatan ini dikomandani oleh Kementerian Kesehatan, kemudian turun ke daerah oleh Dinas Kesehatan. Dalam klaster kesehatan ada sub-sub klaster diantaranya sub klaster pelayanan kesehatan, sub klaster logistic, sub klaster gizi, sub klaster kesehatan reproduksi dan lainnya. Ada banyak peluang dan tantangan dalam penerapan sistem klaster ini, dan memang ini bukan barang baru, selama ini kita sudah menggunakan sistem klaster dalam penanggulangan bencana di sektor kesehatan tetapi mungkin belum terstruktur dengan baik. Dengan pendekatan klaster ini maka akan lebih mudah bagi dinas kesehatan atau puskesmas untuk mengantifkan sub-sub klaster ini.

Begitu dengan EMT. Di Indonesia sebenarnya konsep EMT sudah diterapkan dengan nama-nama yang berbeda. Misalnya, Bantul sudah punya BES atau Bantul Emergency Service. EMT saat ini diharapkan dimiliki oleh masing-masing fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. tipe EMT sendiri tergantung dari kebutuhan dan tujuan dibentuknya.

Materi kemudian dilanjutkan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK yang mengisi tentang logistik medik. Peran logistik sangat penting dalam penanggulangan bencana. Hal ini harapannya sudah dibahas sejak masa pra bencana, disiapkan, dan direncakan bagaimana penggunaannya. Termasuk masing-masing fasilitas menyiapkan dan mengidentifikasi apa saja kebutuhan logistik medis yang dibutuhkan sesuai dengan ancaman bencana dan upaya penanganan yang diberikan.

Usai istirahat siang, materi tentang kegawatdaruratan di masyarakat atau Public Health Emergency disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD. Public health emergency sebenarnya konsep dalam penerapan upaya penanggulangan bencana di tingkat dinas kesehatan dan puskesmas. Ada pertanyaan menarik dari peserta mengenai apa yang harus ditulis dalam dokumen rencana. dr. Hendro menjawab bahwa terapkan 11 prinsif dari Public health emergency diantaranya melakukan analisis risiko dan membentuk incident command system.

Materi terakhir diisi oleh Sekretaris 2 RAPI Nasional, Agus Subekti yang tidak menjelaskan, tapi peserta juga diajak melakukan simulasi penggunaan radio Handy Talkie (HT). Kasus yang dikembangkan tentang bencana yang menimpa di beberapa titik kejadian sehingga membutuhkan koordinasi dari beberapa puskesmas ke dinas kesehatan. Agus menjelaskan mengenai frekuensi yang ada di daerah serta bagaimana penggunaannya. Peserta mencoba satu per satu.

29 pelatihan skill petugas 3

Dok. PKMK: Sesi simulasi penggunaan Radio HT